Rabu, 22 Januari 2020

Sub bab 8 proses reduplikasi



A. Pengertian Reduplikasi
            Reduplikasi atau pengulangan adalah proses morfologis yang mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mengalami proses morfologi reduplikasi, entah dwi purwa (pengulangan suku awal), entah dwi lingga(pengulangan penuh), entah dwi lingga saling suara (pengulangan penuh yang berubah bunyi ), entah dwi wasana (pengulangan suku akhir).
Jenis-jenis Reduplikasi (pengulangan)
            Jenis pengulangan ini ddasarkan pada bagaimanabentuk dasar kata ulang itu diulang. Berdasarkan hasil penelitian, ternyata dalam bahasa indonesia ada 4 jenis pengulangan, yaitu:
(1) Pengulangan seluruh
(2) pengulangan sebagian
(3) pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks
(4) pengulangan dengan perubahan fonem

B. Definisi Jenis Pengulangan
1. Pengulangan seluruh
            Pengulangan seluruh adalah pengulangan secara keseluruhan, tanpa berkombinasi dengan pembubuhan perubahan fonem. Contohnya pada tabel berikut.
Bentuk dasar
Hasil Pengulangan Seluruh
Batu
batu-batu
Sembilan
sembilan-sembilan
persatuan
persatuan-persatuan
pembangunan
pembangunan-pembangunan
Satuan
satuan-satuan
            Dari contoh-contoh diatas terlihat bahwa bentuk dasar dari pengulangan seluruh ada yang bermorfem tunggal misalnya: batu, sembilan. Dan ada yang bermorfem komplek misalnya: persatuan, pembangunan, dan satuan.
2. pengulangan sebagian
            Pengulangan sebagian adalah pengulangan bentuk dasar secara sebagian, tanpa perubahan fonem. Sebagai contohnya ada pada tabel.


Bentuk Dasar
Hasil Pengulangan
Memanggil
memanggil-manggil; panggil-memanggil
menulis
menulis-nulis
mengukur
mengukur-ukur
membersihkan
membersih-bersihkan
mempertunjukkan
mempertunjuk-tunjukkan
ditulis
ditulis-tulis
dilambaikan
dilambai-lambaikan
dipertunjukkan
dipertunjuk-tunjukkan
berlari
berlari-lari
berkata
berkata-kata
terguling
terguling-guling
minuman
minum-minuman
perlahan
perlahan-lahan
seakan
seakan-akan

3. Pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks
            Pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks adalah pengulangan bentuk dasar disertai dengan penambahan afiks secara bersama-sama atau serentak dan bersama-sama pula mendukung satu arti. Kata ulang mobil-mobilan misalnya: merupakan hasil pengulangan bentuk dasar dengan penambahan afiks. Bentuk dasar kata ulang itu adalah mobil,tetapi bukan mobilan atau mobil-mobil. Dikatakan demikian, sebab mobilan tidak pernah dijumpai dalam pemakaian sehari-hari, sedangkan mobil-mobil yang berarti ‘banyak mobil’ tidak ada kesinsmbungan arti dengan mobil-mobilan yang berati ‘menyerupai mobil’.
            Apabila kita kurang cermat, kita pasti akan terkecoh dengan kata ulang makan-makanan. Kata ulang ini tergolong jenis pengulangan sebagian sebab bentuk dasarnya adalah makanan, bukan makan. Mengapa demikian? Sebab, bentuk makan berjenis KK, sedangkan makan-makanan berjenis KB yang artinya ‘banyak jenis makanan’.
            Didalam bahasa indonesia ada beberapa imbuhan yang dapat bergabung secara bersama-sama dengan pengulangan bentuk membentuk satu arti, yaitu {-an}, {ke-an}, dan {se-nya} misalnya terlihat pada tabel berikut.
Bentuk dasar
+ pengulangan dan pembubuhan afiks
= Hasil pengalungan
rumah
+ (pengulangan)-an
= rumah-rumahan
kuda
+ (pengulangan)-an
= kuda-kudaan
kuning
+ ke-(pengulangan)-an
= kekuning-kuningan
hijau
+ ke-(pengulangan)-an
= kehijau-hijauan
baik
+ se-(pengulangan)-nya
= sebaik-baiknya
lincah
+ se-(pengulangan)-ya
= selincah-lincahnya
            Dari contoh diatas, terlihat bahwa umumnya bentuk dasar pengulangan sebagian perubahan morfem kompleks yang berafiks. Selain itu, ada kecenderungan pula bahwa yang diulang hanya bentuk asalnya, yaitu bentuk yang belum mengalami proses morfologis, misal: warna, kemas, tunjuk, satu, tulis, ukur, dan sebagainya
4.pengulangan dengan perubahan fonem
            Pengulangan dengan perubahan fonem adalah pengulangan bentuk dasar dengan disertai perubahan fonem. Pengulangan jenis ini sudah tidak produktif lagi dalam bahasa indonesia. Akan tetapi,berdasarkan hasil perbandingan,masih dapat dibuktikan bahwa pengulangan jenis ini memang ada dalam bahasa indonesia. Misalnya : kata ulang gerak gerik. Telah diketahui bahwa kata ulang itu berbentuk dasar gerak setelah dibandingkan dengan bentuk-bentuk, misalnya : menggerakkan,digerakkan,penggerakkan,bergerak,dan pergerakkan. Disamping bentuk dasarnya diulang, yaitu gerak,fonem/a/ pada bentuk dasarnya diubah menjadi fonem/i/ sehingga pengulangannya menjadi gerik. Begitu juga sayur-mayur;bentuk dasar kata ulang itu adalah sayur yang mengalami pengulangan dengan perubahan fonem/s/ menjadi fonem/m/.
            Dalam bahasa indonesia ada 2 macam model pengulangan perubahan fonem,yaitu pengulangan perubahan fonem,yaitu pengulangan fonem vokal dan pengulangan fonem konsonan. (bentuk dasar:balik),serba-serbi(bentuk dasar:serba),dan robak-robek (bentuk dasar:robek). Contoh pengulangan dengan perubahan fonem konsonan adalah lauk-pauk (bentuk dasar:lauk), ramah-tamah (bentuk dasar:ramah), dan beras-petas (bentuk dasar:beras).
            Bagaimana dengan kata sunyi-senyap dan simpang siur? Apakah kedua bentuk ini merupakan hasil pengulangan dengan perubahan fonem? Kedua kata itu sebagiannya tidak dimasukkan sebagai kata ulang sebab perubahan itu sukar dilacak karena sudah banyak mengalami perubahan. Bentuk senyap,disamping mengalami perubahan vokal, telah mengalami penambahan fonem/p/; sedangkan,bentuk siur,disamping mengalami perubahan fonem konsonan dan vokal,mengalami pengurangan fonem. Perubahan kedua bentuk itu sudah tidak bersistem. Oleh sebab itu, sebaiknya kedua kata itu digolongkan sebagai kata majemuk yang salah satu unsurnya berupa morfem unik atau morfem terikat ketat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar