Rabu, 22 Januari 2020

Sub bab 2 morfologi dan ilmu kebahasaan lain

A.        Hubungan Morfologi dengan Ilmu Kebahasaan Lain
Morfologi berada pada tingkatan yang strategis atau level pada kajian linguistik.Pembentukan kata melingkupi beberapa proses, yaitu morfem bebas ataupun terikat, imbuhan, morfofonemik, reduplikasi, komposisi, infleksi, dan derivasi.
1.      Linguistik secara hierarkis
Berdasarkan skema diatas, linguistik secara umum adalah ilmu yang mempelajari tentang bahasa. Ilmu linguistik mempunyai beberapa subsistem, yaitu :
a.         Semantik.Setiap satuan bahasa memiliki makna. Arti atau makna menjadi fokus pada studi semantik dengan berbagai persoalan makna kalimat, seluk beluk makna yang dikandung tiap komponen bahasa, mulai dari satuan bahasa terkecil seperti bunyi, morfem, kata, frase, klausa, kalimat bahkan wacana.
b.        Fonologi. Salah satu ilmu linguistik yang menelaah bunyi bahasa. Kajian ini meliputi aspek fungsi, perilaku, rangkaian bunyi sebagai yang terdiri dari unsur-unsur bahasa.
c.         Tatabahasa.Bagian ilmu linguistik yang terdiri dari dua kategori, yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi menelaah seluk beluk pembentukan kata, dan objek kajian terbesarnya yaitu kata. Sinintaksis menelaah seluk beluk rangkain kata, frase, klausa dan kalimat. Objek terbearnya adalah kalimat.
2.      Keterkaitan Morfologi dengan Disiplin Ilmu Lain
Morfologi adalah ilmu yang memiliki keterkaitan dengan beberapa disiplin ilmu lain. Yang masih berada pada lingkup kajian linguistik.
Berdasarkan skema diatas secara umum:
a.         Penjelasan pembentukan kata atau penjelasan melihat sudut pandangmorfologis pasti melibatkan semantik. Karena setiap satuan bahasa memiliki makna.Dapat disimpulkan bahwa pada kajian morfologi terkait dengan makna kata dan bahasa, yang terjadi keterkaitan antara morfologi dengan semantik.
b.        Morfofonemik atau keterkaitan morfologi dengan fonologi. Secara konseptual morfofonemik adalah sebuah kaidah .Bloomfield (1933) sebagaimana diintisarikan oleh Lass (2011:70-72) mengemukakan bahwa terminologi morfofonemik merujuk kepada kaidah :
1)        Satu bunyi yang dapat merubah satu bunyi ke bunyi lain atau mengganti satu bunyi dengan yang lainnya
2)        Proses perubahan bunyi adalah akibat bertemunya dua unsur bahasa pembentuk sebuah kata
3)        Adanya hubungan khusus antara dua fonem atau lebih, sebagian tergantung kepada atau dapat diperkirakan dari. Chaer(2008:43) menjelaskan morfofonemik adalah suatu kajian disejajarkan secara konseptual dengan terminologi morfonologi atau morfofonologi.
4)        Morfofonemik adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses afiksasi, reduplikasi maupun komposisi.
c.         Etimologi merupakan penyelidikan tentang asal-usul kata beserta perubahan dalam bentuk dan makna, Kridalaksana (2011: 47). Misalnya, pada kamus Bahasa Indonesia yang terbit sebelum tahun 2012-an terdapat kata tablet bermakna ‘pil atau obat’. Perkembangan ilmu pengetahuanmemperkenalkan konsep baru bahwa kata tablet bermakna ‘sistem operasi komputer yang berbasis linux untuk bertelepon’. Gejala bahasa ini hanya dapat terjadi pada kata itu saja. Gejala bahasa seperti itu dipandang sebagai peristiwa umum yang terjadi pada sistem bahasa. Keterkaitannya antara morfologi dan etimologi terdapat pada cara menghadapi kata sebagai suatu bentuk. Kata tablet adalah bentuk umum dalam morfologi, sedangkan dalam etimologi kata tabletmemiliki sifat khusus yang dapat dicari asal usulnya.
d.        Leksikologi adalah cabang linguistik yang mempelajari leksikon, Kridalaksana(2011:114). Leksikon atau kosa kata mempunyai beberapa batasan antara lain: 1).komponen bahasa yang memuat semua informasi mengenai makna dan pemakaian kata pada bahasa, 2) Kekayaan kosa kata suatu bahasa, 3) Daftar kata yang disusun seperti kamus dengan penjelasan yang singkat.
1)      Android honeycomb adalah jenis tablet berukuran besar’. Misalnya : Honeycomb adalah sejenis tablet multi prosesor juga mempunyai akselerasi perangkat keras guna desain grafis.(Amperiyanto,2014:4)
2)      Leksikologi dan morfologi adalah disiplin ilmu linguistik yang keduanya menyoroti kata sebagai objek kajian. Perbedaannya, kalau morfologi mempelajari makna kata yang muncul akibat peristiwa gramatik. Sebuah peristiwa yang menunjukkan hubungan unsur-unsur bahasa, seperti hubungan morfem akar dengan morfem terikat untuk membentuk satuan lebih besar yakni kata. Sedangkan leksikologi mengkaji arti yang mengandung dalam kata yang disebbut arti leksikal.
e.         Sintaksis adalah tataran gramatika sama dengan morfologi. Perbedaannya, sintaksis mempersoalkan mengenai pengaturan dan hubungan antara kata dengan kata, atau satuan-satuan lebih besar dalam bahasa. (Kridalaksana,2011:179). Sedangkan morfologi satuan terbesarnya analisis adalah kaat.
f.         Pragmatik adalah kajian yang memberlakukan syarat-syarat yang menimbulkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa pada komunikasi, aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang memberikan sumbangan kepada makna ujaran. Telaah pragmatik mempermasalahkan maksud dan makna dibalik ujaran atau teks. Tetapi morfologi tidak mempermasalahkan maksud ujaran. Hanya mempersoalkan pembentukan kata dan makna.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa morfologi saling berhubungan dengan ilmu kebahasaan lain. Seperti semantik, fonologi, sintaksis, leksikologi dan pragmatik. Dalam linguistik atau ilmu bahasa, ilmu satu dengan ilmu lain sedikit banyak saling berkontribusi. Morfologi sendiri memiliki objek kajian terbesar, yaitu kata. Baik pembentukan kata, ciri-ciri, jenis dan lain sebagainya akan ditelaah lebih dalam pada morfologi.
B.        Unsur (Konstruksi) Kata dalam Morfologi
Dalam morfologi, unsur atau constituent yang menjadi suatu konstruksi kata adalah morfem. Morfem merupakan satuan terkecil baru dapat ditandai setelah kata terbentuk melalui proses morfologis (Uhlenbeck, 1982:6). Unsur konstruksi kata dapat berubah satu morfem, dua morfem, tiga morfem, dan sebagainya.
Contoh kata ‘satu’
1. Satu morfem           : ‘satu’ terdiri dari satu morfem yang artinya angka atau bilangan satu
2. Dua morfem            : ‘bersatu’ terdiri dari dua morfem yang artinya bersama-sama
 ‘bersatu’
‘ber’ + ‘satu’
3. Tiga morfem : ‘kesatuan’ terdiri dari tiga morfem yang artinya
 ‘kesatuan’
‘satu’ + ‘an’
‘ke - an’ + ‘satu’
Jadi unsur konstruksi seperti contoh di atas yaitu ‘ber’, ‘ke’, dan ‘an’ tidak bersama-sama membentuk konstruksi ‘bersatu’ atau ‘kesatuan’. Hal tersebut dapat terjadi secara bertahap. 
Adapun unsur langsung atau immediate constituens adalah unsur yang secara langsung membentuk kesatuan lebih besar. Ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu :
1. Cara Pertama
a.         Mencari konstruksi yang satu tingkat lebih kecil dari konstruksi yang dianalisis.
b.        Mencari konstruksi yang berhubungan dari kata yang dianalisis.
Contoh kata ‘berpendidikan’
Konstruksi ‘berpendidikan’ = Konstruksi ‘berpendidik’
Konstruksi ‘pendidikan’
a.         Konstruksi ‘berpendidikan’ memiliki bentuk konstruksi ‘pendidikan’ atau ‘berpendidik’.
b.        Karena konstruksi ‘berpendidik’ tidak berhubungan arti dengan ‘berpendidikan’, maka yang dianggap sebagai konstruksi satu tingkat lebih kecil adalah ‘pendidikan’.
Jadi, unsur langsung konstruksi ‘berpendidikan’ adalah ‘ber’ dan ‘pendidikan’
2. Cara Kedua
Setelah menemukan unsur langsung, dari konstruksi ‘pendidikan’ akan dicari konstruksi sampai yang terkecil.
a.         Mencari konstruksi yang satu tingkat lebih kecil dari konstruksi yang dianalisis.
b.        Melihat kesejajaran atau kemiripan makna konstruksi yang dianalisis dengan konstruksi satu tingkat lebih kecil.
Contoh kata ‘pendidikan’
Konstruksi ‘pendidikan’ artinya pembelajaran pengetahuan, pengajaran
=          Konstruksi ‘didikan’ artinya hasil didikan atau pengajaran
=          Konstruksi ‘pendidik’ artinya orang yang mendidikan atau yang mengajar
a.         Konstruksi ‘pendidikan’ memiliki bentuk konstruksi ‘didikan’ atau ‘pendidik’.
b.        Dapat dibandingkan, bahwa konstruksi ‘pendidik’ tidak berhubungan dengan konstruksi ‘pendidikan’. Karena konstruksi ‘pendidikan’ tidak merujuk pada pelaku. Begitu juga dengan konstruksi ‘didikan’. Konstruksi ‘pendidikan’ juga tidak merujuk pada hasil.
Jadi, untuk menentukan konstruksi satu tingkat yang lebih kecil dari konstruksi ‘pendidikan’ adalah langsung menentukan kata dasarnya, yaitu ‘didik’. Dengan begitu, unsur langsung dari konstruksi ‘pendidikan’ adalah ‘peN’ - ‘an’ dan ‘didik’.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa unsur (konstruksi) kata dalam morfologi pasti berkaitan dengan morfem. Morfem dapat terbentuk setelah proses morfologis. Unsur kostruksi kata dapat terdiri dari satu atau lebih dari dua morfem. Ada beberapa tahap yang dapat dilakukan untuk menemukan konstruksi terkecil dalam suatu kata. Nantinya, akan ditemuan konstruksi terkecil atau kata dasar dalam suatu kata.




DAFTAR PUSTAKA
Krisdalaksana, Harimurti. 2009. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia.
Verhaar, J.W.M. 1992. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muslich, Mansur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah Tatabahasa Deskrptif. Jakarta: Bumi Aksara
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarat: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar