A. Hubungan
Morfologi dengan Ilmu Kebahasaan Lain
Morfologi berada
pada tingkatan yang strategis atau level pada kajian linguistik.Pembentukan
kata melingkupi beberapa proses, yaitu
morfem bebas ataupun terikat, imbuhan, morfofonemik, reduplikasi, komposisi,
infleksi, dan derivasi.
1. Linguistik
secara hierarkis
Berdasarkan skema diatas,
linguistik secara umum adalah ilmu yang mempelajari tentang
bahasa.
Ilmu linguistik mempunyai beberapa subsistem,
yaitu :
a.
Semantik.Setiap satuan bahasa memiliki makna. Arti atau makna menjadi
fokus pada studi semantik dengan berbagai persoalan makna kalimat, seluk beluk
makna yang dikandung tiap komponen bahasa, mulai dari satuan bahasa terkecil
seperti bunyi, morfem, kata, frase, klausa, kalimat bahkan wacana.
b.
Fonologi. Salah satu ilmu linguistik yang menelaah bunyi bahasa. Kajian ini meliputi aspek fungsi, perilaku, rangkaian bunyi
sebagai yang terdiri dari unsur-unsur bahasa.
c.
Tatabahasa.Bagian ilmu linguistik yang terdiri dari dua kategori, yaitu morfologi dan sintaksis. Morfologi menelaah seluk beluk pembentukan kata, dan objek kajian terbesarnya yaitu kata. Sinintaksis menelaah seluk beluk rangkain kata,
frase, klausa dan kalimat. Objek terbearnya adalah kalimat.
2. Keterkaitan
Morfologi dengan Disiplin
Ilmu Lain
Morfologi
adalah ilmu yang memiliki keterkaitan dengan beberapa disiplin ilmu lain. Yang
masih berada pada lingkup kajian linguistik.
Berdasarkan skema diatas secara umum:
a.
Penjelasan pembentukan kata atau penjelasan melihat sudut pandangmorfologis pasti melibatkan
semantik. Karena setiap satuan bahasa memiliki makna.Dapat disimpulkan bahwa
pada kajian morfologi terkait dengan makna kata dan bahasa, yang terjadi
keterkaitan antara morfologi dengan semantik.
b.
Morfofonemik atau keterkaitan morfologi dengan fonologi. Secara
konseptual morfofonemik adalah sebuah kaidah .Bloomfield (1933) sebagaimana
diintisarikan oleh Lass (2011:70-72) mengemukakan bahwa terminologi
morfofonemik merujuk kepada kaidah :
1)
Satu bunyi yang dapat merubah satu bunyi ke
bunyi lain atau mengganti satu bunyi dengan yang lainnya
2)
Proses perubahan bunyi adalah akibat bertemunya dua unsur bahasa pembentuk
sebuah kata
3)
Adanya hubungan khusus antara dua fonem atau
lebih, sebagian tergantung kepada atau dapat diperkirakan dari. Chaer(2008:43)
menjelaskan morfofonemik adalah suatu kajian disejajarkan secara konseptual
dengan terminologi morfonologi atau morfofonologi.
4)
Morfofonemik adalah kajian mengenai
terjadinya perubahan bunyi atau fonem sebagai akibat dari adanya proses
morfologi, baik proses afiksasi, reduplikasi maupun komposisi.
c.
Etimologi merupakan penyelidikan tentang asal-usul kata beserta perubahan dalam bentuk dan makna,
Kridalaksana (2011: 47). Misalnya, pada kamus Bahasa Indonesia yang terbit sebelum tahun
2012-an terdapat kata tablet bermakna ‘pil atau obat’. Perkembangan ilmu pengetahuanmemperkenalkan
konsep baru bahwa kata tablet bermakna ‘sistem operasi komputer yang
berbasis linux untuk bertelepon’. Gejala bahasa ini hanya dapat terjadi pada kata itu saja. Gejala bahasa
seperti itu dipandang sebagai peristiwa umum yang terjadi pada sistem bahasa.
Keterkaitannya antara morfologi dan etimologi terdapat pada cara menghadapi
kata sebagai suatu bentuk. Kata tablet adalah bentuk umum dalam morfologi, sedangkan dalam etimologi kata tabletmemiliki sifat khusus yang dapat dicari asal usulnya.
d.
Leksikologi adalah cabang linguistik yang
mempelajari leksikon, Kridalaksana(2011:114). Leksikon atau kosa kata mempunyai
beberapa batasan antara lain: 1).komponen bahasa yang memuat semua informasi
mengenai makna dan pemakaian kata pada bahasa, 2) Kekayaan kosa kata suatu
bahasa, 3) Daftar kata yang disusun seperti kamus dengan penjelasan yang
singkat.
1) ‘Android
honeycomb adalah jenis tablet berukuran besar’. Misalnya : Honeycomb
adalah sejenis tablet multi prosesor juga mempunyai akselerasi perangkat keras
guna desain grafis.(Amperiyanto,2014:4)
2) Leksikologi
dan morfologi adalah disiplin ilmu linguistik yang keduanya menyoroti kata
sebagai objek kajian. Perbedaannya, kalau morfologi mempelajari makna kata yang
muncul akibat peristiwa gramatik. Sebuah peristiwa yang menunjukkan hubungan
unsur-unsur bahasa, seperti hubungan morfem akar dengan morfem terikat untuk
membentuk satuan lebih besar yakni kata. Sedangkan leksikologi mengkaji arti
yang mengandung dalam kata yang disebbut arti leksikal.
e.
Sintaksis adalah tataran gramatika sama
dengan morfologi. Perbedaannya, sintaksis mempersoalkan mengenai pengaturan dan
hubungan antara kata dengan kata, atau satuan-satuan lebih besar dalam bahasa.
(Kridalaksana,2011:179). Sedangkan morfologi satuan terbesarnya analisis adalah
kaat.
f.
Pragmatik adalah kajian yang memberlakukan
syarat-syarat yang menimbulkan serasi-tidaknya pemakaian bahasa pada
komunikasi, aspek-aspek pemakaian bahasa atau konteks luar bahasa yang
memberikan sumbangan kepada makna ujaran. Telaah pragmatik mempermasalahkan
maksud dan makna dibalik ujaran atau teks. Tetapi morfologi tidak
mempermasalahkan maksud ujaran. Hanya mempersoalkan pembentukan kata dan makna.
Berdasarkan uraian di
atas, dapat disimpulkan bahwa morfologi saling berhubungan dengan ilmu
kebahasaan lain. Seperti semantik, fonologi, sintaksis, leksikologi dan
pragmatik. Dalam linguistik atau ilmu bahasa, ilmu satu dengan ilmu lain
sedikit banyak saling berkontribusi. Morfologi sendiri memiliki objek kajian
terbesar, yaitu kata. Baik pembentukan kata, ciri-ciri, jenis dan lain
sebagainya akan ditelaah lebih dalam pada morfologi.
B. Unsur
(Konstruksi) Kata dalam Morfologi
Dalam morfologi, unsur atau
constituent
yang menjadi suatu konstruksi kata adalah morfem. Morfem merupakan satuan
terkecil baru dapat ditandai setelah kata terbentuk melalui proses morfologis
(Uhlenbeck, 1982:6). Unsur konstruksi kata dapat berubah satu morfem, dua
morfem, tiga morfem, dan sebagainya.
Contoh kata ‘satu’
1. Satu
morfem : ‘satu’ terdiri dari
satu morfem yang artinya angka atau bilangan satu
2. Dua
morfem : ‘bersatu’ terdiri dari
dua morfem yang artinya bersama-sama
‘bersatu’
‘ber’
+ ‘satu’
3. Tiga
morfem : ‘kesatuan’ terdiri dari tiga morfem yang artinya
‘kesatuan’
‘satu’
+ ‘an’
‘ke
- an’ + ‘satu’
Jadi unsur konstruksi
seperti contoh di atas yaitu ‘ber’, ‘ke’, dan ‘an’ tidak bersama-sama membentuk
konstruksi ‘bersatu’ atau ‘kesatuan’. Hal tersebut dapat terjadi secara
bertahap.
Adapun unsur langsung
atau immediate constituens adalah unsur yang secara langsung membentuk
kesatuan lebih besar. Ada dua cara yang dapat dilakukan, yaitu :
1. Cara
Pertama
a.
Mencari
konstruksi yang satu tingkat lebih kecil dari konstruksi yang dianalisis.
b.
Mencari
konstruksi yang berhubungan dari kata yang dianalisis.
Contoh kata ‘berpendidikan’
Konstruksi ‘berpendidikan’ = Konstruksi ‘berpendidik’
Konstruksi
‘pendidikan’
a.
Konstruksi
‘berpendidikan’ memiliki bentuk konstruksi ‘pendidikan’ atau ‘berpendidik’.
b.
Karena
konstruksi ‘berpendidik’ tidak berhubungan arti dengan ‘berpendidikan’, maka
yang dianggap sebagai konstruksi satu tingkat lebih kecil adalah ‘pendidikan’.
Jadi, unsur langsung konstruksi
‘berpendidikan’ adalah ‘ber’ dan ‘pendidikan’
2. Cara
Kedua
Setelah menemukan unsur
langsung, dari konstruksi ‘pendidikan’ akan dicari konstruksi sampai yang
terkecil.
a.
Mencari
konstruksi yang satu tingkat lebih kecil dari konstruksi yang dianalisis.
b.
Melihat
kesejajaran atau kemiripan makna konstruksi yang dianalisis dengan konstruksi
satu tingkat lebih kecil.
Contoh kata ‘pendidikan’
Konstruksi ‘pendidikan’ artinya
pembelajaran pengetahuan, pengajaran
= Konstruksi
‘didikan’ artinya hasil didikan atau pengajaran
= Konstruksi
‘pendidik’ artinya orang yang mendidikan atau yang mengajar
a.
Konstruksi
‘pendidikan’ memiliki bentuk konstruksi ‘didikan’ atau ‘pendidik’.
b.
Dapat
dibandingkan, bahwa konstruksi ‘pendidik’ tidak berhubungan dengan konstruksi
‘pendidikan’. Karena konstruksi ‘pendidikan’ tidak merujuk pada pelaku. Begitu
juga dengan konstruksi ‘didikan’. Konstruksi ‘pendidikan’ juga tidak merujuk
pada hasil.
Jadi, untuk menentukan
konstruksi satu tingkat yang lebih kecil dari konstruksi ‘pendidikan’ adalah
langsung menentukan kata dasarnya, yaitu ‘didik’. Dengan begitu, unsur langsung
dari konstruksi ‘pendidikan’ adalah ‘peN’ - ‘an’ dan ‘didik’.
Berdasarkan uraian di
atas, dapat diketahui bahwa unsur (konstruksi) kata dalam morfologi pasti
berkaitan dengan morfem. Morfem dapat terbentuk setelah proses morfologis.
Unsur kostruksi kata dapat terdiri dari satu atau lebih dari dua morfem. Ada
beberapa tahap yang dapat dilakukan untuk menemukan konstruksi terkecil dalam
suatu kata. Nantinya, akan ditemuan konstruksi terkecil atau kata dasar dalam
suatu kata.
Krisdalaksana,
Harimurti. 2009. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT.
Gramedia.
Verhaar, J.W.M. 1992. Pengantar
Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muslich, Mansur. 2010. Tata
Bentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah Tatabahasa Deskrptif. Jakarta: Bumi
Aksara
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi
Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarat: Rineka Cipta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar