Rabu, 22 Januari 2020

Sub bab 3 identifikasi morfem



A.  Identifikasi Morfem
            Morfem adalah bentuk yang paling kecil, yang tidak mempunyai bentuk lain sebagai unsurnya. Banyak morfem yang hanya mempunyai satu struktur fonologi. Misalnya morfem baca, yang fonem-fonemnya, banyaknya fonem serta urutan fonemnya selalu demikian, ialah terdiri dari empat fonem, ialah /b, a, c, dan a/ dengan urutan fonem : /b/ di muka sekali, diikuti /a/, diikuti /c/, diikuti /a/. Tetapi di samping itu, ada pula morfem yang mempunyai banyak struktur fonologi. Misalnya morfem meN- yang mempunyai struktur fonologi mem-, men-, meny-, meng-, menge-, dan me-, misalnya membawa, mendatang, menyuruh, menggali, mengebom, dan melerai (Ramlan, 1985:32)
            Sebuah morfem dapat dibentuk dengan sebuah kata. Sebuah kata belum tentu selalu terdiri atas hanya satu morfem saja (Rohmadi, 2012:23). Dalam kalimat “Adik membuat motor-motoran” terlihat ada tiga kats dengan rincian sebagai berikut:
            Kata pertama   : Adik              (satu morfem)
            Kata kedua      : membuat       (dua morfem, me, dan buat)
            Kata ketiga      : motor-motoran (tiga morfem, motor, motor-motor, dan an)
            Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa kata Adik merupakan satu kata yang hanya terdiri atas satu morfem (dalam hal ini ialah morfem bebas). Kata membuat merupakan satu kaya yang dibentuk oleh dua morfem, yaitu morfem terikat me- dan morfem bebas buat. Kata motor-motoran merupakan satu kata (bentuk ulang berimbuhan) yang dibetuk oleh morfem motor dalam bentuk ulang (dua morfem), dan morfem terikat –an sebagai imbuhan akhir (sufiks).
            Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keududkan morfem tidak selalu sama dengan kata. Kadang sebuah kata berupa satu morfem (misalnya : adik),kadang terdiri atas lebih dari satu morfem (misalnya: adik-adik), dst. Namun demikian, tidak semua morfem dapat disebut sebagai kata. Misalnya, me- dalam kata membuat adalah morfem terikat, namun me- bukan kata.




2.1 Cara Menentukan Morfem
            Satuan bahasa merupakan komposit antara bentuk dan makna. Oleh karena itu,untuk menetapkan sebuah bentuk adalah morfem atau bukan didasarkan pada kriteria bentuk dan makna itu (Chaer, abdul. 2015:13). Hal-hal berikut dapat dipedomani untuk menentukan morfem dan bukan morfem:
1)      Dua bentuk yang sama atau lebih, memiliki makna yang sama merupakan sebuah morfem. Umpamanya kata bulan pada ketiga kalimat berikut:
      Bulan depan dia akan menikah
      Sudah tiga bulan Fany belum bayar SPP
      Bulan Januari adalah hari kelahiranku.

2)      Dua bentuk yang sama atau lebih bila memiliki makna yang berbeda merupakan dua morfem yang berdeda. Misalnya kata bunga pada kedua kalimat berikut:
      Bank Indonesia member bunga 5 persen per tahun
      Brian datang membawa bunga.

3)      Dua buah bentuk yang berbeda, tetapi memiliki makna yang sama, merupakan dua morfem yang berbeda. Umpamanya kata ayah dan bapak pada kedua kalimat berikut:
      Ayah pergi ke Papua
      Bapak baru pulang dari Papua

4)      Bentuk-bentuk yang mirip (berbeda sedikit) tetapi maknanya sama adalah sebuah morfem yang sama, asal perbedaan bentuk itu dapat dijelaskan secara fonologis. Umpanyan bentuk-bentuk me-, mem-, men-, menye-, meng-, dan menge- pada morfem berikut:
      Melihat
      Membina
      Mendengar
      Menyusul
      Mengambil
      Mengecat

5)      Bentuk yang hanya muncul dengan pasangan satu-satunya adalah juga sebuah morfem. Umpamanya bentu renta pada kontruksi tua renta dan bentuk kuyuk pada kontruksi basah kuyup adalah juga morfem. Contoh lain pada bentuk bugar pada segar bugar, dsb.

6)      Bentuk yang muncul berulang-ulang pada satuan yang lebih besar apabila memiliki makna yang sama adalah juga merupakan morfem yang sama. Misalnya:
      Membaca
      Pembaca
      Pembacaan
      Bacaan
      Terbaca
      Keterbacaan

7)      Bentuk yang muncul berulang-ualang pada satuan bahasa yang lebih besar (klausa, kalimat) apabila maknanya berbeda secara polisemi adalah juga merupakan morfem yang sama. Umpamanya kata kepala pada kalimat-kalimat berikut memiliki makna yang berbeda secara polisemi, tetapi tetap merupakan morfem yang sama. Misalnya:
      Ibunya menjadi kepala sekolah
      Nomor teleponnya tertera pada kepala surat
      Kepala jarum itu terbuat dari plastic
      Setiap kepala mendapat bantuan 10 juta rupiah.

2.3 Morf
     Morf merupakan variasi morfem yang tidak merubah makna aslinya. Morf juga dapat disebut sebagai satuan terkecil yang masih belum jelas maknanya dari morfem terikat, entah ia akan menjadi sebuah alomorf atau menjadi morfem.
Contoh:
Me + nari        = menari
Ber + kendara = berkendara
Di + dengar     = didengar

2.4 Alomorf
            Alomorf merupakan suatu morfem yang wujudnya berbeda, tapi mempunyai fungsi dan makna yang sama (Arifin, zaenal:2009).Dapat diartikan secara singkat, bahwa alomorf merupakan variasi bentuk suatu morfem yang berubah atau mengalami peleburan karena lingkungan.
2.5 Kata
            Kata merupakan satuan ujaran bebas terkecil yang bermakna (Muslich, Masnur:2010).
Perbedaan kata dengan morfem, yaitu:
1.      Kata memungkinkan untuk disisipi oleh ujaran lain.
2.      Morfem, jika dibandingkan dengan morfem terdapat beberapa morfem yang demikian eratnya sehingga diantaranya tidak dapat disisipi oleh satuan ujaran lain.


B. Jenis-Jenis Morfem
Chaer (1994: 151) mengklasifikasikan morfem sebagai berikut ini.

1.        Berdasarkan kebebasannya
Berdasarkan kebebasannya dibedakan menjadi:
a.         Morfem bebas
            Morfem bebas yaitu morfem yang tanpa kehadiran morfem lain dapat muncul dalam penuturan. Misalnya, bentuk, datang, minum, rumah, bagus, adalah termasuk morfem bebas.
b.        Morfem terikat
            Morfem terikat yaitu morfem yang tidak mempunyai kemampuan untuk berdiri sendiri dan yang selalu terikat dengan morfem lain untuk membentuk ujaran. Misalnya, bentuk, latih, henti, gaul, dan semua bentuk afiks. Morfem terikat dalam tatabahasa Indonesia dapat dibagi lagi atas empat macam berdasarkan tempat terikatnya pada sebuah morfem dasar:
1)        Prefiks   ( awalan)    :    per-, me-, ter-, di-, dan lain-lain.
2)        Infiks     ( sisipan)   :    -el-, -er-, -em-.
3)        Sufiks    (akhiran)  :    -an, -kan, -i.
4)        Konfiks                     :    gabungan    dari   dua   atau  lebih   dari
            Kedua macam morfem di atas yang bersama-sama membentuk suatu kesatuan arti.Morfem terikat dapat dibeda-bedakan lagi menurut fungsinya, ada yang berfungsi untuk membentuk kata kerja, ada yang bertugas untuk membentuk kata benda, ada pula yang digunakan untuk membentuk kata sifat. Pembagian yang kompleks adalah pembagian yang didasarkan atas arti yang didukungnya. Tetapi arti yang didukungnya itu pun belum sepenuhnya  mutlak, masih merupakan suatu kemungkinan: arti yang tepat harus selalu ditinjau dari suatu konteks. Berkenaan dengan morfem terikat ini, dalam bahasa Indonesia ada beberapa hal yang perlu dikemukakan.

Cara membedakan morfem bebas dan morfem terikat adalah sebagai berikut.
ü  Mem-perkecil
ü  Per-kecil

            Jika besar dipotong lagi, maka ke- dan -cil masing-masing tidak mempunyai makna. Bentuk seperti mem-, per-, dan kecil disebut morfem. Morfem yang dapat berdiri sendiri, seperti kecil, dinamakan morfem bebas, sedangkan yang melekat pada bentuk lain, seperti mem- dan per-, dinamakan morfem terikat. Dengan batasan itu, maka sebuah morfem dapat berupa kata (seperti kecil di atas), tetapi sebuah kata dapat terdiri atas satu morfem atau lebih. Contohnya memperkecil di atas adalah satu kata yang terdiri atas tiga morfem, yakni dua morfem terikat mem- dan per- serta satu morfem bebas besar. Sebaliknya, berikut besar itu sendiri adalah satu morfem yang kebetulan juga satu kata. Berikut ini beberapa contoh lain beserta keterangannya.
·           Memjualmorfem bebas : jual
·           morfem terikat : mem-
·           Mendukung morfem bebas : dukung
·           morfem terikat : men-
·           Permohonanmorfem bebas : mohon
·           Morfem terikat : per-an

2. Berdasarkan keutuhaannya
Berdasarkan keutuhaannya morfem dibedakan menjadi:
a.         Morfem utuh
            Morfem utuh yaitu morfem yang merupakan satu kesatuan yang utuh, satu di awal dan satu di belakang. Pada kata Indonesia kesatuan. Terdapat satu morfem utuh yaitu {satu}, {meja}, {kursi}, {rumah},{henti}, {juang}, dan sebagainya.

b.        Morfem terbagi
            Morfem terbagi yaitu morfem yang merupakan dua bagian yang terpisah atau terbagi. Misalnya, pada kata satuan (satu) merupakan morfem utuh dan (ke-/-an) adalah morfem terbagi. Semua afiks dalam bahasa Indonesia termasuk morfem terbagi.

3. Berdasarkan unsur pembentuknya
Berdasarkan unsur pembentuknya dibedakan menjadi:
1)        Segmental
            Morfem segmental yaitu morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental, seperti morfem {lari}, {kah}, {kali}, dan {ter}, (lihat), (lah) dan semua morfem yang berwujud bunyi. Jadi, semua morfem yang berwujud bunyi adalah morfem segmental.
2)        Morfem suprasegmental
            Morfem suprasegmental yaitu morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya. Contohnya, seperti dalam bahasa Cina, Burma, dan Tha. Contoh lain, dalam bahasa Babah misalnya ada kata botar(tekanan pada suku pertama) artinya “putih”. Di samping itu juga bentuk botar(tekanan pada suku kedua) artinya “darah”. Di sini unsur kedua bentuk itu sama yaitu b,o,t,a,r sedangkan unsur suprasegmentalnya adalah tekanan.

4. Berdasarkan maknanya
Berdasarkan maknanya, morfem dibedakan menjadi:
1)        Morfem bermakna leksikal
Morfem bermakna leksikal yaitu morfem-morfem yang secara inheren telah memiliki makna pada dirinya sendiri, tanpa perlu berproses dengan morfem lain. Misalnya, morfem-morfem seperti (kuda), (pergi), (lari), dan sebagainya adalah morfem bermakna leksikal. Morfem-morfem seperti itu sudah dapat digunakan secara bebas dan mempunyai kedudukan yang otonom dalam pertuturan.
2)        Morfem tak bermakna leksikal.
Morfem tak bermakna leksikal yaitu morfem-morfem yang tidak mempunyai makna apa-apa pada dirinya sendiri sebelum bergabung dengan morfem lainnya dalam proses morfologis. Jadi morfem ini baru mempunyai makna dalam gabungannya dengan bentuk lain dalam ujaran.Misalnya, morfem-morfem afiks {ber-}, {me-}, {ter-}, {tetapi}, {kalau}, {ke} dan sebagainya.

C. Morfem Dasar, Bentuk Dasar, Pangkal Akar, Leksem.
1.        Morfem dasar.
            Morfem dasar (base) adalah morfem yang menjadi bentuk dasar dalam suatu proses morfologi artinya dapat diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, dapat diulang dalam proses reduplikasi, atau dapat digabung dengan morfem yang lain dalam suatu proses komposisi atau pemajemukan. Dalam morfem dasar ada yang berupa morfem bebas contohnya {beli}, {kucing}, dan juga ada yang berupa morfem terikat contohnya {juang}, {henti}, dan {tempur}. Morfem dasar dapat diberi afiks tertentu dalam proses afiksasi, bisa diulang dalam suatu proses reduplikasi, dan bisa digabung dengan morfem lain dalam proses komposisi. Contoh pada {berbicara}, terdiri dari dua morfem yaitu {ber-}, dan {bicara}, {bicara} merupakan morfem dasar dan {ber-} merupakan afiks.

2.        Morfem pangkal.
            Morfem pangkal (stem) merupakan bentuk dasar dalam proses pembentukan kata infleksi. Atau bagian dari kata sebelum diberi tambahan afiks. Dalam bahasa Indonesia proses pembentukan kata infleksi hanya terjadi pada proses pembentukan verba transitif yakni verba yang berprefiks me- (yang dapat diganti dengan di-, prefiks ter-, dan prefiks zero). Misalnya  pada kata membeli pangkalnya adalah beli, pada kata mendaratkan pangkalnya dalah daratkan dan kata menangisi pangkalnya adalah tangisi.

3.        Morfem akar.
            Morfem akar (root) digunakan untuk menyebutkan bentuk yang tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi. Artinya, akar adalah bentuk yang tersisa setelah semua afiks ditanggalkan. Misalnya pada kata memberlakukan setelah semua afiks ditanggalkan yaitu {me-}, {ber-}, dan {-kan}dengan cara tertentu , maka yang tersisa adalah akar laku. Jadi akar (root) merupakan istilah untuk menyebutkan bentuk kata yang tidak bisa dibagi lagi dan tidak ada penambahan imbuhan lagi. Contoh lain kata keberterimaan kalua semua afiksnya ditinggalkan akan tersisisa akarnya yaitu bentuk terima. Bentuk terima ini pun tidak dapat dianalisis lebih jauh lagi.



4.         Leksem.
            Leksem digunakan dalam dua bidang kajian linguistik, yaitu bidang morfologi dan bidang semantik. Dalam kajian morfologi, leksem digunakan untuk mewadahi konsep “bentuk yang akan menjadi kata” melalui proses morfologi. Misal bentuk PUKUL (dalam konvensi morfologil leksem ditulis dengan huruf capital semua) adalah sebuah leksem yang akan menurunkan kata – kata seoerti, memukul, dipukul, terpukul, pukul, pukulan, pemukul, dan pemukulan. Sedangkan dalam kajian semantik leksem adalah adalah satuan bahasa yang memiliki sebuah makna. Sehingga bentuk – bentuk seperti kucing, membaca, matahari, membanting tulang, dan sumpah serapah adalah leksem.
            Dari bentuk leksem ada bentuk – bentuk turunannya, yaitu leksikon, leksikal, leksikologi, dan leksikografi. Istilah leksikon dalam arti “kumpulan leksem”dapat dipadankan dengan istilah kosa kata atau pembendaharaan kata.
B.       Morfem Afiks
            Proses afiksasi adalah proses melekatnya imbuhan pada suatu bentuk tunggal ataupun kompleks untuk membentuk suatu kata. Kata yang dihasilkan oleh proses afiksasi merupakan kata berafiks. Contoh: menemukan, ditemukan, jawaban.Berdasarkan contoh disamping letak morfem terikat dengan morfem bebas pembubuhan dapat dibagi menjadi empat, yaitu pembubuhan depan (prefiks), pembubuhan tengah (infiks), pembubuhan akhir (sufiks), dan pembubuhan terbelah (konfiks).

Masing-masing afiks pembentuk verba akan diuraikan sebagai berikut:
1.        Prefiks (awalan)
Prefiks merupakan afiks yang dibubuhkan di awal kata dasar.
·           Main : ber + main = bermain
·           Curi : men + curi = mencuri
·           Budak : per + budak = perbudak
·           Luka : ter + luka = terluka
·           Rumah : se + rumah = serumah
·           Satu : ke + satu = kesatu

2.        Infiks (sisipan)
Infiks merupakan afiks yang ditempatkan di dalam bentuk dasar.
·           -el- : telunjuk, gelembung
·           -em- : gemerincing, gemetar
·           -er- : seruling, gerigi
·           -in- : kesinambungan

3.        Sufiks (akhiran)
Sufiks merupakan afiks yang diletakkan di belakang bentuk dasar.
·           -an : daratan
·           -I : menembaki
·           -kan : bukakan, bidikkan

4.        Konfiks
Konfiks adalah afiks yang secara bersama – sama membentuk sebuah kelas kata. Konfiks juga bisa dikatakan sebagai satu morfem dengan satu makna gramatikal.
·           Ke-an : kenakalan
·           Ber-an : bermunculan
·           Ber-kan : berdasarkan
·           Se-nya : sepenuh – penuhnya, serajin – rajinnya, sekuat – kuatnya, setinggi – tingginya.
5.        Simulfiks
Simulfiks adalah gabungan dari dua macam imbuhan atau lebih yang tiap unsurnya tetap mempertahankan arti dan fungsinya masing – masing.
·           meN – kan : meN+tiru+kan = menirukan
·           meN – kan : meN+cerita+kan = menceritakan
·           meN – kan : meN+terang+kan = menerangkan
·           meN – i : meN + sebrang+ i= menyebrangi
·           meN – i: meN + nikah + i= menikahi












Daftar pustaka

1.        Chaer, Abdul.2015. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta:Rineka Cipta.
2.        Murtiani, Anjar, Fita Nur Arifah, Lia Noviastuti.2017.Tata Bahasa Indonesia.Yogyakarta:Araska

Tidak ada komentar:

Posting Komentar