A. Arti morfem imbuhan
Sebenarnya
pembicaraan masalah arti morfem imbuhan ini tidak dapat dipisahkan dengan
fungsi morfem itu sendiri. Yang dimaksud dengan arti pada pembicaraan ini
bukanlah arti suatu kata yang terdapat dalam kamus, arti leksikal tetapi arti
sebagai akibat bergabungnya morfem satu dengan lainnya, arti structural atau
arti gramatikal.Misalnya :
Kata
kuda yaitu “binatang berkaki empat, biasanya dipakai untuk mrnggeret kereta
atau dokar”, tidak akan dibicarakan disini tetapi yg dibicarakan adalah kata
kuda mendapatkan imbuhan {ber-} sehingga menjadi berkuda dan berubah makna
menjadi “mengendarai kuda”.
Morfem-morfem yang imbuhan yang
terdapat dalam bahasa Indonesia.
1. Morfem imbuhan {meN-}
a. Melakukan tindakan seperti yang tersebut
pada bentuk dasar :
Mengambil “melakukan tindakan ambil”
Menjual “melakukan tindakan jual”
b. Menjadi seperi tersebut dalam bentuk
dasar ‘atau’ dalam keadaan seperti bentuk dasar.
Melarut “menjadi / dalam keadaan
larut”
Menurun “menjadi / dalam keadaan turun”
c. Membuat kesan seperti pada bentuk dasar
dengan sengaja.
Mengalah “membuat kesan kalah dengan
sengaja”
Membisu “membuat kesan bisu dengan sengaja”
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata benda, imbuhan {meN-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut
:
a. Pergi ke … atau menuju ke… misalnya
Mendarat “menuju ke darat”
Melaut “menuju ke laut”
b. ‘mencari’ atau ‘mengumpulkan’ misalnya:
Mencari “mencari mengumpulkan rumput”
Merotan “mencari mengumpuklan rotan”
c. ‘Menjadi sebagaimana yang disebut pada
bentuk dasar’:
Membuah “menjadi buah”
Membisu “menjadi bisu”
d. ‘membubuhkan apa yang tersebut pada
bentuk dasar’:
Mencap “membubuhkan cap”
Mencat
“membubuhkan cap”
e. ‘membuat apa yang tersebut padabentuk
dasar’ misalnya:
Menyate “membuat sate”
f. ‘berlaku seperti yang disebut pada
bentuk dasar’ misalnya:
Merajalela “berlaku seperti rajalela”
g. ‘melakukan tindakan dengan alat seperti
bentuk dasar’ misalnya :
Menyabit “menggunakan sabit”
h. ‘meminum atau menghisap seperti yang
tersebut pada bentuk dasar’ misalnya:
Mengopi “meminum kopi”
Merokok “menghisap rokok”
i. ‘menyerupai seperti bentuk dasar’ :
Menyemut “menyerupai semut”
Membukit “menyerupai bukit”
j. ‘dalam keadaan berfungsi sebagai bentuk
dasar’ :
Menjanda “dalam keadaan berfungsi
sebagai janda”
Menduda “dalam eadaan berfungsi
sebagai duda”
k. ‘Mengeluarkan bunyi seperti bentuk dasar’
:
Mengeong “mengeluarkan bunyi ngeong”
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata sifat, imbuhan {meN-} mempunyai arti seperti berikut ini :
a. ‘menjadi seperti bentuk dasar dengan
sendirinya’:
Menguning (padi) “menjadi kuning dengan sendirinya”
Memutih (rambut) “menjadi putih dengan sendirinya”
Membusuk (borok) “menjadi busuk dengan sendirinya”
b. ‘menimbulkan kesan seperti bentuk dasar’:
Memanjang “menimbulkan kesan panjang”
Memutih “menimbulkan kesan putih
Merendah hati “menimbulkan kesan rendah hati”.
2. Morfem imbuhan {ber-}
Bentuk dasar yang dapat bergabung
dengan imbuhan {ber-} dapat dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu berkelas
kata kerja, benda, sifat (adjektiva)ndan bilangan (numeralia).
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata kerja, maka imbuhan {ber-} mempunyai arti sebagai berikut :
a. “ dalam keadaan seperti bentuk dasar” :
Berada ‘dalam keadaan ada’
Berkembang ‘ dalam keadaan (meng) kembang’
b. “menjadi seperti bentuk dasar” :
Berubah ‘menjadi ubah ‘
c. “melakukan menjadi bentuk dasar “
Bekerja ‘melakukan kegiatan kerja ‘
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata benda imbuhan {ber-} mempunyai
beberapa kemungkinan arti sebagai berikut :
a. Memakai atau mengenakan , misalnya
Bersepatu ‘memakai atau mengenakan sepatu’
b. Mempunyai apa yang tersebut pada bentuk
dasarnya, misalnya :
Bersuami ‘mempunyai suami ‘
c. Mengeluarkan misalnya,
Berdarah ‘mengeluarkan darah ‘
d. Mengerjakan atau menggarap misalnya,
Bersawah ‘mengerjakan atau menggarap
sawah’
e. Mengendarahi atau memprgunakan misalnya
:
Berkuda ‘mengendarahi kuda’
f. Bermain seperti bentuk dasar , misalnya
:
Bertinju ‘bermain tinju’
3. Morfem imbuhan {di-}
Artinya imbuhan {di-} hanya satu
yaitu , ‘menyatakan suatu tindakan yanag pasif, misalnya:
· Diambil
· Diangkat
· Disiram
· Dibayar
4. Morfem imbuhan {ter-}
Artinya bentuk dasar yang dapat
bergandeng dengan imbuhan ter adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja ,
kata sifat, dan kata benda. Bila berawalan {ter-} melekat pada sebuah kelas
kata benda maka yang timbul adalah sebagai berikut.
a. ‘ tak sengaja di ( seperti bentuk dasar
) :
Tercangkul ‘tak sengaja dicangkul’
b. Dapat di ( seperti bentuk dasar ) kan/I :
Tergambar ‘dapat digambarkan’
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata kerja maka imbuhan {ter-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut.
a. ‘menyatakan bahwa pekerjaan yang
dilakukan tidak disengaja, misalnya :
· Tersentuh
· Tertiup
· Tergeret
· Terganggu
b. Dapat atau sanggup misalnya :
Terangkat ‘dalam kalimat meskipun berat,
batu itu terangkat juga’
c. Menyatakan bahwa pekerjaan sudah selesi
(perfektif) misalnya:
Tertulis ‘dalam kalimat pendapat dia
tertulis dirumusan hasil seminar’
d. Ketiba-tibaan misalnya,
Terbangun ‘dalam kalimat ia terbangun karena
suara yang menggelegar itu’
5. Arti imbuan morfem {peN-} sangat
ditentukan oleh kelas kata bentuk dasarnya. Apabila bentuk katanya berkelas
kata kerja maka {peN-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut :
a. Menyatakan ‘orang yang (biasa)
melakuakan pekerjaan yang sebut pada bentuk dasar misalnya : pengarang ‘orang
yang (biasa) melakauakn mengarang’.
b. Menyatakan ‘alat yang dipakai untuk
melakaukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya : penggaris ‘alat
untuk menggaris’
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata sifat maka imbuhan {peN-} mempunyai arti sebagai berikut :
a. Menyatakan ‘ yang memiliki sifat yang
tersebut pada bentuk dasar ‘ misalnya :
Periang ‘yang mempunyai sifat riang’
b. Menyatakan ‘yang menyebabkan adanya sifat
yang tersebut pada bentuk dasar misalnya :
Pengeras ‘yang menyebabkan jadi keras atau
yang mengeraskan.
c. Orang yang mudah cepat / menjadi seperti
tersebut dalam bentuk dasar. Misalnya:
Pemarah ‘orang yang mudah menjadi marah’
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata benda, maka imbuhan {peN-}
mempunyai arti ‘ yang biasa melakuakan tindakan / pekerjaan yang berhubungan
denagn benda yang tersebut pada bentuk dasarnya’. Misalnya :
Pelaut ‘ orang yang biasa melaut’
Perokok ‘orang yang biasa merokok’
6. Morfem imbuhan {pe-}
Pada penggalan terdahulu telah
dijelaskan bahwa morfem imbuhan {pe-} mempunyai kesejajaran dengan morfem
imbuhan {ber-}, sedangkan morfem imbuhan {peN-} mempunyai kesejajaran dengan
morfem imbuhan {meN-}. Pernyataan itu dapat dibuktikan dengan deretan contoh
berikut, misalnya :
Pelari ‘orang yang berlari’
Petani ‘orang yang bertani’
Bandingkan dengan :
Penulis ‘orang yang menulis’
Pembaca ‘orang yang membaca’
7. Morfem imbuhan {per-} misalnya :
Peristri ‘menjadikan (objek)
sebagai istri’
Pertiga ‘membuat jadi tiga’
B. Arti morfem ulang
Morfem ulang bahasa Indonesia dapat
membentuk kata dengan bentuk dasar yang berkelas kata kerja,benda, dan sifat.
Di samping itu morfem ulang juga berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam
membentuk suatu kata.
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata kerja maka morfem ulang mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai
berikut :
a) Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut
pada bentuk dasar dilakukan berulang-ulang’ misalnya :
Memukul-mukul “memukul berulang-ulang”
Menggerak-gerakkan “menggerakkan berulang-ulang”
b) Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut
pada bentuk dasar dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai / berbalasan’
misalnya :
Bantu-membantu “saling membantu”
Tinjau-meninjau “saling meninjau”
c) Menyatakan ‘hal-hal yang berhubungan
dengan tindakan yang bersangkut paut dengan bentuk dasar’ misalnya :
Cetak-mencetak “hal-hal yang berhubungan
dengan kegiata mencetak”
d) Menyatakan bahwa “tindakan yang tersebut
pada bentuk dasar dilakukan seenaknya /santai atau hanya untuk
bersenang-senang’ misalnya :
Membaca-baca “membaca seenaknya /
santai untuk bersenang-senang”
Makan-makan “ makan seenaknya / santai untuk
bersenang-senang”
e) Apabila berkombinasi dengan {ber-an}
menyatakan bahwa tindakan itu dilakukan oleh kedua pihak dan saling mengenai,
misalnya :
Berkirim-kiriman “saling mengirim”
Berolok-olok “saling mengolok”
f) Rasa kekhawatiran, rasa ketidaksetujuan,
rasa menggerutu :
Datang-datang dalam ‘datang-datang,
langsung tidur menjadi “baru saja datang, kok langsung tidur”.
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata benda maka morfem ulang mempunyai beberapa kemungkinan arti yaitu :
a. Menyatakan ‘banyak’ misalnya :
Kemajuan-kemajuan “banyak kemajuan”
Gedung-gedung “banyak gedung”
Orang-orang “banyak orang”
b. Menyatakan ‘meskipun’ misalnya :
Beras-beras (dimakannya) “meskipun beras (dimakannya)
Sandal-sandal (diangkatnya) “meskipun sandal (diangkatnya).
Apabila dikombinasi dengan –an
menyatakan ‘sesuatu yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar’.
Misalnya :
Orang-orangan “menyerupai orang”
Kuda-kudaan “menyerupai kuda”
Apabila bentuk dasarnya berkelas
kata sifat, maka kemungkinan arti morfem ulang sebagai berikut :
· Menyatakan ‘lebih… lagi’, misalnya :
Cepat-cepat “lebih cepat lagi” berlarilah cepat-cepat !
Rajin-rajin “lebih rajin lagi” belajarlah rajin-rajin !
· Apabila berkombinasi dengan {ke-an}
menyatakan ‘agak’, misalnya :
Kehijau-hijauan “agak hijau”
Keheran-heranan “agak heran”
Kemerah-merahan “agak merah”
· ‘meskipun seperti bentuk dasar’ :
Jelek-jelek (dia itu setia) “meskipun jelek”
Kecil-kecil (tapi amat
dibutuhkan) “meskipun kecil”
· Apabila dikombinasi dengan {se-nya}
menyatakan ‘tingkat yang paling tinggi’ atau ‘superlatif’ misalnya :
Sekecil-kecilnya “tingkat yang paling
kecil”
Sedalam-dalamnya “tingkat yang paling dalam”
Pengertian
kombinasi antara morfem ulang dan imbuhan seperti yang disebutkan diatas
tidaklah mempunyai arti sendiri-sendiri tetapi mendukung satu arti. Jadi
berdasarkan contoh diatas disamping terdapat morfem ulang, terdapat juga morfem
{ulang-an}, {ber-ulang-an}, dan {se-Ulang-nya}.
C. Arti morfem kondtruksi
majemuk
Secara sederhana kata majemuk bisa
diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok “
1. Kelompok pertama beranggotakan
Kambing hitam naik daun
Meja hijau tangan dingin
Lembaran hitam mulut besar
Apa boleh buat senjata makan tuan
Bertekuk lutut membanting tulang
Membabi buta putri malu
Hidung belang kumis kucing
Pitam babi matahari sayap kiri
2. Kelompok kedua beranggotakan
Rumah makan tamu wicara
Rumah sakit angkat besi
Kamar kecil naik haji
Mata air jumpa pers
Istri muda mabuk laut
Kamar tunggu habis akal
Dengar pendapat jual beli
Sepak bola pulang pergi
Tolak peuru putus asa
Pesawat tempur naik pangkat
3. Kelompok ke tiga beranggotakan kata-kata
majemuk macam :
Tua renta hitam legam
Tua Bangka anak pinak
Muda belia mendadak sontak
Kering kerantong gelap gulita
Malam kelam tunggang lenggang
Naik pitam dendam kesumat.
DAFTAR
PUSTAKA
Muslich, Mansur. 2011. Tata Bentuk
Bahasa Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar