A. Pengertian Kata
Mejemuk
Kata
Majemuk yaitu gabungan dua kata atau lebih (morfem) dasar yang akhirnya akan memiliki
makna baru dan memiliki struktur tetap serta tidak dapat disisipi kata lain. Menurut
Abdul Chaer(1994) kata majemuk yaitu hasil dan proses penggabungan morfem dasar
dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk
sebuah kontruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda atau yang baru.
Menurut
Verhaar(1978) kata majemuk yaitu suatu komposisi disebut kata majemuk kalau
hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis. Komposisi atau pemajemukan
adalah proses morfemis yang menggabungkan dua morfem atau pradasar menjadi satu
kata, yaitu kata majemuk atau kompaun. Menurut Ramlan(1985) kata majemuk yaitu
suatu kata baru yang merupakan gabungan dua kata sebagai unsurnya.
Dalam
Bahasa Indonesia gabungan dua kata atau lebih yang memiliki kata baru bisa
diartikan sebagai frase atau kata majemuk, akan tetapi sebenarnya kata majemuk
tidak sama persis dengan frase. Perbedaan kata majemuk dengan frase bukanlah
perbedaan yang prinsip, bukan ciri-ciri khusus, melainkan hanya prilaku
sintaksisnya.
Menurut
Prof. M. Ramlan(1997), frase yaitu satuan gramatik yang terdiri atas satu kata
atau lebih dan tidak melampaui batas fungsi atau jabatan. Menurut Keraf(1984),
frase yaitu satuan kontruksi yang terdiri dari dua kata atau lebih yang
membentuk satu kesatuan.
B. Ciri-ciri Kata
Majemuk Menurut Beberapa Ahli
1.
Ramlan
(1985) berpendapat mengenai ciri-ciri kata majemuk adalah sebagai berikut.
a.
Salah
satu atau semua unsurnya berupa pokok kata.
Satuan gramatik yang unsurnya berupa
kata dan pokok kata, atau pokok kata semua, berdasarkan ciri ini, merupakan
kata majemuk. Hal itu dikarenakan pokok kata merupakan satuan gramatik yang
tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa. Selain itu, pokok kata secara
gramatik tidak memiliki sifat bebas. Oleh sebab itu, gabungan dengan pokok kata
tentu tidak dapat dipisahkan atau diubah strukturnya. Dengan demikian, setiap
gabungan dengan pokok kata merupakan kata majemuk. Misalnya: kolam renang,
pasukan tempur, barisan tempur, lomba lari, kamar kerja, jam kerja, waktu
kerja, dan lain-lain.
b. Unsur-unsurnya
tidak mungkin dipisahkan atau tidak mungkin diubah strukturnya.
Satuan kaki tangan berbeda dengan
meja kursi meskipun unsur-unsurnya sama, ialah semuanya berupa kata nominal. Di
antara meja dan kursi dalam meja kursi dapat disisipkan kata dan menjadi meja
dan kursi, sebaliknya di antara kaki dan tangan dalam kaki tangan tidak dapat
disisipkan kata dan. Kalau disisipkan kata dan, maka artinya akan berbeda.
2. Sedangkan menurut Soedjito, ciri-ciri
kata majemuk adalah sebagai berikut.
a.
Kata
majemuk dibedakan dengan frasa.
b.
Komponen
kata majemuk tidak dapat dibalik susunannya.
c.
Jika
mengalami proses pembentukan kata, kata majemuk itu menjadi bentuk dasar secara
utuh. Contoh:
Kereta
api → perkeretaapian
Tanggung
jawab → pertanggungjawaban
Kambing
hitam → mengambinghitamkan
d.
Salah
satu atau semua unsurnya berupa pokok kata.
Kata
majemuk dapat dibedakan menurut sudut penulisannya, kelas kata yang membentuk-nya,
dan hubungan kedua kata (morfem) pembentuknya.
C. Pembedaan
Kata Majemuk Berdasarkan Cara Penulisannya
1.
Kata
Majemuk senyawa
Kata
majemuk senyawa adalah kata majemuk yang cara penulisannya dirangkaikan.
seolah-olah telah melebur menjadi satu kata baru. Misalnya: matahari,
hulubalang, bumiputra, dan lain-lain.
2.
Kata
majemuk tak-senyawa
Kata
majemuk tak-senyawa adalah kata majemuk yang cara penulisan morfem-morfem
dasarnya tetap terpisah. Misalnya: sapu tangan, kumis kucing, cerdik pandai,
dan lain-lain.
D. Pembedaan
Kata Majemuk Berdasarkan Hubungan Kata Pembentuknya Ditinjau dari segi
hubungannya.
a.
Kata
majemuk yang morfem pertama nya merupakan awalan (prefiks), seperti: prasarana,
prasejarah, tanadil, dan lain-lain.
b.
Kata
majemuk yang morfem pertamanya merupakan pangkal kata, seperti: rumah sakit,
kapal udara, meja belajar, dan lain-lain.
c.
Kata
majemuk yang morfem keduanya merupakan pangkal kata, seperti: mahasiswa,
bumiputra, purbakala, dan lain-lain.
d.
Kata
majemuk yang morfem pertamanya mempunyai hubungan sederajat dengan morfem
keduanya, seperti: naik turun, besar kecil, pulang pergi, sanak saudara, dan
lain-lain.
E. Persamaan Kata
Majemuk dengan Frasa
1.
Kata majemuk merupakan gabungan dari morfem atau kata, demikian halnya dengan
frasa yang merupakan perluasan dari kata (gabungan dari kata-kata).
2.
Apabila frase dibedakan dari klausa (kalimat) dengan ciri tidak adanya predikat
(bukan konstruksi predikatif) maka kata
majemuk pun adalah gabungan kata yang bukan konstruksi predikat (lihat kata
majemuk rumah makan dan kamar tidur).
3.
Kata majemuk sekelompok
dengan frase, yaitu sama-sama gabungan kata yang bukan predikat.
4.
Sebenarnya kata majemuk
tidak sama persis dengan frase biasa. Akan tetapi, perbedaan kata majemuk
dengan frase bukanlah perbedaan yang prinsip, bukan ciri-ciri khusus, melainkan
hanya prilaku sintaksisnya. Oleh sebab itu masih bisa digolongkan dengan frase.
5.
Apabila dipandang dari
segi klausa atau kalimat (secara sintaksis) maka kata majemuk sama dengan kata
dan frase yaitu sama sebagai pengisi gatra dalam klausa atau kalimat. Artinya
unsur langsung dari klausa atau kalimat kadang-kadang berupa kata, frase,
atau, kata majemuk dan masing-masing dapat ditersendirikan atau menjadi calon
kalimat minor.
D. Perbedaan
Kata Majemuk dan Frase
1.
Menurut
I. G. N. Oka dan Suparno (1994), orang lazim membedakan kata majemuk dengan
frasa, perbedaan kata majemuk dan frasa dapat dinyatakan sebagai berikut.
a.
Kata
majemuk terdiri dari unsur-unsur yang anggotanya tidak dapat dipisahkan oleh
unsur-unsur lain, sedangkan frasa terdiri dari unsur-unsur yang anggotanya
dapat dipisahkan oleh unsur lain. Penyisipan unsur lain dalam kata majemuk itu
mengakibatkan status kata majemuk menjadi bukan kata majemuk lagi.
b.
Kata
majemuk merupakan suatu keutuhan sehingga jika mengalami proses morfologis
mendapatkan perlakuan sebagai satu bentuk dasar. Untuk membuktikan berlakunya
ciri itu dapat digunakan afiksasi dengan morfem simultan atau morfem kombinasi
yang mengapit bentuk dasar.
2.
Menurut
Verhaar (1993: 99), kata majemuk dibedakan atas dua jenis, yaitu
a.
Kata
majemuk yang komponennya berurutan dengan cara yang terdapat juga dalam frasa,
jadi menurut kaidah urutan sintaksis. Jenis ini disebut “kata majemuk
sintaksis” (syntactic compounds).
b.
Kata
majemuk yang komponennya berurutan dengan cara yang tidak mungkin menurut
kaidah urutan konstituen sintaksis. Jenis ini disebut “kata majemuk asintaksis”
(asyntactic compounds).
3.
Kridalaksana (2007) merumuskan tiga hal
berikut.
a.
Ketaktersisipan. Di antara komponennya tidak
dapat disisipi apa pun. Misalnya, angkat bicara merupakan majemuk karena
tidak dapat disisipi apa pun. Bandingkan dengan alat negara yang
merupakan frasa karena dapat disisipi dari.
b.
Ketakterluasan. Komponennya tidak dapat
diafiksasi dan dimodifikasi, kecuali keseluruhan. Misalnya, kereta api
tidak biasa dibentuk menjadi perkerataan api. Bentuk itu hanya dapat
diperluas semua komponennya menjadi perkerataapian.
c.
Ketakterbalikan. Komponennya tidak dapat
dipertukarkan. Misalnya naik daun tidak dapat dibalik menjadi daun
naik tanpa mengubah maknanya.
F. Klasifikasi Kata Majemuk Berdasarkan Kelas
atau Golongan Kata Pembentuknya
Penelitian
yang di buat Samsuri (1988: 98-101), bisa disimpulkan bahwa kata majemuk bahasa
Indonesia dapat diklasifikasikan dalam Sembilan kelompok yaitu kata benda-kata
benda(KB-KB), kata benda-kata kerja(KB-KK), kata benda-kata sifat(KB-KS), kata
kerja-kata benda(KK-KB), kata kerja-kata kerja(KK-KK), kata kerja-kata sifat(KK-KS),
kata sifat-kata benda(KS-KB), kata sifat-kata kerja(KS-KK), dan kata sifat-kata
sifat(KS-KS). Dari Sembilan kelompok tersebut dapat di berikan contoh sebagai
berikut:
1.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda
(nomina) + kata benda (nomina)
Misalnya: anak emas, kepala batu, mata
keranjang, tanah air, kapal udara, sapu tangan.
a.
Wildan menjadi anak emas di kantornya,
sebab ia bekerja sangat disiplin.
b.
Aku menaiki kapal udara dari Surabaya
menuju Jakarta untuk menghadiri pernikahan kakakku.
c.
Iska meminjam sapu tangan milik Anggun
karena punya Iska tertinggal di rumah.
2.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda
(nomina) + kata kerja (verba)
Misalnya: kamar mandi, meja makan, adi daya,
akal budi, anak didik.
a.
Upin dan Ipin makan ayam goreng di meja
makan bersama nenek dan kakaknya.
b.
Pintu kamar mandi rusak karena sudah
berkarat .
c.
SMPN 1 Jogoroto memiliki ratusan anak didik
baru di tahun ajaran 2019.
3.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda
(nomina) + kata sifat (adjektiva)
Misalnya: rumah sakit, orang tua, pejabat
tinggi, arus mudik, akal sehat, anak muda, arus balik.
a.
Rumah Sakit Umum Daerah Jombang bulan ini dipenuhi pasien
penderita Deman Berdarah.
b.
Ketika marah April tidak bisa berfikir dengan akal sehat.
c.
Saat libur lebaran jalur pantura dipadati oleh
pengguna jalan ketika arus mudik.
4.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata sifat
(adjektiva) + kata kerja (verba)
Misalnya: Salah guna, adil makmur, buruk
sangka, salah ambil, salah lihat.
a.
Anggun salah ambil garam ketika membuat
kopi, akibatnya kopi milik Ayah menjadi asin.
b.
Pak lurah menyalah gunakan jabatannya
demi kepentingan pribadi.
c.
Buruk sangka adalah sikap yang tercela yang perlu dihindari.
5.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata sifat
(ajektiva) + kata benda (nomina)
Misalnya : ahli bahasa, ahli waris, ahli
tafsir, haus darah, tinggi hati, besar kepala.
·
Quraish Shihab adalah seorang ahli tafsir
ternama di Indonesia.
·
Aldi terkenal anak yang besar kepala
sehingga banyak orang yang tidak menyukainya.
·
Cinta bertingkah bak singa betina yang haus
darah.
6.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata sifat
(adjektiva) + kata sifat (adjektiva)
Misalnya: cerdik pandai, tua muda, lemah
lembut, kering kerontang.
a.
Selain baik hati Fitri juga dalam bertutur kata
sangat lemah lembut bagaikan putrid bidadari.
b.
Lagu Stasiun Balapan sangat disukai baik
kalangan tua maupun muda.
c.
Bunga mawar itu kering kerontang karena
jarang di siram.
7.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata kerja
(verba) + kata kerja (verba)
Misalnya: maju mundur, naik turun, pulang
pergi, pecah belah, sepak terjang, budi pekerti, tipu daya.
a.
Syahrini mengelurkan jargon maju mundur
cantik dan sekarang menjadi viral dimana-mana.
b.
Rahma memesan tiket kerata ke Surabaya pulang
pergi, agar nantinya tidak kehabisan tiket.
c.
Nilai tukar rupiah mengalami naik turun
yang beraikibat pada perekonomian Indonesia.
8.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata kerja
(verba) + kata benda (nominal)
Misalnya : masuk angin, balas budi, tusuk
jarum, tolak peluruh.
a.
Nana saat masuk angin dan ibu membuat
minuman wedang jahe.
b.
Jari telunjuk Rina tertusuk jarum saat
menjahit baju dan mengeluarkan darah cukup banyak.
c.
Ratna gadis yang tidak tau balas budi,
sudah ditolong malah semena-mena terhadap Ratih.
9.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata kerja
(verba) + kata sifat (ajektiva)
Misalnya : Amar makruf, terima kasih,
tertangkap basah, tahu beres, adu untung.
a.
Kita wajib melaksanakan amar makruf nahi
munkar.
b.
Andien berterima kasih kepada sahabatnya
yang setia disampingnya dalam keadaan suka maupun duka.
c.
Pencuri itu tertangkap basah oleh warga
sekitar dan langsung dibawa ke rumah Pak Kades untuk ditindak lanjuti.
10.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata bilangan
(numeralia) + kata benda (nomina)
Misalnya: dwiwarna, pancaindera, paska bencana,
pancasila, Setengah abad
a.
Indonesia memiliki bendera dwiwarna,
yaitu merah dan putih.
b.
Kota Palu porak poranda paska bencana Tsunami
bulan lalu.
c.
Silmy di hukum menyebutkan teks pancasila saat
kuncinya tertinggal di pos satpam kampus.
11.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda
(nomina) + kata bilangan (nurmelia)
Misalnya: langkah seribu, roda dua, roda empat,
nomor dua.
a.
Anggun bercita-cita ingin membeli kendaraan roda
dua dengan hasih jerih payahnya sendiri.
b.
Di duga kecelakaan di daerah Jembatan terjadi
antara pejalan kaki yang tertabrak kendaraan roda empat.
c.
Sule menomorduakan urusan pribadi dan
menomorsatukan urusan kelompok.
12.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata bilangan
(nurmelia) + kata bilangan (numelia)
Misalnya: sekali dua,
a.
Anita sekali dua kali meminta maaf
kepada kakaknya, tetapi kakaknya tidak mau memaafkan Anita.
13.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata
keterangan (adverbia) + kata benda (nomina)
Misalnya: sebelah mata
a.
Aku sudah menampilkan akting yang terbaik di
depan para juri, tetapi aku hanya di pandang sebelah mata oleh mereka.
14.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda
(nomina) + kata keterangan (adverbia)
Misalnya: negri sebrang
a.
Sesudah tamat kuliahnya, Seftia dan Iska
mengadu nasib di negri sebrang ia berharap hidupnya akan terjamin.
15.
Kata majemuk yang terbentuk dari kata benda
(nomina) + kata kerja (verba) + kata bilangan (nurmelia)
Misalnya: hewan berkaki empat
a.
Adikku sudah mulai belajar mengenal hewan
berkaki empat yang ada di sekitar ruma
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul.
1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Keraf, Gorys.
1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores : Nusa Indah
Kridalaksana,
Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia.
Jakarta:
Gramedia
Pustaka Utama
Muslich,
Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian Ke Arah Tata Bahasa
Deskriptif.
Jakarta Timur: PT Bumi Aksara. Cet 1
Oka, I.G.N & Suparno. 1994. Linguistik
Umum. Jakarta : Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
Pateda,
Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: PT Rineka Cipta. Cet 2
Ramlan. 1985.
Ilmu Bahasa Indonesia. Yogyakarta : CV. Karyono
Ramlan, M.
1997.Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: C.V Karyono
Samsuri. 1988. Morfologi dan Pembentukan
Kata. Jakarta: P2LPTK, Ditjen Dikti,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Verhaar, J.W.M.
1978. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Verhaar,J. W.
M. 1993. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar