A. Pengertian Proses
Morfologi
Proses morfologi adalah penyusunan
dari komponen –komponen kecil menjadi menjadi bentuk yang lebih besar berupa
kata kompleks. Proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan
bentuk dasarnya.Adapun pengertian proses morfologi menurut berbagai para ahli
yaitu:
1.
Proses
morfologis adalah proses pembentukan
kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Ramlan (2009:51)
2.
Proses
morfologis ialah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang
satu dengan morfem yang lain. Samsuri, ( 1982: 190)
3.
Proses
yang dialami bentuk –bentuk lingual dalam menyusun kata-kata (
Ahmadslamet,1982:58).
4.
Sudaryanto(
1992:15) menjelaskan bahwa proses
morfologis adalah proses pengubahan kata dengan cara yang teratur atau
keteraturan cara pengubahan dengan alat yang sama ,menimbulkan komponen maknawi
baru pada kata hasil pengubahan,kata baru yang dihasilkan bersifat polifermisi.
5.
Menurut
Chaer ( 2015: 15) proses morfologi pada dasarnya adalah pembentukan kata
dairi sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks,pengulangan ( dalam proses
reduplikasi ),penggabungan ( dalam proses komposisi),pemendekan ( dalam proses
akronimisai),dan pengubahan status ( dalam proses morfologi).
Seperti pada kata perumahan
,rumah-rumah,rumah makan. Dari ketiga bentuk kata tersebut bahwa bentuk dasar
rumah bisa menghasilkan kata-kata baru.
Kata perumahan dihasilkan dengan cara melekatkan afiks { per-an }pada
bentuk dasar rumah dan kata rumah makan dengan cara menggabungkan bentuk dasar
rumah dan makan.
Berdasarkan strukturnya suatu kata
digolongkan menjadi 2 yaitu kata bermorfem tunggal atau monomorfemis dan kata
yang bermorfem lebih dari satu atau polifermis.Suatu kata yang monomerfemis tidak
akan mengalami peristiwa pembentukan sbelumnya sebab morfem itu satu-satunya
unsur atau anggota baru. Seperti bentuk pergi
pada kalimat Dia akan pergi ke
sekolah morfem {pergi} menjadi
kata pergi sama sekali tidak mengalami peristiwa pembentukan. Bahasa-bahasa di
dunia memiliki cara-cara tersendiri dalam proses pembentukan katanya sehingga
proses morfologis tidak bisa ditemukan dalam setiap bahasa.Akan tetapi ini berbeda dengan suatu kata yang
polimorfemis. Morfem-morfem yang menjadi anggota kata ini mengalami peristiwa
pembentukan sebelumnya. Peristiwa pembentukan ini biasanya disebut proses morfologis.
B.
CIRI SUATU KATA
YANG MENGALAMI PROSES MORFOLOGIS.
Menurut Muslich
( 2010 : 33)ciri –ciri suatu kata yang mengalami proses morfologis yaitu
1. Apabila morfem-morfem
yang membentuk atau yang menjadi unsur kata berbeda-beda fungsinya. Ada yang
berfungsi sebagai penggabung. Contohnya seperti pada morfem { tulis}
,{bangun},{murid} dan { gelap}berfungsi sebagai tempat penggabungan. Sedangkan
morfem { meN},{peN-an}, {ulang } dan {gulita} berfungsi sebagai penggabung.
Morfem yang sebagai penggabung biasanya disebut bentuk dasar.
1.
Dalam
bahasa Indonesia ,bentuk dasar tidak selau bermorfem tunggal sebagaimana yang
dicontohkan diatas,tetapi mungkin berupa morfem kompleks. Contohnya:
-
Membelajarkan bentuk dasarnya adalah belajar
-
Bersusah
payah bentuk dasarnya adalah susah payah
-
Ketidakadilanbentuk
dasarnya adalah tidak adil.Dari ketiga morfem tersebut mendapat imbuhan {me-kan},{ber} dan {
ke-an}.
2. Dilihat dari wujudnya ,bentuk dasar dapat berupa pokok kata, bahkan berupa
kelompok kata.Contohnya :
-
Bentuk
dasar kata menemukan berasal dari pokok kata temu
-
Bentuk
dasar kata perbaikan berasal dari pokok kata baik
-
Bentuk
dasar kata disatukan berasal dari pokok kata satu
-
Bentuk
dasar kata mengesampingkan adalah kelompok kata kata ke samping
-
Bentuk
dasar kata ketidakmampuan adalah kelompok kata tidak mampu
-
Bentuk
dasar kata dikemukakan adalah kelompok kata ke muka
3.
Penggabungan
morfem atau perpaduan morfem –morfem itu mengalami perubahan arti
-
Bentuk
dasar cangkul setelah mendapat
gabungan morfem {meN-} sehingga menjadi kata mencangkul. Artinya menjadi “
melakukan pekerjaan dengan alat cangkul”
-
Bentuk dasar juang setelah mendapat gabungan morfem
{ber-} sehingga menjadi kata berjuang
atinya menjadi melakukan tindakan juang.
Demikian,apabila
ada suatu kata yang seolah-olah mengalami perubahan dari bentuk dasarnya,tetapi
sama sekali tidak didikuti oleh penambahan atau perubahan arti ,peristiwa ini
tidak dikatakan sebagai proses morfologi.
C.
.MACAM – MACAM PROSES MORFOLOGIS
Menurut Masnur
( 2010:35) dalam bahasa indoensia
peristiwa pembentukan kata ada 3 maca
yaitu
1.
Pembentukan
kata dengan menambahkan morfem afiks pada bentuk dasar..
Hasil
pembentukan model pertama , misalnya menulis ,pembangunan,dan makanan . kata menulis terbentuk dari kata tulis dan imbuhan {meN-}. Kata pembangunan terbentuk dari
bentuk dasar bangun dan morfem imbuhan {peN-an} dan kata makanan
terbentuk dari bentuk dasar makan dan morfem imbuhan {an}.
2.
Pembentukan
kata dengan mengulang bentuk dasar,dan.
Hasil
pembentukan model kedua terlihat pada
kata ,misalnya murid-murid ,mencaari-cari,memukul-mukul yang terbentuk dari
bentuk dasar murid ,mencari, dan memukul dengan morfem { ulang} : kata diberi
–berikan dibentuk dari bentuk dasar diberikan dan mofem { ulang}.
3.
Pembentukan
kata dengan menggabungkan dua atau lebih
bentuk dasar.
Hasil
pembentukan kata model ketiga terlihat pada kata ,misalnyameja hijau kata meja hijau terbentuk dari bentuk dasar meja dan
hijau. Kata tinggal landasterbentuk
dari bentuk dasar tinggal dan landas.Kata tempat
gelap terbentuk dari kata dasr tempat dan gelap.Dan kata mata kaki
terbentuk dari kata dasar mata dan kaki.
Dari uraian
diatas ,terlihat berdasarkan proses pembentukannya dalam bahasa Indonesia
terdapat kata berimbuhan ,kata ulang,dan kata majemuk.
Proses
morfologis pada dasarnya adalah pembentukan proses eebuah kata dari sebuah
bentuk dasar melalui pembubuhan afiks( dalam proses afiksasi), pengulangan (
dalam proses reduplikasi ),penggabungan ( dalam proses komposisi) ,pemendekakan
( dalam proses akronimisasi ) dan pengubahan staus ( dalam proses konvrsi).
Chaer (2008: 25).
1.
Proses Pembubuhan Afiks. ( Afiksasi)
Proses morfologis yang sering
dijumpai ialah afiksasi, yaitu penggabungan akar atau pokok dengan afiks .
Afiksasi adalah proses pembentukan kata yang dilakukan dengan cara membubuhkan
morfem terikat berupa afiks pada bentuk dasar. Dalam proses pembubuhan afiks, bentuk
dasar merupakan salah satu dari unsur yang bukan afiks. Afiks merupakan satuan
gramatik terikat yang di dalam suatu
kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki
kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok
kata baru. Afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan
baik berkategori verba ,berkategori nomina ,maupun berkategori ajektiva . Chaer
( 2008: 106-142)
a.
Prefiks (awalan)
Prefiksasi
adalah proses pembubuhan afiks (morfem terikat) yang dapat dilakukan di depan
bentuk dasar. Jenis prefiks (awalan) antara lain: ber-, se-, me-, ter-, di-,
dll.
-
prefiks ber seperti contoh
dibawah ini:
|
-
bermesin
“ ada mesinya
-
berjendela
“ ada jendelanya”
-
berkewajiban
mempunyai “ kewajiban”
-
bertanggung
jawab mempunyai “ tanggung jawab”
-
berjuang “ sedang berjuang”
-
beracun
“ mengandung racun”
-
berkuman
“ mengandung kuman”
-
berkebaya
“ memakai kebaya”
-
bertelur
“ mengeluarkan telur”
-
berkakak
“ menyebut kakak”
-
beradik
“ menyebut adik”
-
berair
mata “ mengeluarkan air mata”
-
berceramah
“ memberi ceramah”
|
-
berjilbab “ memakai jilbab”
-
berkereta
“menumpang kereta”
-
berdarah
“ mengandung darah”
-
berdiskusi
“ melakukan diskusi”
-
bersedekah
“ memberi sedekah”
-
bersalin dengan makna melahirkan
-
bersawah
“ mengerjakan sawah”
-
berladang
“ mengusahakan lading
-
beternak
“ mengusahakan ternak”
-
bergembira
“ dalam keadaan gembira “
-
berekreasi
“ melakukan rekreasi”
Contoh lain:
beristri,bersaudara, berasas, berbagasi.
|
-
prefiks ter seperti contoh dibawah ini:
|
-
tercangkul
“ tak sengaja dicangkul”
-
tersendok
“ tak sengaja di sendok”
-
tergambar “ dapat digambarkan”
-
terpengaruh “ dapat dipengaruhi”
-
terbukti
( dapat dibuktikan)
-
terbaca
“ dapat dibaca”
-
terbawa
“ dapat dibawa”
-
terangkut
“ dapat diangkut”
-
terputus
“ sudah terjadi ( putus)
|
-
Terbangun
( menyatakan ketiba-tibaan)
-
Teringat
( menyatakan ketiba-tibaan)
-
Terangkat ( menyatakan dapat atau sanggup)
-
Terkejar
( menyatakan dapat atau sanggup)
-
Terlihat
“ dapat dilihat’
-
Tersangka
“ yang disangka”
-
Terpidana
“ yang dipidana ”
|
-
prefiks me- ,dapat
berbentuk {me- ,men,meny- ,meng dan menge
}seperti contoh dibawah ini:
|
-
membaca
-
menulis
-
menyapu
-
mendidik
-
menghibur
-
menggali
-
meghubungi
-
memperdulikan
-
mengeluarkan
-
mencuri
|
-
menendang
-
menerobos
-
melekat
-
-menanti
-
-menaiki
-
Meyakini
-
Melongo
-
Menggambar
-
Memperingati
-
Mengambil
|
a.
Prefiks
{di-} menyatakan suatu tindakan yang pasif .tetapi pengertian pasif disini
semata-mata dihubungkan dengan subjeknya .( Baca Alisjahbana,1957; Purwo,1988:
32-34). Contohnya yaitu diambil,disiram
,dibayar, dibaca ,dibuang,dimasak,ditanam
b.
Infiksasi adalah proses
pembubuhan Infiks (sisipan)
Infiksasi
adalah proses pembubuhan afiks di tengah bentuk dasar. Penulisan afiks ini
ditulis serangkai dengan kata dasarnya sebagai satu kesatuan. Jenis infiks
(sisipan) antara lain: -em-, -el-,-er, dan -in-.
Contoh:
|
-
telunjuk berasal dari kata dasar tunjuk
-
gemetar berasal dari kata dasar getar
-
seruling berasal dari kata dasar suling
-
geirigi berasal dari kata dasar gigi
-
geligi berasal dari kata dasar gigi
-
pelatuk berasal dari kata dasar patuk
-
gendering berasal dari kata dasar gendang
|
c.
Sufiks (akhiran)
Sufiksasi adalah proses pembubuhan
afiks di akhir bentuk dasar.Sufiks adalah imbuhan dalam suatu kata yang mana
posisinya berada dibelakang atau akhir kata. Makna pada kata berimbuhan juga
akan berada dengan kata dasar.Penulisan afiks ini ditulis serangkaian dengan
kata dasarnya, sebagai satu kesatuan. Jenis sufiks (akhiran) antara lain:{ -an,
-i, -kan, -nya, dll}.
Sufiks { an-} akan mengubah
kata menjadi bentuk kata benda. Berikut ini beberapa arti makna yang terbentuk
dari sufiks (an-}.
-
Menyatakan
tempat ,contohnya : tumpuan,pangkalan,lapangan,kubangan,jalanan
-
Menyatakan
menyerupai ,contohnya : rumah –rumahan,mobil –mobilan, anak –anakan
-
Menyatakan
bagian ,contohnya : bulanan,kiloan,harian,
-
Menyatakan
hal/ objek tertentu : lukisan,tembakan,gambaran,ramalan
-
Menyatakan
alat : meteran, timbangan ,ayunan
-
Menyatakan
keseluruhan : lautan,daratan
Sufiks {-kan} imbuhan jenis
ini akan mengubah suatu kata menjadi kata kerja. Kata kerja yang terbentuk
akibat mendapat sufiks { -kan }
menyatakan makna perintah . Contohnya ambilkan,dengarkan,letakkan,silahkan,tumbangkan.
Sufiks ( -i) kata yang
mendapat imbuhan ini akan mengubah makna menjadi makna perintah. Contohnya
antara lai: cabuti,turuti,lengkap
Sufiks {-nya} kata dengan
{-nya } pad bagian akhiran yang selama ini lebih kita kenal mengungkapkan
keterangan kata ganti orang ketiga tunggal. Akan tetapi sufiks {-nya} dapat
memberikan makna sebagai berikut:
-
Menyatakan
tugas ,contohnya : sesungguhnya,sepertinya
-
Menyatakan
efek penekanan atau penegasan dalam kalimat ,contohnya : “tutup pintunya sekarang”
-
Menjelaskan
situasi ketika digunakan dalam kalimat,contohnya “ Romi belajar dengan
semangatnya”
Sufiks {-man},{-wan},{-wan},{-wati} digunakan penjelasan jenis kelamin .sufiks { –man} dan {–wan }
digunakan ntuk menjelaskan jenis kelamin laki –laki. Sufiks {–wati }digunakan untuk jenis kelamin
perempuan. Contohnya :seniman,wartawan,karyawati,kameraman.
Sufiks { -kah } digunakan
dalam percakapan sehari-hari. Kata dengan imbuhan jenis ini akan berubah makna
menjadi penegasan dalam pertanyan. Contohnya :bukankah,sudahkah,benarkah
Sufiks {-pun} makna yang
terbentuk dari kata dengan imbuhan ini
adalah “ juga”. Contoh kata yang mengandung sufiks ini ,antara lain sayapun ,kitapun. Misal dalam kalimat
sayapun merasa terpukul atas kejadian itu. Sufiks –pun pada kata sayapun
memiliki makna bahwa “saya” juga merasa terpukul seperti yang lainnya.
Sufiks pada kata asing serapan, seperti pada sufiks { -al}.{-lah},{asme},{if}
,{is},{ or}. Contohnya:
Aktual,formal,emosional,alamiah,lahiriah,batiniah,naturalisasi,konfirmasi,antusiasme,sekunder,
primer, tersier,sportif,objektif,subjektif,praktis,ekonomis,narrator,editor.
Contoh lain:
|
cuci +an =
cucian
turun + nya =
turunnya
tepi +
an = tepia
kubang + an =
kubangan
makan + an =
makanan
pangkal+
an = pangkalan
tulis + an =
tulisan
masak + an =
masakan
tahan + an = tahanan
baca +
an = bacaan
|
baca + kan =
bacakan
tuls +
kan = tuliskan
warna + i =
warnai
pulang + nya
= pulangnya
luas + nya =
luasnya
mahal + nya =
mahalnya
nasi + nya =
nasinya
datang + nya
= datangnya
naik + nya =
naiknya
kepada + nya
= kepadanya
|
d.
Konfiks
Konfiksasi
adalah proses pembubuhan afiks di awal dan akhir bentuk dasar secara bersamaan.
Konfiks yang terdiri dari dua unsur.Satu di muka bentuk dasar dan satu di
belakang bentuk dasar. Jenis konfiks antara lain: ber – an, ke – an, me – kan,
se – nya, per – an, dll.
Contoh:
me + laku + kan
= melakukan
ber + pakai +an
= berpakaian
ke + hujan +
an= kehujanan
2.
Pembentukan kata dengan proses pengulangan bentuk dasar (Reduplikasi)
Pengulangan adalah proses
pembentukan kata dengan mengulang satuan bahasa baik secara keseluruhan,
sebagian, maupun disertai dengan perubahan bunyi. Proses ini menghasilkan kata
baru yang lazim disebut kata ulang.
Adapun jenis-jenis reduplikasi menurut
Chaer (2010: 179) yaitu:
1.
Reduplikasi
fonologis, berlangsung pada dasar yang bukan akar atau terhadap yang statusnya
lebih tinggi dari akar. Yang termasuk reduplikasi fonologis adalah bentuk
–bentuk seperti ini:
kuku,dada,pipi,cincin dan sisi.
Bentuk –bentuk tersebut bukan berasa
dari ku,da,cin,dan si. Bentuk-bentuk tetsebut adalah sebuah kata yang bunyi
kedua suku katanya sama.
2.
Reduplikasi
sintaksis, proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang berupa akar, tetapi
menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi dari kata.
Contohnya :
-
Suaminya
benar-benar jantan\
-
Jangan-jangan
kau dekati pemuda itu
-
Jauh-jauh
sekali ngeri yang akan kita datangi
3.
Reduplikasi
semantis, pengulangan makna yang sama dari dua kata yang bersinonim.Misalnya :
ilmu pengetahuan, alim ulama,dan cerdik cendikia. Kata ilmu dan pengetahuan
memiliki makna yang sama ,kata alim dan ulama juga memiliki makna yang sama.
4.
Reduplikasi
morfologis, dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk
berafiks, dan dapat berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan
utuh,pengulangan berubah bunyi dan pengulangan sebagian.
Proses pengulangan banyak terdapat
dalam berbagai bahasa diseluruh dunia. Khusus mengenai reduplikasi dalam bahasa
Indonesia ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
Pertama, bentuk dasar reduplikasi
dalam bahasa Indonesia dapat berupa morfem dasar seperti meja menjadi
meja-meja, bentuk pembangunan yang menjadi pembangunan-pembangunan, dan bisa
juga berupa bentuk gabungan kata seperti surat-surat kabar atau surat kabar –
surat kabar.
Kedua, bentuk reduplikasi yang
disertai afiks prosesnya mungkin merupakan proses reduplikasi dan proses
afiksasi yang terjadi bersamaan seperti pada bentuk bermeter-meter atau proses
reduplikasi terlebih dahulu, baru disusul dengan proses afiksasi, seperti pada
berlari-lari dan mengingat-ingat,atau juga proses afiksasi terjadi lebih
dahulu, baru kemudian diikuti oleh proses reduplikasi, seperti pada
kesatuan-kesatuan.
Ketiga, pada dasar yang berupa
gabungan kata, proses reduplikasi mungkin harus berupa reduplikasi penuh,
tetapi mungkin juga hanya reduplikasi parsial. Misalnya, ayam itik - ayam itik,
dan sawah ladang – sawah ladang adalah contoh reduplikasi penuh, dan contoh
untuk reduplikasi parsial surat-surat kabar serta rumah-rumah sakit.
Keempat, banyak orang yang menyangka
bahwa reduplikasi dalam bahasa Indonesia hanya bersifat paradigmatis dan hanya
memberi makna jamak atau variasi. Namun, sebenarnya reduplikasi dalam bahasa
Indonesia juga bersifat derivasional. Oleh karena itu, munculnya bentuk-bentuk
seperti mereka-mereka, kita-kita, kamu-kamu, dan dia-dia tidak dapat dianggap
menyalahi kaidah bahasa Indonesia.
Kelima, ada
pakar yang menambahkan adanya reduplikasi semantis yakni dua buah kata yang
maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal.Misalnya, ilmu
pengetahuan, hancur luluh, dan alim ulama.
Keenam, dalam bahasa Indonesia ada
bentuk-bentuk seperti kering kerontang, tua renta, dan segar bugar di satu
pihak dan di pihak lain ada bentuk-bentuk seperti mondar-mandir, tunggang-langgang,
dan komat-kami. Berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya, pengulangan dapat
digolongkan menjadi empat golongan:
1) Pengulangan seluruh
Pengulangan seluruh ialah
pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi
dengan proses pembubuhan afiks. Misalnya:
-
sepeda
= sepeda-sepeda
-
buku
= buku-buku
-
sekali
= sekali-sekali
2) Pengulangan sebagian
Pengulangan sebagian ialah
pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya.Di sini bentuk dasar tidak diulang
seluruhnya. Apabila bentuk dasar itu berupa bentuk kompleks, kemungkinan –
kemungkinan bentuknya sebagai berikut:
-
Bentuk
meN-, misalnya: menjalankan = menjalan –
jalankan.
-
Bentuk
di- , misalnya: ditarik = ditarik – tarik.
-
Bentuk
ber- , misalnya: berjalan = berjalan – jalan.
-
Bentuk
ter- , misalnya: tergoncang = tergoncang – goncang.
-
Bentuk
ber -an, misalnya: berjauhan = berjauh – jauhan.
-
Bentuk
-an , misalnya: tumbuhan = tumbuh – tumbuhan.
-
Bentuk
ke- , misalnya: kedua = kedua – dua.
3) Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks
Dalam golongan ini, pengulangan
terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula
mendukung satu fungsi. Misalnya:
-
hitam
= kehitam-hitaman
-
luas
= seluas-luasnya
4) Pengulangan dengan perubahan fonem
Misalnya:
-
gerak
= gerak-gerik
-
serba
= serba-serbi
-
lauk
= lauk-pau
Ramlan (1985 :
69) membagi kata ulang (reduplikasi) berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya
menjadi empat golongan :
a. Pengulangan Seluruh
Pengulangan seluruh ialah pengulangan
seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan
proses pembubuhan afiks.
Contoh:
Sepeda =>
sepeda-sepeda
Buku => buku-buku
Kebaikan => kebaikan-kebaikan
b. Pengulangan Sebagian
Pengulangan sebagian adalah pengulangan
sebagian dari bentuk dasarnya, dengan kata lain bentuk dasar tidak diulang
seluruhnya. Hampir semua bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk
kompleks.
Contoh :
Lelaki => bentuk dasar laki
Tetamu => bentuk dasar tamu
Beberapa => bentuk dasar berapa
c. Pengulangan Yang Berkombinasi Dengan
Proses Pembubuhan Afiks
Dalam golongan ini bentuk dasar diulang
seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulangan
itu terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula
mendukung satu fungsi.
Contoh :
kereta-keretaan => bentuk dasar kereta
gunung-gunungan => bentuk dasar gunung
kekanak-kanakan => bentuk dasar kanak
d. Pengulangan Dengan Perubahan Fonem
Kata ulang yang pengulangannya termasuk
golongan ini sebenarnya sangat sedikit.
Contoh :
gerak => gerak-gerik
robek => robak-rabik
serba => serba-serbi
rebut => berebut-rebutan
3.
Pembentukan kata dengan menggunakan dua kata atau lebih bentuk dasar ( Komposi
Komposisi adalah penggabungan dasar
dengan dasar ( biasannya berupa akar maupun bentuk berimbuhan) untuk mewadahi
suatu “ konsep” yang belum tertampung dalam sebuah kata. Komposisi dalam
bahasasa Indonesia merupakan satu mekanisme yang cukup penting dalam
pembentukan dan pengayaan kosa kata
Chaer (2008:209). Sedangkan menurut Prof Dr. E. Zaenal Arifin
dan Dra.Junaiyah ,H.M.,M.Hum ( 2009: 15) menjelaskan bahwa komposisi atau
pemajemukan atau penggabungan adalah suatu proses morfologis yang mengubah
gabungan leksem menjadi satu kata.
Contoh :
Kata meja hijau
yang terbentuk dasar meja dan hijau
Kata tinggal
landas terbentuk dari kata dasar tinggal
dan landas
Kata tempat
gelap terbentuk dari kata dasar tempt dan gelap
Pemajemukan
menurut Prof Dr. E. Zaenal Arifin dan Dra.Junaiyah ,H.M.,M.Hum ( 2009: 15)
Terbagi menjadi
3 yaitu :
-
Pemajemukan
bentuk bebas dan bentuk bebas
Contoh : Kerja sama, terima kasih, buku kas, riwayat hidup
-
Pemajemukan
bentuk bebas dan bentuk terikat
Contoh :
biodata,narasumber,narapidana,pasca sarjana
-
Pemajemukan
bentuk terikat dan bentuk terikat.
DAFTAR PUSTAKA
Verhaar,
J.W.M. 1992. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Muslich,
Mansur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah Tatabahasa
Deskrptif. Jakarta: Bumi Aksara.
Chaer, Abdul.
2008. Morfologi Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Ramlan, M.
2009. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Ramlan, M. 1985. Ilmu Bahasa
Indonesia, Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono
Kridalaksana, H.http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/viewFile/24788/75676576233.(diakses pada 8 Oktober 2019,
05.07)
Suparno, Darsita. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia.
UIN Jakarta: UIN Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar