Rabu, 22 Januari 2020

Sub bab 10 arti morfem imbuhan, ulang, dan konstruksi



A.    Arti morfem imbuhan
            Sebenarnya pembicaraan masalah arti morfem imbuhan ini tidak dapat dipisahkan dengan fungsi morfem itu sendiri. Yang dimaksud dengan arti pada pembicaraan ini bukanlah arti suatu kata yang terdapat dalam kamus, arti leksikal tetapi arti sebagai akibat bergabungnya morfem satu dengan lainnya, arti structural atau arti gramatikal.Misalnya :
            Kata kuda yaitu “binatang berkaki empat, biasanya dipakai untuk mrnggeret kereta atau dokar”, tidak akan dibicarakan disini tetapi yg dibicarakan adalah kata kuda mendapatkan imbuhan {ber-} sehingga menjadi berkuda dan berubah makna menjadi “mengendarai kuda”.
Morfem-morfem yang imbuhan yang terdapat dalam bahasa Indonesia.
1.      Morfem imbuhan {meN-}
a.       Melakukan tindakan seperti yang tersebut pada bentuk dasar :
Mengambil            “melakukan tindakan ambil”
Menjual                 “melakukan tindakan jual”
b.      Menjadi seperi tersebut dalam bentuk dasar ‘atau’ dalam keadaan seperti bentuk dasar.
Melarut                  “menjadi / dalam keadaan larut”
Menurun                “menjadi / dalam keadaan turun”
c.       Membuat kesan seperti pada bentuk dasar dengan sengaja.
Mengalah              “membuat kesan kalah dengan sengaja”
Membisu               “membuat kesan bisu dengan sengaja”
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, imbuhan {meN-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut :
a.       Pergi ke … atau menuju ke… misalnya
Mendarat         “menuju ke darat”
Melaut             “menuju ke laut”
b.      ‘mencari’ atau ‘mengumpulkan’ misalnya:
Mencari           “mencari mengumpulkan rumput”
Merotan           “mencari mengumpuklan rotan”
c.       ‘Menjadi sebagaimana yang disebut pada bentuk dasar’:
Membuah                    “menjadi buah”
Membisu                     “menjadi bisu”
d.      ‘membubuhkan apa yang tersebut pada bentuk dasar’:
Mencap                       “membubuhkan cap”
Mencat                                    “membubuhkan cap”
e.       ‘membuat apa yang tersebut padabentuk dasar’ misalnya:
Menyate                      “membuat sate”
f.       ‘berlaku seperti yang disebut pada bentuk dasar’ misalnya:
Merajalela                    “berlaku seperti rajalela”
g.      ‘melakukan tindakan dengan alat seperti bentuk dasar’ misalnya :
Menyabit                     “menggunakan sabit”
h.      ‘meminum atau menghisap seperti yang tersebut pada bentuk dasar’ misalnya:
Mengopi                      “meminum kopi”
Merokok                      “menghisap rokok”
i.        ‘menyerupai seperti bentuk dasar’ :
Menyemut                   “menyerupai semut”
Membukit                    “menyerupai bukit”
j.        ‘dalam keadaan berfungsi sebagai bentuk dasar’ :
Menjanda                    “dalam keadaan berfungsi sebagai janda”
Menduda                     “dalam eadaan berfungsi sebagai duda”
k.      ‘Mengeluarkan bunyi seperti bentuk dasar’ :
Mengeong                   “mengeluarkan bunyi ngeong”

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, imbuhan {meN-} mempunyai arti seperti berikut ini :
a.       ‘menjadi seperti bentuk dasar dengan sendirinya’:
Menguning (padi)       “menjadi kuning dengan sendirinya”
Memutih (rambut)       “menjadi putih dengan sendirinya”
Membusuk (borok)      “menjadi busuk dengan sendirinya”
b.      ‘menimbulkan kesan seperti bentuk dasar’:
Memanjang                 “menimbulkan kesan panjang”
Memutih                      “menimbulkan kesan putih
Merendah hati             “menimbulkan kesan rendah hati”.
2.      Morfem imbuhan {ber-}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan imbuhan {ber-} dapat dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu berkelas kata kerja, benda, sifat (adjektiva)ndan bilangan (numeralia).
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja, maka imbuhan {ber-} mempunyai arti sebagai berikut :
a.       “ dalam keadaan seperti bentuk dasar” :
Berada                   ‘dalam keadaan ada’
Berkembang          ‘ dalam keadaan (meng) kembang’
b.      “menjadi seperti bentuk dasar” :
Berubah                 ‘menjadi ubah ‘
c.       “melakukan menjadi bentuk dasar “
Bekerja                  ‘melakukan kegiatan kerja ‘
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda imbuhan {ber-} mempunyai  beberapa kemungkinan arti sebagai berikut :
a.       Memakai atau mengenakan , misalnya
Bersepatu              ‘memakai atau mengenakan sepatu’
b.      Mempunyai apa yang tersebut pada bentuk dasarnya, misalnya :
Bersuami               ‘mempunyai suami ‘
c.       Mengeluarkan misalnya,
Berdarah               ‘mengeluarkan darah ‘
d.      Mengerjakan atau menggarap misalnya,
Bersawah              ‘mengerjakan atau menggarap sawah’
e.       Mengendarahi atau memprgunakan misalnya :
Berkuda                ‘mengendarahi kuda’
f.       Bermain seperti bentuk dasar , misalnya :
Bertinju                 ‘bermain tinju’
3.      Morfem imbuhan {di-}
Artinya imbuhan {di-} hanya satu yaitu , ‘menyatakan suatu tindakan yanag pasif, misalnya:
·         Diambil
·         Diangkat
·         Disiram
·         Dibayar
4.      Morfem imbuhan {ter-}
Artinya bentuk dasar yang dapat bergandeng dengan imbuhan ter adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja , kata sifat, dan kata benda. Bila berawalan {ter-} melekat pada sebuah kelas kata benda maka yang timbul adalah sebagai berikut.
a.       ‘ tak sengaja di ( seperti bentuk dasar ) :
Tercangkul                        ‘tak sengaja dicangkul’
b.      Dapat di ( seperti bentuk dasar ) kan/I :
Tergambar                         ‘dapat digambarkan’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja maka imbuhan {ter-} mempunyai beberapa  kemungkinan arti sebagai berikut.
a.       ‘menyatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan tidak disengaja, misalnya :
·         Tersentuh
·         Tertiup
·         Tergeret
·         Terganggu
b.      Dapat atau sanggup misalnya :
Terangkat              ‘dalam kalimat meskipun berat, batu itu terangkat juga’
c.       Menyatakan bahwa pekerjaan sudah selesi (perfektif) misalnya:
Tertulis                  ‘dalam kalimat pendapat dia tertulis dirumusan hasil seminar’
d.      Ketiba-tibaan misalnya,
Terbangun             ‘dalam kalimat ia terbangun karena suara yang menggelegar itu’
5.      Arti imbuan morfem {peN-} sangat ditentukan oleh kelas kata bentuk dasarnya. Apabila bentuk katanya berkelas kata kerja maka {peN-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut :
a.       Menyatakan ‘orang yang (biasa) melakuakan pekerjaan yang sebut pada bentuk dasar misalnya : pengarang ‘orang yang (biasa) melakauakn mengarang’.
b.      Menyatakan ‘alat yang dipakai untuk melakaukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya : penggaris ‘alat untuk menggaris’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat maka imbuhan {peN-} mempunyai arti sebagai berikut :
a.       Menyatakan ‘ yang memiliki sifat yang tersebut pada bentuk dasar ‘ misalnya :
Periang                 ‘yang mempunyai sifat riang’
b.      Menyatakan ‘yang menyebabkan adanya sifat yang tersebut pada bentuk dasar misalnya :
Pengeras              ‘yang menyebabkan jadi keras atau yang mengeraskan.
c.       Orang yang mudah cepat / menjadi seperti tersebut dalam bentuk dasar. Misalnya:
Pemarah               ‘orang yang mudah menjadi marah’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda,  maka imbuhan {peN-} mempunyai arti ‘ yang biasa melakuakan tindakan / pekerjaan yang berhubungan denagn benda yang tersebut pada bentuk dasarnya’. Misalnya :
Pelaut                               ‘ orang yang biasa melaut’
Perokok               ‘orang yang biasa merokok’

6.       Morfem imbuhan {pe-}
Pada penggalan terdahulu telah dijelaskan bahwa morfem imbuhan {pe-} mempunyai kesejajaran dengan morfem imbuhan {ber-}, sedangkan morfem imbuhan {peN-} mempunyai kesejajaran dengan morfem imbuhan {meN-}. Pernyataan itu dapat dibuktikan dengan deretan contoh berikut, misalnya :
Pelari                           ‘orang yang berlari’
Petani                          ‘orang yang bertani’
Bandingkan dengan :
Penulis                         ‘orang yang menulis’
Pembaca                      ‘orang yang membaca’
7.      Morfem imbuhan {per-} misalnya :
Peristri                         ‘menjadikan (objek) sebagai istri’
Pertiga                         ‘membuat jadi tiga’
B.     Arti morfem ulang
Morfem ulang bahasa Indonesia dapat membentuk kata dengan bentuk dasar yang berkelas kata kerja,benda, dan sifat. Di samping itu morfem ulang juga berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam membentuk suatu kata.
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja maka morfem ulang mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut :
a)      Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan berulang-ulang’ misalnya :
Memukul-mukul                    “memukul berulang-ulang”
Menggerak-gerakkan            “menggerakkan berulang-ulang”
b)      Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai / berbalasan’ misalnya :
Bantu-membantu                  “saling membantu”
Tinjau-meninjau                    “saling meninjau”
c)      Menyatakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan tindakan yang bersangkut paut dengan bentuk dasar’ misalnya :
Cetak-mencetak                    “hal-hal yang berhubungan dengan kegiata mencetak”
d)     Menyatakan bahwa “tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan seenaknya /santai atau hanya untuk bersenang-senang’ misalnya :
Membaca-baca                      “membaca seenaknya / santai untuk bersenang-senang”
Makan-makan                       “ makan seenaknya / santai untuk bersenang-senang”
e)      Apabila berkombinasi dengan {ber-an} menyatakan bahwa tindakan itu dilakukan oleh kedua pihak dan saling mengenai, misalnya :
Berkirim-kiriman                   “saling mengirim”
Berolok-olok                         “saling mengolok”
f)       Rasa kekhawatiran, rasa ketidaksetujuan, rasa menggerutu :
Datang-datang dalam ‘datang-datang, langsung tidur menjadi “baru saja datang, kok langsung tidur”.
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda maka morfem ulang mempunyai beberapa kemungkinan arti yaitu :
a.       Menyatakan ‘banyak’ misalnya :
Kemajuan-kemajuan               “banyak kemajuan”
Gedung-gedung                      “banyak gedung”
Orang-orang                            “banyak orang”
b.      Menyatakan ‘meskipun’ misalnya :
Beras-beras (dimakannya)                   “meskipun beras (dimakannya)
Sandal-sandal (diangkatnya)              “meskipun sandal (diangkatnya).
Apabila dikombinasi dengan –an menyatakan ‘sesuatu yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar’. Misalnya :
Orang-orangan            “menyerupai orang”
Kuda-kudaan              “menyerupai kuda”
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, maka kemungkinan arti morfem ulang sebagai berikut :
·         Menyatakan ‘lebih… lagi’, misalnya :
Cepat-cepat     “lebih cepat lagi”         berlarilah cepat-cepat !
Rajin-rajin       “lebih rajin lagi”          belajarlah rajin-rajin !
·         Apabila berkombinasi dengan {ke-an} menyatakan ‘agak’, misalnya :
Kehijau-hijauan           “agak hijau”
Keheran-heranan         “agak heran”
Kemerah-merahan       “agak merah”
·         ‘meskipun seperti bentuk dasar’ :
Jelek-jelek (dia itu setia)                     “meskipun jelek”
Kecil-kecil (tapi amat dibutuhkan)     “meskipun kecil”
·         Apabila dikombinasi dengan {se-nya} menyatakan ‘tingkat yang paling tinggi’ atau ‘superlatif’ misalnya :
Sekecil-kecilnya                      “tingkat yang paling kecil”
Sedalam-dalamnya                  “tingkat yang paling dalam”
            Pengertian kombinasi antara morfem ulang dan imbuhan seperti yang disebutkan diatas tidaklah mempunyai arti sendiri-sendiri tetapi mendukung satu arti. Jadi berdasarkan contoh diatas disamping terdapat morfem ulang, terdapat juga morfem {ulang-an}, {ber-ulang-an}, dan {se-Ulang-nya}.
C.     Arti morfem kondtruksi majemuk
Secara sederhana kata majemuk bisa diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok “
1.      Kelompok pertama beranggotakan
Kambing hitam                naik daun
Meja hijau                        tangan dingin
Lembaran hitam               mulut besar
Apa boleh buat                 senjata makan tuan
Bertekuk lutut                  membanting tulang
Membabi buta                  putri malu
Hidung belang                 kumis kucing
Pitam babi                        matahari sayap kiri
2.      Kelompok kedua beranggotakan
Rumah makan                  tamu wicara
Rumah sakit                     angkat besi
Kamar kecil                      naik haji
Mata air                            jumpa pers
Istri muda                         mabuk laut
Kamar tunggu                  habis akal
Dengar pendapat              jual beli
Sepak bola                        pulang pergi
Tolak peuru                      putus asa
Pesawat tempur                naik pangkat
3.      Kelompok ke tiga beranggotakan kata-kata majemuk macam :
Tua renta                          hitam legam
Tua Bangka                      anak pinak
Muda belia                       mendadak sontak
Kering kerantong             gelap gulita
Malam kelam                    tunggang lenggang
Naik pitam                       dendam kesumat.





























DAFTAR PUSTAKA

Muslich, Mansur. 2011. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta : Bumi Aksara.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar