Rabu, 22 Januari 2020

Sub bab 1 konsep dasar linguistik, hakikat morfologi, dan objek kajian



A. KONSEP DASAR LINGUISTIK
            Linguistik menurut kbbi adalah (n) ilmu tentang bahasa, (n) telaah bahasa secara ilmiah. Menurut Matthews dalam Muslich (2008), linguistik adalah suatu studi ilmiah atau ilmu bahasa yang mempelajari tentang bahasa. Jadi yang menjadi objek kajian ilmu linguistik adalah bahasa.  Bentuk linguistik merupakan satuan-satuan ucapan yang diikuti dengan arti. Dalam bentuk linguistik dapat ditemui 2 tipe, yakni bentuk yang sama dan bentuk yang berbeda. Bentuk sama, apabila satuan ucapan sama atau mirip dan memiliki kemiripan arti. Bentuk berbeda, apabila satuan ucapan sama tetapi memiliki makna yang berbeda.
            Fungsi bentuk linguistic adalah untuk membedakan makna dan memudahkan orang lain mengerti dan memahami bahasa beserta makna. Linguistik adalah studi yang didasarkan pada sebuah realita, dimana obyek yang dikaji meliputi objek materia dan objek forma. Prinsip dasar studi linguistik mengobyekkan obyek materia sebagai bahasa lisan. Objek material itu sendiri meliputi  beberapa prinsip-prinsip penelitian, yang diantaranya adalah natural. Yang dimaksud natural disini adalah bukan hasil rekayasa dalam berbagai kepentingan atau dapat dikatakan linguistik mendatakan hasil penelitian berdasarkan fakta. Yang kedua yaitu deskripsi, maksudnya data harus diberikan sebagaimana adanya. Deskripsi yang baik adalah deskripsi data yang diberikan oleh peneliti mampu membuat pembaca percaya dengan apa yang ia diskripsikan.
            Selain itu, diluar natural dan deskripsi ada studi linguistik yang bersifat preskriptif. Dalam prinsip ini, penelitian didasarkan atas kaidah /teori yang dibawa oleh peneliti, sehingga penelitian tersebut dikaji atas dasar teori  pikiran yang ada pada peneliti. Akan tetapi, Linguistik adalal ilmu pengetahuan deskriptif, bukan preskriptif. Tugas utama dari seorang linguis adalah menggambarkan (describe) bagaimana sebenarnya orang-orang memakai bahasa mereka untuk berbicara maupun menulis tidak menetapkan (prescribe) bagaimana seharusnya mereka berbicara dan menulis (john L. 1995:43). Jadi dapat dikatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang empiris, yaitu ilmu yang berdasarkan  pada fakta dan data yang dapat diuji oleh ahli tertentu dan juga oleh semua ahli lainnya.
B. HAKIKAT MORFOLOGI
            Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.
            Kata Morfologi berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos berarti ilmu. Bunyi [o] yang terdapat diantara morphed an logos ialah bunyi yang biasa muncul diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna unsur-unsur pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk.
            Morfologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari tentang seluk beluk bentuk kata (struktur kata) menurut Zaenal Arifin dan Juaiyah dalam bukunya “Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi.Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Sedangkan menurut J. W. M. Verhaar dalama bukunya “Asas-asas Linguistik Umum”. Jadi morfologi adalah ilmu yang membahas tentang bentuk kata, di dalam nya terdapat pembentukan kata, perubahan bentuk kata, alat pembentuk kata, hasil pembentukan kata, dan makna gramatikal.  Makna gramatikal yaitu makna yang disebabkan proses pembentukan kata. Makna leksikal yaitu makna kata belum ada pembentukan.
                           
            Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
            Itulah sebabnya, dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.
C. OBJEK KAJIAN MORFOLOGI
            Morfologi berasal dari kata dalam bahasa Inggris morphology. Kata morphology sendiri berakar dari kata morph yang berarti ‘bentuk’ dan logy yang berarti ‘ilmu’. Secara sederhana morfologi diartikan sebagai ilmu tentang bentuk. Selanjutnya dalam konteks linguistik, morfologi adalah salah satu cabang linguistik yang mengkaji morfem dan kata.
            Morfem dan kata merupakan satuan kebahasaan yang menjadi objek kajian morfologi. Dalam linguistik dikenal sepuluh satuan kebahasaan yaitu fona/bunyi, fonem, silabel/suku kata, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Dengan demikian posisi objek kajian morfologi (morfem dan kata) adalah di atas silabel dan di bawah frasa. Sementara itu, morfologi sebagai salah satu cabang linguistik yang mengkaji morfem dan kata memiliki posisi di atas fonemik dan di bawah sintaksis. Objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi, proses-proses morfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi. Satuan morfologi adalah :
1.     Morfem (akar & afiks)
2.     Kata

A.  Morfem : satuan gramatikla terkecil yang memiliki makna (Chaer 2008:13)
            Yaitu satuan gramatikal terkecil yang bermakna. Morfem terdiri dari morfem akar (dasar) dan morfem afiks. Morfem akar dapat menjadi dasar pembentukan kata sedangkan afiks tidak. Akar memiliki makna leksikal, sedangkan afiks memiliki makna gramatikal.
Bisa jadi penyebab makna gramtikal karena terkena imbuhan dasar (akar dan afiks)
Contoh:berpakaian dapat di analisis kedalam satuan satuan terkecil menjadi
            :{ber} {pakai} {an}
            : morfem {ber} dan {an} memiliki makna gramatikal sedanglan,
            : morfem {pakai} memiliki makna leksikal. (Chaer 2008:13)

B.  Kata    : satuan gramatikal
            Yaitu satuan gramatikal yang terjadi sebagai hasil dari proses morfologis. Dalam morfologi, kata merupakan satuan terbesar sedangkan dalam sintaksis kata merupakan satuan terkecil.
       
Komponen Pembentuk Kata :
1. Dasar (leksikal) :
            Bentuk dasar ialah bentuk yang kepadanya dilakukan proses morfologi itu. Bentuk dasar itu dapat berupa akar seperti baca, pahat, dan juang.(Chaer 2008:26)
jadi dasar itu bentuk terkecil yang tidak bisa dipilah kembali.

2. Alat Pembentuk ( afiks, duplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi)
a. Afiksasi
            Alat pembentuk pertama adalah afuksasi. Dalam proses afiksasi sebuah afiks diimbuhkan pada bentuk dasar sehingga hasilnya menjadi sebuah kata. Umpamanya pada dasar baca diimbuhkan afiks me- sehingga menghasilkan kata membaca yaitu sebuah verba transitif aktif, pada dasar juang diimbuhkan afiks ber- sehingga menghasilkan verba intransitif berjuang. (Chaer 2008:27)
b. Duplikasi
            Alat pembentuk kedua adalah pengulangan bentuk dasar yang digunakan dalam proses reduplikasi ini lazim disebut dengan istilah kata ulang. Secara umum dikenal dengan 3 macam pengulangan yaitu pengulangan secara utuh , pengulangan dengan pengubahan bunyi vocal maupun konsonan, dan pengulangan sebagian. (Chaer 2008:28)
c. Komposisi
            Alat pembentuk ketiga adalah penggabungan sebuah bentuk pada dasar yang ada dalam proses komposisi. Penggabungan ini juga menrupakan alat yang banyak digunakan dalam pembentukan kata karena banyaknya konsep yang belum ada wadahnya dalam bentuk sebuah kata. Misalnya bahasa indonesia hanya punya sebuah kata untuk berbagai macam warna merah. Oleh karena itulah dibentuk gabungan kata seperti merah jambu, merah darah, dan merah bata. ( Chaer 2008:28)
c. Akrominasi
            Alat pembentuk keempat adalah abreviasi khusus yang digunakan dalam proses akronomisasi. Disebut abreviasi khusus karena semua abreviasi menghasilkan akronim. Abreviasi dari bentuk Sekolah Menengah Atas menjadi SMA adalah bukan akronim tetapi hasil abreviasi dari Jakarta Bogor Ciawi menjadi Jagorawi adalah akronim (Chaer 2008:28)
d. Konversi
            Alat kelima dalam pembentukan kata adalah pengubahan status dalam proses yang disebut konversi. Misalnya, benruk gunting yang berstatus verba, seperti dalam kalimat “gunting dulu baik-baik nanti baru dilem” (Chaer 2008:28)







































DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2008.Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses).Jakarta: Rineka Cipta
Arifin, Zaenal, dan Junaiyah. 2010. Morfologi, Bentuk, Makna dan Fungsi.
http://ghendisjawa.blogspot.com/2018/01/hakikat-dan-objek-kajian-morfologi.html?m=1
http://pendyrafadigital.blogspot.com/2017/10/makalah-morfologi-bahasa-indonesia.html?m=1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar