Rabu, 22 Januari 2020

Sub bab 9 komposisi atau pemajemukan



A. Pengertian Kata Mejemuk
Kata Majemuk yaitu gabungan dua kata atau lebih (morfem) dasar yang akhirnya akan memiliki makna baru dan memiliki struktur tetap serta tidak dapat disisipi kata lain. Menurut Abdul Chaer(1994) kata majemuk yaitu hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah kontruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru.
Menurut Verhaar(1978) kata majemuk yaitu suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis. Komposisi atau pemajemukan adalah proses morfemis yang menggabungkan dua morfem atau pradasar menjadi satu kata, yaitu kata majemuk atau kompaun. Menurut Ramlan(1985) kata majemuk yaitu suatu kata baru yang merupakan gabungan dua kata sebagai unsurnya.
Dalam Bahasa Indonesia gabungan dua kata atau lebih yang memiliki kata baru bisa diartikan sebagai frase atau kata majemuk, akan tetapi sebenarnya kata majemuk tidak sama persis dengan frase. Perbedaan kata majemuk dengan frase bukanlah perbedaan yang prinsip, bukan ciri-ciri khusus, melainkan hanya prilaku sintaksisnya.
Menurut Prof. M. Ramlan(1997), frase yaitu satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan. Menurut Keraf(1984), frase yaitu satuan kontruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan.

B. Ciri-ciri Kata Majemuk Menurut Beberapa Ahli
1.                  Ramlan (1985) berpendapat mengenai ciri-ciri kata majemuk adalah sebagai   berikut.
a.                   Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata.


            Satuan gramatik yang unsurnya berupa kata dan pokok kata, atau pokok kata semua, berdasarkan ciri ini, merupakan kata majemuk. Hal itu dikarenakan pokok kata merupakan satuan gramatik yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa. Selain itu, pokok kata secara gramatik tidak memiliki sifat bebas. Oleh sebab itu, gabungan dengan pokok kata tentu tidak dapat dipisahkan atau diubah strukturnya. Dengan demikian, setiap gabungan dengan pokok kata merupakan kata majemuk. Misalnya: kolam renang, pasukan tempur, barisan tempur, lomba lari, kamar kerja, jam kerja, waktu kerja, dan lain-lain.

b. Unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan atau tidak mungkin diubah strukturnya.
            Satuan kaki tangan berbeda dengan meja kursi meskipun unsur-unsurnya sama, ialah semuanya berupa kata nominal. Di antara meja dan kursi dalam meja kursi dapat disisipkan kata dan menjadi meja dan kursi, sebaliknya di antara kaki dan tangan dalam kaki tangan tidak dapat disisipkan kata dan. Kalau disisipkan kata dan, maka artinya akan berbeda.

2.         Sedangkan menurut Soedjito, ciri-ciri kata majemuk adalah sebagai berikut.
a.                   Kata majemuk dibedakan dengan frasa.
b.                  Komponen kata majemuk tidak dapat dibalik susunannya.
c.                   Jika mengalami proses pembentukan kata, kata majemuk itu menjadi bentuk dasar secara   utuh. Contoh:
Kereta api → perkeretaapian
Tanggung jawab → pertanggungjawaban
Kambing hitam → mengambinghitamkan
d.                  Salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata.

Kata majemuk dapat dibedakan menurut sudut penulisannya, kelas kata yang membentuk-nya, dan hubungan kedua kata (morfem) pembentuknya.

C. Pembedaan Kata Majemuk Berdasarkan Cara Penulisannya
1.                  Kata Majemuk senyawa
Kata majemuk senyawa adalah kata majemuk yang cara penulisannya dirangkaikan. seolah-olah telah melebur menjadi satu kata baru. Misalnya: matahari, hulubalang, bumiputra, dan lain-lain.
2.                  Kata majemuk tak-senyawa
Kata majemuk tak-senyawa adalah kata majemuk yang cara penulisan morfem-morfem dasarnya tetap terpisah. Misalnya: sapu tangan, kumis kucing, cerdik pandai, dan lain-lain.

D. Pembedaan Kata Majemuk Berdasarkan Hubungan Kata Pembentuknya Ditinjau dari segi hubungannya.
a.                   Kata majemuk yang morfem pertama nya merupakan awalan (prefiks), seperti: prasarana, prasejarah, tanadil, dan lain-lain.
b.                  Kata majemuk yang morfem pertamanya merupakan pangkal kata, seperti: rumah sakit, kapal udara, meja belajar, dan lain-lain.
c.                   Kata majemuk yang morfem keduanya merupakan pangkal kata, seperti: mahasiswa, bumiputra, purbakala, dan lain-lain.
d.                  Kata majemuk yang morfem pertamanya mempunyai hubungan sederajat dengan morfem keduanya, seperti: naik turun, besar kecil, pulang pergi, sanak saudara, dan lain-lain.

E. Persamaan Kata Majemuk dengan Frasa
1.                  Kata majemuk merupakan gabungan dari morfem atau kata, demikian halnya dengan frasa yang merupakan perluasan dari kata (gabungan dari kata-kata).
2.                  Apabila frase dibedakan dari klausa (kalimat) dengan ciri tidak adanya predikat (bukan  konstruksi predikatif) maka kata majemuk pun adalah gabungan kata yang bukan konstruksi predikat (lihat kata majemuk rumah makan dan kamar tidur).
3.                  Kata majemuk sekelompok dengan frase, yaitu sama-sama gabungan kata yang bukan predikat.
4.                  Sebenarnya kata majemuk tidak sama persis dengan frase biasa. Akan tetapi, perbedaan kata majemuk dengan frase bukanlah perbedaan yang prinsip, bukan ciri-ciri khusus, melainkan hanya prilaku sintaksisnya. Oleh sebab itu masih bisa digolongkan dengan frase.
5.                  Apabila dipandang dari segi klausa atau kalimat (secara sintaksis) maka kata majemuk sama dengan kata dan frase yaitu sama sebagai pengisi gatra dalam klausa atau kalimat. Artinya unsur langsung dari klausa  atau kalimat kadang-kadang berupa kata, frase, atau, kata majemuk dan masing-masing dapat ditersendirikan atau menjadi calon kalimat minor.

D. Perbedaan Kata Majemuk dan Frase
1.                  Menurut I. G. N. Oka dan Suparno (1994), orang lazim membedakan kata majemuk dengan frasa, perbedaan kata majemuk dan frasa dapat dinyatakan sebagai berikut.
a.                   Kata majemuk terdiri dari unsur-unsur yang anggotanya tidak dapat dipisahkan oleh unsur-unsur lain, sedangkan frasa terdiri dari unsur-unsur yang anggotanya dapat dipisahkan oleh unsur lain. Penyisipan unsur lain dalam kata majemuk itu mengakibatkan status kata majemuk menjadi bukan kata majemuk lagi.
b.                  Kata majemuk merupakan suatu keutuhan sehingga jika mengalami proses morfologis mendapatkan perlakuan sebagai satu bentuk dasar. Untuk membuktikan berlakunya ciri itu dapat digunakan afiksasi dengan morfem simultan atau morfem kombinasi yang mengapit bentuk dasar.
2.                  Menurut Verhaar (1993: 99), kata majemuk dibedakan atas dua jenis, yaitu
a.                   Kata majemuk yang komponennya berurutan dengan cara yang terdapat juga dalam frasa, jadi menurut kaidah urutan sintaksis. Jenis ini disebut “kata majemuk sintaksis” (syntactic compounds).
b.                  Kata majemuk yang komponennya berurutan dengan cara yang tidak mungkin menurut kaidah urutan konstituen sintaksis. Jenis ini disebut “kata majemuk asintaksis” (asyntactic compounds).
3.                  Kridalaksana (2007) merumuskan tiga hal berikut.
a.                   Ketaktersisipan. Di antara komponennya tidak dapat disisipi apa pun. Misalnya, angkat bicara merupakan majemuk karena tidak dapat disisipi apa pun. Bandingkan dengan alat negara yang merupakan frasa karena dapat disisipi dari.
b.                  Ketakterluasan. Komponennya tidak dapat diafiksasi dan dimodifikasi,  kecuali keseluruhan. Misalnya, kereta api tidak biasa dibentuk menjadi perkerataan api. Bentuk itu hanya dapat diperluas semua komponennya menjadi perkerataapian.
c.                   Ketakterbalikan. Komponennya tidak dapat dipertukarkan. Misalnya naik daun tidak dapat dibalik menjadi daun naik tanpa mengubah maknanya.

F. Klasifikasi Kata Majemuk Berdasarkan Kelas atau Golongan Kata Pembentuknya
            Penelitian yang di buat Samsuri (1988: 98-101), bisa disimpulkan bahwa kata majemuk bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan dalam Sembilan kelompok yaitu kata benda-kata benda(KB-KB), kata benda-kata kerja(KB-KK), kata benda-kata sifat(KB-KS), kata kerja-kata benda(KK-KB), kata kerja-kata kerja(KK-KK), kata kerja-kata sifat(KK-KS), kata sifat-kata benda(KS-KB), kata sifat-kata kerja(KS-KK), dan kata sifat-kata sifat(KS-KS). Dari Sembilan kelompok tersebut dapat di berikan contoh sebagai berikut:
1.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda (nomina) + kata benda (nomina)
Misalnya: anak emas, kepala batu, mata keranjang, tanah air, kapal udara, sapu tangan.
a.                   Wildan menjadi anak emas di kantornya, sebab ia bekerja sangat disiplin.
b.                   Aku menaiki kapal udara dari Surabaya menuju Jakarta untuk menghadiri pernikahan kakakku.
c.                    Iska meminjam sapu tangan milik Anggun karena punya Iska tertinggal di rumah.
2.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda (nomina) + kata kerja (verba)
Misalnya: kamar mandi, meja makan, adi daya, akal budi, anak didik.
a.                   Upin dan Ipin makan ayam goreng di meja makan bersama nenek dan kakaknya.
b.                   Pintu kamar mandi rusak karena sudah berkarat .
c.                    SMPN 1 Jogoroto memiliki ratusan anak didik baru di tahun ajaran 2019.
3.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda (nomina) + kata sifat (adjektiva)
Misalnya: rumah sakit, orang tua, pejabat tinggi, arus mudik, akal sehat, anak muda, arus balik.
a.                   Rumah Sakit Umum Daerah Jombang bulan ini dipenuhi pasien penderita Deman Berdarah.
b.                   Ketika marah April tidak bisa  berfikir dengan akal sehat.
c.                    Saat libur lebaran jalur pantura dipadati oleh pengguna jalan ketika arus mudik.
4.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata sifat (adjektiva) + kata kerja (verba)
Misalnya: Salah guna, adil makmur, buruk sangka, salah ambil, salah lihat.
a.                   Anggun salah ambil garam ketika membuat kopi, akibatnya kopi milik Ayah menjadi asin.
b.                   Pak lurah menyalah gunakan jabatannya demi kepentingan pribadi.
c.                    Buruk sangka adalah sikap yang tercela yang perlu dihindari.
5.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata sifat (ajektiva) + kata benda (nomina)
Misalnya : ahli bahasa, ahli waris, ahli tafsir, haus darah, tinggi hati, besar kepala.
·                     Quraish Shihab adalah seorang ahli tafsir ternama di Indonesia.
·                     Aldi terkenal anak yang besar kepala sehingga banyak orang yang tidak menyukainya.
·                     Cinta bertingkah bak singa betina yang haus darah.
6.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata sifat (adjektiva) + kata sifat (adjektiva)
Misalnya: cerdik pandai, tua muda, lemah lembut, kering kerontang.
a.                   Selain baik hati Fitri juga dalam bertutur kata sangat lemah lembut bagaikan putrid bidadari.
b.                   Lagu Stasiun Balapan sangat disukai baik kalangan tua maupun muda.
c.                    Bunga mawar itu kering kerontang karena jarang di siram.
7.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata kerja (verba) + kata kerja (verba)
Misalnya: maju mundur, naik turun, pulang pergi, pecah belah, sepak terjang, budi pekerti, tipu daya.
a.                   Syahrini mengelurkan jargon maju mundur cantik dan sekarang menjadi viral dimana-mana.
b.                   Rahma memesan tiket kerata ke Surabaya pulang pergi, agar nantinya tidak kehabisan tiket.
c.                    Nilai tukar rupiah mengalami naik turun yang beraikibat pada perekonomian Indonesia.
8.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata kerja (verba) + kata benda (nominal)
Misalnya : masuk angin, balas budi, tusuk jarum, tolak peluruh.
a.                   Nana saat masuk angin dan ibu membuat minuman wedang jahe.
b.                   Jari telunjuk Rina tertusuk jarum saat menjahit baju dan mengeluarkan darah cukup banyak.
c.                    Ratna gadis yang tidak tau balas budi, sudah ditolong malah semena-mena terhadap Ratih.
9.                  Kata majemuk yang terbentuk dari kata kerja (verba) + kata sifat (ajektiva)
Misalnya : Amar makruf, terima kasih, tertangkap basah, tahu beres, adu untung.
a.                   Kita wajib melaksanakan amar makruf nahi munkar.
b.                  Andien berterima kasih kepada sahabatnya yang setia disampingnya dalam keadaan suka maupun duka.
c.                   Pencuri itu tertangkap basah oleh warga sekitar dan langsung dibawa ke rumah Pak Kades untuk ditindak lanjuti.
10.              Kata majemuk yang terbentuk dari kata bilangan (numeralia) + kata benda (nomina)
Misalnya: dwiwarna, pancaindera, paska bencana, pancasila, Setengah abad
a.                   Indonesia memiliki bendera dwiwarna, yaitu merah dan putih.
b.                   Kota Palu porak poranda paska bencana Tsunami bulan lalu.
c.                    Silmy di hukum menyebutkan teks pancasila saat kuncinya tertinggal di pos satpam kampus.
11.              Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda (nomina) + kata bilangan (nurmelia)
Misalnya: langkah seribu, roda dua, roda empat, nomor dua.
a.                   Anggun bercita-cita ingin membeli kendaraan roda dua dengan hasih jerih payahnya sendiri.
b.                  Di duga kecelakaan di daerah Jembatan terjadi antara pejalan kaki yang tertabrak kendaraan roda empat.
c.                   Sule menomorduakan urusan pribadi dan menomorsatukan urusan kelompok.
12.              Kata majemuk yang terbentuk dari kata bilangan (nurmelia) + kata bilangan (numelia)
Misalnya: sekali dua,
a.                   Anita sekali dua kali meminta maaf kepada kakaknya, tetapi kakaknya tidak mau memaafkan Anita.
13.              Kata majemuk yang terbentuk dari kata keterangan (adverbia) + kata benda (nomina)
Misalnya: sebelah mata
a.                   Aku sudah menampilkan akting yang terbaik di depan para juri, tetapi aku hanya di pandang sebelah mata oleh mereka.
14.              Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda (nomina) + kata keterangan (adverbia)
Misalnya: negri sebrang
a.                   Sesudah tamat kuliahnya, Seftia dan Iska mengadu nasib di negri sebrang ia berharap hidupnya akan terjamin.
15.              Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda (nomina) + kata kerja (verba) + kata bilangan (nurmelia)
Misalnya: hewan berkaki empat
a.                   Adikku sudah mulai belajar mengenal hewan berkaki empat yang ada di sekitar ruma


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores : Nusa Indah
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian Ke Arah Tata Bahasa
Deskriptif. Jakarta Timur: PT Bumi Aksara. Cet 1
Oka, I.G.N & Suparno. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: PT Rineka Cipta. Cet 2
Ramlan. 1985. Ilmu Bahasa Indonesia. Yogyakarta : CV. Karyono
Ramlan, M. 1997.Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: C.V Karyono
Samsuri. 1988. Morfologi dan Pembentukan Kata. Jakarta: P2LPTK, Ditjen Dikti,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Verhaar, J.W.M. 1978. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Verhaar,J. W. M. 1993. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar