Rabu, 22 Januari 2020

Sub bab 5 proses morfologi



A.  Pengertian Proses Morfologi
            Proses morfologi adalah penyusunan dari komponen –komponen kecil menjadi menjadi bentuk yang lebih besar berupa kata kompleks. Proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya.Adapun pengertian proses morfologi menurut berbagai para ahli yaitu:
1.      Proses morfologis  adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Ramlan (2009:51)
2.      Proses morfologis ialah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Samsuri, ( 1982: 190)
3.      Proses yang dialami bentuk –bentuk lingual dalam menyusun kata-kata ( Ahmadslamet,1982:58).
4.      Sudaryanto( 1992:15) menjelaskan bahwa proses morfologis adalah proses pengubahan kata dengan cara yang teratur atau keteraturan cara pengubahan dengan alat yang sama ,menimbulkan komponen maknawi baru pada kata hasil pengubahan,kata baru yang dihasilkan bersifat polifermisi.
5.       Menurut  Chaer ( 2015: 15) proses morfologi pada dasarnya adalah pembentukan kata dairi sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks,pengulangan ( dalam proses reduplikasi ),penggabungan ( dalam proses komposisi),pemendekan ( dalam proses akronimisai),dan pengubahan status ( dalam proses morfologi).
            Seperti pada kata perumahan ,rumah-rumah,rumah makan. Dari ketiga bentuk kata tersebut bahwa bentuk dasar rumah bisa menghasilkan kata-kata baru.  Kata perumahan dihasilkan dengan cara melekatkan afiks { per-an }pada bentuk dasar rumah dan kata rumah makan dengan cara menggabungkan bentuk dasar rumah dan makan.
            Berdasarkan strukturnya suatu kata digolongkan menjadi 2 yaitu kata bermorfem tunggal atau monomorfemis dan kata yang bermorfem lebih dari satu atau polifermis.Suatu kata yang monomerfemis tidak akan mengalami peristiwa pembentukan sbelumnya sebab morfem itu satu-satunya unsur atau anggota baru. Seperti bentuk pergi pada kalimat Dia akan pergi ke sekolah morfem {pergi} menjadi kata pergi sama sekali tidak mengalami peristiwa pembentukan. Bahasa-bahasa di dunia memiliki cara-cara tersendiri dalam proses pembentukan katanya sehingga proses morfologis tidak bisa ditemukan dalam setiap bahasa.Akan tetapi ini berbeda dengan suatu kata yang polimorfemis. Morfem-morfem yang menjadi anggota kata ini mengalami peristiwa pembentukan sebelumnya. Peristiwa pembentukan ini biasanya disebut proses morfologis.

B.     CIRI SUATU KATA YANG MENGALAMI PROSES MORFOLOGIS.
Menurut Muslich ( 2010 : 33)ciri –ciri suatu kata yang mengalami proses morfologis yaitu
1. Apabila morfem-morfem yang membentuk atau yang menjadi unsur kata berbeda-beda fungsinya. Ada yang berfungsi sebagai penggabung. Contohnya seperti pada morfem { tulis} ,{bangun},{murid} dan { gelap}berfungsi sebagai tempat penggabungan. Sedangkan morfem { meN},{peN-an}, {ulang } dan {gulita} berfungsi sebagai penggabung. Morfem yang sebagai penggabung biasanya disebut bentuk dasar.
1.      Dalam bahasa Indonesia ,bentuk dasar tidak selau bermorfem tunggal sebagaimana yang dicontohkan diatas,tetapi mungkin berupa morfem kompleks. Contohnya:
-          Membelajarkan  bentuk dasarnya adalah belajar
-          Bersusah payah  bentuk dasarnya adalah susah payah
-          Ketidakadilanbentuk dasarnya adalah tidak adil.Dari ketiga morfem tersebut mendapat imbuhan {me-kan},{ber} dan { ke-an}.
2.      Dilihat dari wujudnya ,bentuk dasar dapat berupa pokok kata, bahkan berupa kelompok kata.Contohnya :
-          Bentuk dasar kata menemukan berasal dari pokok kata temu
-          Bentuk dasar kata perbaikan berasal dari pokok kata baik
-          Bentuk dasar kata disatukan berasal dari pokok kata satu
-          Bentuk dasar kata mengesampingkan adalah kelompok kata kata ke samping
-          Bentuk dasar kata ketidakmampuan adalah kelompok kata tidak mampu
-          Bentuk dasar kata dikemukakan adalah kelompok kata ke muka
3.      Penggabungan morfem atau perpaduan morfem –morfem itu mengalami perubahan arti
-          Bentuk dasar cangkul setelah mendapat gabungan morfem {meN-} sehingga menjadi kata mencangkul. Artinya menjadi “ melakukan pekerjaan dengan alat cangkul”
-          Bentuk  dasar juang setelah mendapat gabungan morfem {ber-} sehingga menjadi kata berjuang  atinya menjadi melakukan tindakan juang.
Demikian,apabila ada suatu kata yang seolah-olah mengalami perubahan dari bentuk dasarnya,tetapi sama sekali tidak didikuti oleh penambahan atau perubahan arti ,peristiwa ini tidak dikatakan sebagai proses morfologi.

C.    .MACAM – MACAM PROSES MORFOLOGIS
Menurut Masnur ( 2010:35)  dalam bahasa indoensia peristiwa pembentukan kata  ada 3 maca yaitu
1.      Pembentukan kata dengan menambahkan morfem afiks pada bentuk dasar..
Hasil pembentukan model pertama , misalnya menulis ,pembangunan,dan  makanan . kata menulis terbentuk dari kata tulis dan imbuhan  {meN-}. Kata pembangunan terbentuk dari bentuk dasar bangun  dan morfem imbuhan {peN-an} dan kata makanan terbentuk dari bentuk dasar makan dan morfem imbuhan {an}.
2.      Pembentukan kata dengan mengulang bentuk dasar,dan.
Hasil pembentukan model  kedua terlihat pada kata ,misalnya murid-murid ,mencaari-cari,memukul-mukul yang terbentuk dari bentuk dasar murid ,mencari, dan memukul dengan morfem { ulang} : kata diberi –berikan dibentuk dari bentuk dasar diberikan dan mofem { ulang}.
3.      Pembentukan kata dengan menggabungkan dua atau  lebih bentuk dasar.
Hasil pembentukan kata model ketiga terlihat pada kata ,misalnyameja hijau kata meja hijau terbentuk dari bentuk dasar meja dan hijau. Kata tinggal landasterbentuk dari bentuk dasar tinggal dan landas.Kata tempat gelap terbentuk dari kata dasr tempat dan gelap.Dan kata mata kaki terbentuk dari kata dasar mata dan kaki.
Dari uraian diatas ,terlihat berdasarkan proses pembentukannya dalam bahasa Indonesia terdapat kata berimbuhan ,kata ulang,dan kata majemuk.

Proses morfologis pada dasarnya adalah pembentukan proses eebuah kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks( dalam proses afiksasi), pengulangan ( dalam proses reduplikasi ),penggabungan ( dalam proses komposisi) ,pemendekakan ( dalam proses akronimisasi ) dan pengubahan staus ( dalam proses konvrsi). Chaer (2008: 25). 
1.      Proses Pembubuhan Afiks. ( Afiksasi)
            Proses morfologis yang sering dijumpai ialah afiksasi, yaitu penggabungan akar atau pokok dengan afiks . Afiksasi adalah proses pembentukan kata yang dilakukan dengan cara membubuhkan morfem terikat berupa afiks pada bentuk dasar. Dalam proses pembubuhan afiks, bentuk dasar merupakan salah satu dari unsur yang bukan afiks. Afiks merupakan satuan gramatik  terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. Afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik berkategori verba ,berkategori nomina ,maupun berkategori ajektiva . Chaer ( 2008: 106-142)
a.          Prefiks (awalan)
Prefiksasi adalah proses pembubuhan afiks (morfem terikat) yang dapat dilakukan di depan bentuk dasar. Jenis prefiks (awalan) antara lain: ber-, se-, me-, ter-, di-, dll.
-          prefiks ber seperti contoh dibawah ini:
-          bermesin “ ada mesinya
-          berjendela “ ada jendelanya”
-          berkewajiban mempunyai “ kewajiban”
-          bertanggung jawab mempunyai “ tanggung jawab”
-          berjuang  “ sedang berjuang”
-          beracun “ mengandung racun”
-          berkuman “ mengandung kuman”
-          berkebaya “ memakai kebaya”
-          bertelur “ mengeluarkan telur”
-          berkakak “ menyebut kakak”
-          beradik “ menyebut adik”
-          berair mata “ mengeluarkan air mata”
-          berceramah “ memberi ceramah”
-          berjilbab  “ memakai jilbab”
-          berkereta “menumpang kereta”
-          berdarah “ mengandung darah”
-          berdiskusi “ melakukan diskusi”
-          bersedekah “ memberi sedekah”
-          bersalin  dengan makna melahirkan
-          bersawah “ mengerjakan sawah”
-          berladang “ mengusahakan lading
-          beternak “ mengusahakan ternak”
-          bergembira “ dalam keadaan gembira “
-          berekreasi “ melakukan rekreasi”
Contoh lain: beristri,bersaudara, berasas, berbagasi.


-          prefiks ter  seperti contoh dibawah ini:
-          tercangkul “ tak sengaja dicangkul”
-          tersendok “ tak sengaja di sendok”
-          tergambar  “ dapat digambarkan”
-          terpengaruh  “ dapat dipengaruhi”
-          terbukti ( dapat dibuktikan)
-          terbaca “ dapat dibaca”
-          terbawa “ dapat dibawa”
-          terangkut “ dapat diangkut”
-          terputus “ sudah terjadi ( putus)

-          Terbangun ( menyatakan ketiba-tibaan)
-          Teringat ( menyatakan ketiba-tibaan)
-          Terangkat  ( menyatakan dapat atau sanggup)
-          Terkejar ( menyatakan dapat atau sanggup)
-          Terlihat “ dapat dilihat’
-          Tersangka “ yang disangka”
-          Terpidana “ yang dipidana ”

-          prefiks me- ,dapat berbentuk {me- ,men,meny- ,meng dan menge }seperti contoh dibawah ini:
-          membaca
-          menulis
-          menyapu
-          mendidik
-          menghibur
-          menggali
-          meghubungi
-          memperdulikan
-          mengeluarkan
-          mencuri
-          menendang
-          menerobos
-          melekat
-          -menanti
-          -menaiki
-          Meyakini
-          Melongo
-          Menggambar
-          Memperingati
-          Mengambil

a.       Prefiks {di-} menyatakan suatu tindakan yang pasif .tetapi pengertian pasif disini semata-mata dihubungkan dengan subjeknya .( Baca Alisjahbana,1957; Purwo,1988: 32-34). Contohnya yaitu diambil,disiram ,dibayar, dibaca ,dibuang,dimasak,ditanam
b.      Infiksasi adalah proses  pembubuhan Infiks (sisipan)
Infiksasi adalah proses pembubuhan afiks di tengah bentuk dasar. Penulisan afiks ini ditulis serangkai dengan kata dasarnya sebagai satu kesatuan. Jenis infiks (sisipan) antara lain: -em-, -el-,-er, dan -in-.
Contoh:
-          telapak       berasal dari kata dasar tapak
-          telunjuk      berasal dari kata dasar tunjuk
-          gemetar       berasal dari kata dasar getar
-          seruling     berasal dari kata dasar suling
-          geirigi       berasal dari kata dasar gigi
-          geligi         berasal dari kata dasar gigi
-          pelatuk      berasal dari kata dasar patuk
-          gendering  berasal dari kata dasar  gendang

c.       Sufiks (akhiran)
            Sufiksasi adalah proses pembubuhan afiks di akhir bentuk dasar.Sufiks adalah imbuhan dalam suatu kata yang mana posisinya berada dibelakang atau akhir kata. Makna pada kata berimbuhan juga akan berada dengan kata dasar.Penulisan afiks ini ditulis serangkaian dengan kata dasarnya, sebagai satu kesatuan. Jenis sufiks (akhiran) antara lain:{ -an, -i, -kan, -nya, dll}.
Sufiks { an-} akan mengubah kata menjadi bentuk kata benda. Berikut ini beberapa arti makna yang terbentuk dari sufiks (an-}.
-          Menyatakan tempat ,contohnya : tumpuan,pangkalan,lapangan,kubangan,jalanan
-          Menyatakan menyerupai ,contohnya : rumah –rumahan,mobil –mobilan, anak –anakan
-          Menyatakan bagian ,contohnya : bulanan,kiloan,harian,
-          Menyatakan hal/ objek tertentu : lukisan,tembakan,gambaran,ramalan
-          Menyatakan alat : meteran, timbangan ,ayunan
-          Menyatakan keseluruhan : lautan,daratan
Sufiks {-kan} imbuhan jenis ini akan mengubah suatu kata menjadi kata kerja. Kata kerja yang terbentuk akibat mendapat sufiks {  -kan } menyatakan makna perintah . Contohnya ambilkan,dengarkan,letakkan,silahkan,tumbangkan.
Sufiks ( -i) kata yang mendapat imbuhan ini akan mengubah makna menjadi makna perintah. Contohnya antara lai: cabuti,turuti,lengkap
Sufiks {-nya} kata dengan {-nya } pad bagian akhiran yang selama ini lebih kita kenal mengungkapkan keterangan kata ganti orang ketiga tunggal. Akan tetapi sufiks {-nya} dapat memberikan makna sebagai berikut:
-          Menyatakan tugas ,contohnya : sesungguhnya,sepertinya
-          Menyatakan efek penekanan atau penegasan dalam kalimat ,contohnya : “tutup pintunya sekarang
-          Menjelaskan situasi ketika digunakan dalam kalimat,contohnya “ Romi belajar dengan semangatnya”
Sufiks {-man},{-wan},{-wan},{-wati} digunakan penjelasan jenis kelamin .sufiks { –man} dan {–wan } digunakan ntuk menjelaskan jenis kelamin laki –laki. Sufiks  {–wati }digunakan untuk jenis kelamin perempuan. Contohnya :seniman,wartawan,karyawati,kameraman.
Sufiks { -kah } digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata dengan imbuhan jenis ini akan berubah makna menjadi penegasan dalam pertanyan. Contohnya :bukankah,sudahkah,benarkah
Sufiks {-pun} makna yang terbentuk dari kata dengan imbuhan  ini adalah “ juga”. Contoh kata yang mengandung sufiks ini ,antara lain sayapun ,kitapun. Misal dalam kalimat sayapun merasa terpukul atas kejadian itu. Sufiks –pun pada kata sayapun memiliki makna bahwa “saya” juga merasa terpukul seperti yang lainnya.
Sufiks pada kata asing serapan,  seperti pada sufiks { -al}.{-lah},{asme},{if} ,{is},{ or}. Contohnya:
Aktual,formal,emosional,alamiah,lahiriah,batiniah,naturalisasi,konfirmasi,antusiasme,sekunder, primer, tersier,sportif,objektif,subjektif,praktis,ekonomis,narrator,editor.
Contoh lain:
cuci +an = cucian
turun + nya = turunnya
tepi + an  = tepia
kubang + an = kubangan
makan + an = makanan
pangkal+ an  = pangkalan
tulis + an = tulisan
masak + an = masakan
tahan + an  = tahanan
baca + an  = bacaan
baca + kan = bacakan
tuls + kan  = tuliskan
warna + i = warnai
pulang + nya = pulangnya
luas + nya = luasnya
mahal + nya = mahalnya
nasi + nya = nasinya
datang + nya = datangnya
naik + nya = naiknya
kepada + nya = kepadanya

d.       Konfiks
Konfiksasi adalah proses pembubuhan afiks di awal dan akhir bentuk dasar secara bersamaan. Konfiks yang terdiri dari dua unsur.Satu di muka bentuk dasar dan satu di belakang bentuk dasar. Jenis konfiks antara lain: ber – an, ke – an, me – kan, se – nya, per – an, dll.
Contoh:
me + laku + kan = melakukan
ber + pakai +an = berpakaian
ke + hujan + an= kehujanan
2.      Pembentukan kata dengan proses pengulangan bentuk dasar  (Reduplikasi)
            Pengulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang satuan bahasa baik secara keseluruhan, sebagian, maupun disertai dengan perubahan bunyi. Proses ini menghasilkan kata baru yang lazim disebut kata ulang.
 Adapun jenis-jenis reduplikasi menurut Chaer  (2010: 179) yaitu:
1.            Reduplikasi fonologis, berlangsung pada dasar yang bukan akar atau terhadap yang statusnya lebih tinggi dari akar. Yang termasuk reduplikasi fonologis adalah bentuk –bentuk seperti ini:
kuku,dada,pipi,cincin dan sisi. Bentuk –bentuk  tersebut bukan berasa dari ku,da,cin,dan si. Bentuk-bentuk tetsebut adalah sebuah kata yang bunyi kedua suku katanya sama.
2.            Reduplikasi sintaksis, proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang berupa akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi dari kata.
Contohnya :
-          Suaminya benar-benar jantan\
-          Jangan-jangan kau dekati pemuda itu
-          Jauh-jauh sekali ngeri yang akan kita datangi
3.              Reduplikasi semantis, pengulangan makna yang sama dari dua kata yang bersinonim.Misalnya : ilmu pengetahuan, alim ulama,dan cerdik cendikia. Kata ilmu dan pengetahuan memiliki makna yang sama ,kata alim dan ulama juga memiliki makna yang sama.
4.              Reduplikasi morfologis, dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk berafiks, dan dapat berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh,pengulangan berubah bunyi dan pengulangan sebagian.
            Proses pengulangan banyak terdapat dalam berbagai bahasa diseluruh dunia. Khusus mengenai reduplikasi dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
            Pertama, bentuk dasar reduplikasi dalam bahasa Indonesia dapat berupa morfem dasar seperti meja menjadi meja-meja, bentuk pembangunan yang menjadi pembangunan-pembangunan, dan bisa juga berupa bentuk gabungan kata seperti surat-surat kabar atau surat kabar – surat kabar.
            Kedua, bentuk reduplikasi yang disertai afiks prosesnya mungkin merupakan proses reduplikasi dan proses afiksasi yang terjadi bersamaan seperti pada bentuk bermeter-meter atau proses reduplikasi terlebih dahulu, baru disusul dengan proses afiksasi, seperti pada berlari-lari dan mengingat-ingat,atau juga proses afiksasi terjadi lebih dahulu, baru kemudian diikuti oleh proses reduplikasi, seperti pada kesatuan-kesatuan.
            Ketiga, pada dasar yang berupa gabungan kata, proses reduplikasi mungkin harus berupa reduplikasi penuh, tetapi mungkin juga hanya reduplikasi parsial. Misalnya, ayam itik - ayam itik, dan sawah ladang – sawah ladang adalah contoh reduplikasi penuh, dan contoh untuk reduplikasi parsial surat-surat kabar serta rumah-rumah sakit.
            Keempat, banyak orang yang menyangka bahwa reduplikasi dalam bahasa Indonesia hanya bersifat paradigmatis dan hanya memberi makna jamak atau variasi. Namun, sebenarnya reduplikasi dalam bahasa Indonesia juga bersifat derivasional. Oleh karena itu, munculnya bentuk-bentuk seperti mereka-mereka, kita-kita, kamu-kamu, dan dia-dia tidak dapat dianggap menyalahi kaidah bahasa Indonesia.
Kelima, ada pakar yang menambahkan adanya reduplikasi semantis yakni dua buah kata yang maknanya bersinonim membentuk satu kesatuan gramatikal.Misalnya, ilmu pengetahuan, hancur luluh, dan alim ulama.
            Keenam, dalam bahasa Indonesia ada bentuk-bentuk seperti kering kerontang, tua renta, dan segar bugar di satu pihak dan di pihak lain ada bentuk-bentuk seperti mondar-mandir, tunggang-langgang, dan komat-kami. Berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya, pengulangan dapat digolongkan menjadi empat golongan:

1)      Pengulangan seluruh
            Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Misalnya:
-          sepeda = sepeda-sepeda
-          buku = buku-buku
-          sekali = sekali-sekali
2)      Pengulangan sebagian
            Pengulangan sebagian ialah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya.Di sini bentuk dasar tidak diulang seluruhnya. Apabila bentuk dasar itu berupa bentuk kompleks, kemungkinan – kemungkinan bentuknya sebagai berikut:
-          Bentuk meN-,  misalnya: menjalankan = menjalan – jalankan.
-          Bentuk di- , misalnya: ditarik = ditarik – tarik.
-          Bentuk ber- , misalnya: berjalan = berjalan – jalan.
-          Bentuk ter- , misalnya: tergoncang = tergoncang – goncang.
-          Bentuk ber -an, misalnya: berjauhan = berjauh – jauhan.
-          Bentuk -an , misalnya: tumbuhan = tumbuh – tumbuhan.
-          Bentuk ke- , misalnya: kedua = kedua – dua.
3)      Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks
            Dalam golongan ini, pengulangan terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi. Misalnya:
-          hitam = kehitam-hitaman
-          luas = seluas-luasnya
4)      Pengulangan dengan perubahan fonem
Misalnya:  
-          gerak = gerak-gerik
-          serba = serba-serbi
-          lauk = lauk-pau
Ramlan (1985 : 69) membagi kata ulang (reduplikasi) berdasarkan cara mengulang bentuk dasarnya menjadi empat golongan :
a.         Pengulangan Seluruh
      Pengulangan seluruh ialah pengulangan seluruh bentuk dasar, tanpa perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks.
Contoh:
Sepeda => sepeda-sepeda
Buku                => buku-buku
Kebaikan         => kebaikan-kebaikan
b.        Pengulangan Sebagian
      Pengulangan sebagian adalah pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya, dengan kata lain bentuk dasar tidak diulang seluruhnya. Hampir semua bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk kompleks.
Contoh :
Lelaki               => bentuk dasar laki
Tetamu            => bentuk dasar tamu
Beberapa        => bentuk dasar berapa
c.         Pengulangan Yang Berkombinasi Dengan Proses Pembubuhan Afiks
      Dalam golongan ini bentuk dasar diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, maksudnya pengulangan itu terjadi bersama-sama dengan proses pembubuhan afiks dan bersama-sama pula mendukung satu fungsi.
Contoh :                                                 
kereta-keretaan          => bentuk dasar kereta
gunung-gunungan              =>  bentuk dasar gunung
kekanak-kanakan           => bentuk dasar kanak
d.        Pengulangan Dengan Perubahan Fonem
      Kata ulang yang pengulangannya termasuk golongan ini sebenarnya sangat sedikit.
Contoh :
gerak               => gerak-gerik
robek               => robak-rabik
serba               => serba-serbi
rebut               => berebut-rebutan
3.      Pembentukan kata dengan menggunakan dua kata atau lebih  bentuk dasar ( Komposi
            Komposisi adalah penggabungan dasar dengan dasar ( biasannya berupa akar maupun bentuk berimbuhan) untuk mewadahi suatu “ konsep” yang belum tertampung dalam sebuah kata. Komposisi dalam bahasasa Indonesia merupakan satu mekanisme yang cukup penting dalam pembentukan dan pengayaan kosa kata  Chaer  (2008:209).  Sedangkan menurut Prof Dr. E. Zaenal Arifin dan Dra.Junaiyah ,H.M.,M.Hum ( 2009: 15) menjelaskan bahwa komposisi atau pemajemukan atau penggabungan adalah suatu proses morfologis yang mengubah gabungan leksem menjadi satu kata.
Contoh :
Kata meja hijau yang terbentuk dasar meja dan hijau
Kata tinggal landas terbentuk  dari kata dasar tinggal dan landas
Kata tempat gelap terbentuk dari kata dasar tempt dan gelap
Pemajemukan menurut Prof Dr. E. Zaenal Arifin dan Dra.Junaiyah ,H.M.,M.Hum ( 2009: 15)
Terbagi menjadi 3 yaitu :
-          Pemajemukan  bentuk bebas dan bentuk bebas 
Contoh :  Kerja sama, terima kasih, buku  kas, riwayat hidup
-          Pemajemukan bentuk bebas dan bentuk terikat
Contoh : biodata,narasumber,narapidana,pasca sarjana
-          Pemajemukan bentuk terikat dan bentuk terikat.




DAFTAR PUSTAKA
Verhaar, J.W.M. 1992. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muslich, Mansur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia Kajian ke Arah Tatabahasa Deskrptif. Jakarta: Bumi Aksara.
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Ramlan, M. 2009. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Ramlan, M. 1985. Ilmu Bahasa Indonesia, Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono
Kridalaksana, H.http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/viewFile/24788/75676576233.(diakses pada 8 Oktober 2019, 05.07)
Suparno, Darsita. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia. UIN Jakarta: UIN Press.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar