A. KONSEP DASAR LINGUISTIK
Linguistik
menurut kbbi adalah (n) ilmu tentang bahasa, (n) telaah bahasa secara ilmiah.
Menurut Matthews dalam Muslich (2008), linguistik adalah suatu studi ilmiah
atau ilmu bahasa yang mempelajari tentang bahasa. Jadi yang menjadi objek
kajian ilmu linguistik adalah bahasa.
Bentuk linguistik merupakan satuan-satuan ucapan yang diikuti dengan
arti. Dalam bentuk linguistik dapat ditemui 2 tipe, yakni bentuk yang sama dan
bentuk yang berbeda. Bentuk sama, apabila satuan ucapan sama atau mirip dan
memiliki kemiripan arti. Bentuk berbeda, apabila satuan ucapan sama tetapi
memiliki makna yang berbeda.
Fungsi bentuk
linguistic adalah untuk membedakan makna dan memudahkan orang lain mengerti dan
memahami bahasa beserta makna. Linguistik adalah studi yang didasarkan pada
sebuah realita, dimana obyek yang dikaji meliputi objek materia dan objek
forma. Prinsip dasar studi linguistik mengobyekkan obyek materia sebagai bahasa
lisan. Objek material itu sendiri meliputi
beberapa prinsip-prinsip penelitian, yang diantaranya adalah natural.
Yang dimaksud natural disini adalah bukan hasil rekayasa dalam berbagai
kepentingan atau dapat dikatakan linguistik mendatakan hasil penelitian
berdasarkan fakta. Yang kedua yaitu deskripsi, maksudnya data harus diberikan
sebagaimana adanya. Deskripsi yang baik adalah deskripsi data yang diberikan
oleh peneliti mampu membuat pembaca percaya dengan apa yang ia diskripsikan.
Selain itu,
diluar natural dan deskripsi ada studi linguistik yang bersifat preskriptif.
Dalam prinsip ini, penelitian didasarkan atas kaidah /teori yang dibawa oleh
peneliti, sehingga penelitian tersebut dikaji atas dasar teori pikiran yang ada pada peneliti. Akan tetapi,
Linguistik adalal ilmu pengetahuan deskriptif, bukan preskriptif. Tugas utama
dari seorang linguis adalah menggambarkan (describe) bagaimana sebenarnya
orang-orang memakai bahasa mereka untuk berbicara maupun menulis tidak
menetapkan (prescribe) bagaimana seharusnya mereka berbicara dan menulis (john
L. 1995:43). Jadi dapat dikatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang empiris,
yaitu ilmu yang berdasarkan pada fakta
dan data yang dapat diuji oleh ahli tertentu dan juga oleh semua ahli lainnya.
B. HAKIKAT MORFOLOGI
Morfologi adalah
cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai
satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh
perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan
kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata
serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun
fungsi semantik.
Kata Morfologi
berasal dari kata morphologie. Kata morphologie berasal dari bahasa Yunani
morphe yang digabungkan dengan logos. Morphe berarti bentuk dan dan logos
berarti ilmu. Bunyi [o] yang terdapat diantara morphed an logos ialah bunyi
yang biasa muncul diantara dua kata yang digabungkan. Jadi, berdasarkan makna
unsur-unsur pembentukannya itu, kata morfologi berarti ilmu tentang bentuk.
Morfologi adalah ilmu bahasa yang mempelajari tentang
seluk beluk bentuk kata (struktur kata) menurut Zaenal Arifin dan Juaiyah dalam
bukunya “Morfologi: Bentuk, Makna, dan Fungsi.Morfologi adalah cabang
linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan
gramatikal. Sedangkan menurut J. W. M. Verhaar dalama bukunya “Asas-asas
Linguistik Umum”. Jadi morfologi adalah ilmu yang membahas tentang bentuk kata,
di dalam nya terdapat pembentukan kata, perubahan bentuk kata, alat pembentuk
kata, hasil pembentukan kata, dan makna gramatikal. Makna gramatikal yaitu makna yang disebabkan
proses pembentukan kata. Makna leksikal yaitu makna kata belum ada pembentukan.
Dalam kaitannya
dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain
itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas
kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan
dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam
morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Itulah sebabnya,
dikatakan bahwa morfologi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk kata
(struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna
(arti) dan kelas kata.
C. OBJEK KAJIAN MORFOLOGI
Morfologi berasal
dari kata dalam bahasa Inggris morphology. Kata morphology sendiri berakar dari
kata morph yang berarti ‘bentuk’ dan logy yang berarti ‘ilmu’. Secara sederhana
morfologi diartikan sebagai ilmu tentang bentuk. Selanjutnya dalam konteks
linguistik, morfologi adalah salah satu cabang linguistik yang mengkaji morfem
dan kata.
Morfem dan kata
merupakan satuan kebahasaan yang menjadi objek kajian morfologi. Dalam
linguistik dikenal sepuluh satuan kebahasaan yaitu fona/bunyi, fonem,
silabel/suku kata, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana.
Dengan demikian posisi objek kajian morfologi (morfem dan kata) adalah di atas
silabel dan di bawah frasa. Sementara itu, morfologi sebagai salah satu cabang
linguistik yang mengkaji morfem dan kata memiliki posisi di atas fonemik dan di
bawah sintaksis. Objek kajian morfologi adalah satuan-satuan morfologi,
proses-proses morfologi, dan alat-alat dalam proses morfologi. Satuan
morfologi adalah :
1. Morfem (akar & afiks)
2. Kata
A. Morfem : satuan gramatikla terkecil yang
memiliki makna (Chaer 2008:13)
Yaitu satuan gramatikal terkecil
yang bermakna. Morfem terdiri dari morfem akar (dasar) dan morfem afiks. Morfem
akar dapat menjadi dasar pembentukan kata sedangkan afiks tidak. Akar memiliki
makna leksikal, sedangkan afiks memiliki makna gramatikal.
Bisa
jadi penyebab makna gramtikal karena terkena imbuhan dasar (akar dan afiks)
Contoh:berpakaian dapat di analisis kedalam satuan satuan terkecil menjadi
:{ber} {pakai} {an}
: morfem {ber} dan {an} memiliki makna gramatikal sedanglan,
: morfem {pakai} memiliki makna leksikal. (Chaer 2008:13)
:{ber} {pakai} {an}
: morfem {ber} dan {an} memiliki makna gramatikal sedanglan,
: morfem {pakai} memiliki makna leksikal. (Chaer 2008:13)
B. Kata
: satuan gramatikal
Yaitu satuan gramatikal yang terjadi sebagai hasil dari
proses morfologis. Dalam morfologi, kata merupakan satuan terbesar sedangkan
dalam sintaksis kata merupakan satuan terkecil.
Komponen Pembentuk Kata :
1. Dasar (leksikal) :
Bentuk dasar ialah bentuk yang kepadanya dilakukan proses
morfologi itu. Bentuk dasar itu dapat berupa akar seperti baca, pahat, dan
juang.(Chaer 2008:26)
jadi dasar itu bentuk terkecil yang tidak bisa dipilah kembali.
jadi dasar itu bentuk terkecil yang tidak bisa dipilah kembali.
2. Alat Pembentuk ( afiks, duplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi)
a. Afiksasi
Alat pembentuk pertama adalah afuksasi. Dalam proses
afiksasi sebuah afiks diimbuhkan pada bentuk dasar sehingga hasilnya menjadi
sebuah kata. Umpamanya pada dasar baca diimbuhkan afiks me- sehingga
menghasilkan kata membaca yaitu sebuah verba transitif aktif, pada dasar juang
diimbuhkan afiks ber- sehingga menghasilkan verba intransitif berjuang. (Chaer
2008:27)
b. Duplikasi
Alat pembentuk kedua adalah pengulangan bentuk dasar yang
digunakan dalam proses reduplikasi ini lazim disebut dengan istilah kata ulang.
Secara umum dikenal dengan 3 macam pengulangan yaitu pengulangan secara utuh ,
pengulangan dengan pengubahan bunyi vocal maupun konsonan, dan pengulangan
sebagian. (Chaer 2008:28)
c. Komposisi
Alat pembentuk ketiga adalah penggabungan sebuah bentuk
pada dasar yang ada dalam proses komposisi. Penggabungan ini juga menrupakan
alat yang banyak digunakan dalam pembentukan kata karena banyaknya konsep yang
belum ada wadahnya dalam bentuk sebuah kata. Misalnya bahasa indonesia hanya
punya sebuah kata untuk berbagai macam warna merah. Oleh karena itulah dibentuk
gabungan kata seperti merah jambu, merah darah, dan merah bata. ( Chaer
2008:28)
c. Akrominasi
Alat pembentuk keempat adalah abreviasi khusus yang
digunakan dalam proses akronomisasi. Disebut abreviasi khusus karena semua
abreviasi menghasilkan akronim. Abreviasi dari bentuk Sekolah Menengah Atas
menjadi SMA adalah bukan akronim tetapi hasil abreviasi dari Jakarta Bogor
Ciawi menjadi Jagorawi adalah akronim (Chaer 2008:28)
d. Konversi
Alat kelima dalam pembentukan kata adalah pengubahan
status dalam proses yang disebut konversi. Misalnya, benruk gunting yang
berstatus verba, seperti dalam kalimat “gunting dulu baik-baik nanti baru
dilem” (Chaer 2008:28)
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2008.Morfologi Bahasa
Indonesia (Pendekatan Proses).Jakarta: Rineka Cipta
Arifin, Zaenal, dan Junaiyah. 2010.
Morfologi, Bentuk, Makna dan Fungsi.
http://ghendisjawa.blogspot.com/2018/01/hakikat-dan-objek-kajian-morfologi.html?m=1
http://pendyrafadigital.blogspot.com/2017/10/makalah-morfologi-bahasa-indonesia.html?m=1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar