A.
AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA
1.
Pembentukan Verba Prefiks
Ber-
Bentuk dasar
dalam pembentukan verba dengan prefix ber- sebagi berikut :
1) Morfem dasar terikat : juang menjadi berjuang, henti menjadi berhenti.
2) Morfem dasar bebas : kerja menjadibekerja, nyanyi menjadi
bernyanyi.
3) Morfem turunan berafiks : ber + aturan menjadi beraturan,
ber + pendapatan menjadi berpendapatan.
4) Bentuk turuna reduplikasi : ber + lari-larimenjadi berlari-lari,
ber + main-main menjadi bermain-main.
5) Bentuk turunan hasil komposisi : ber +jual belimenjadi berjual
beli, ber +temu muka menjadi bertemu muka.
Makna
gramatikal verba berprefiks ber- yang dapat dicatat antara lain :
1)
Mempunyai (dasar) atau ada (dasar)nya : Apabila
bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+benda), (+umum), (+milik) dan atau
(+bagian). Contoh :
a.
Berkewajiban ‘mempunyai
kewajiban’.
b.
Beristri ‘mempunyai istri’.
c.
Bermesin ‘ada mesinnya’.
2)
Memakai atau menggunakan (dasar) : Apabila
bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+ pakaian), atau (+ perhiasan).
Contoh :
a.
Berjaket kulit ‘memakai jaket kulit’.
b.
Bertopeng ‘memakai topeng’.
c.
Berkalung ‘memakai kalung’.
3)
Mengendarai atau menumpang/naik (dasar) : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kendaraan). Contoh :
a.
Berkuda ‘naik kuda’.
b.
Bersepeda ‘mengendarai
sepeda’.
c.
Berbemo ‘naik bemo’.
d.
Berangkot ‘naik angkot’.
Catatan: contoh seperti berbemo, beangkot, berbus secara actual
memang belim lazim digunakan orang. Akan tetapi secara gramtika bentuk-bentuk
tersebut diterima. Secara actual belum ada yang menggunakan, tetapi secara
potensial bisa digunakan.
4)
Berisi atau mengandung (dasar) : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda), (+ dalaman), atau (+
kandungan). Contoh :
a.
Beracun ‘mengandung racun’.
b.
Berair ‘berisi air’.
c.
Berdarah ‘mengandung darah’.
5)
Mengeluarkan atau menghasilkan (dasar) : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda), (+ hasil) atau (+ keluar).
Contoh :
a.
Berproduksi ‘menghasilkan produksi’.
b.
Berdarah ‘mengeluarkan darah’.
6)
Mengusahakan atau mengerjakan (dasar) : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+bidang usaha). Contoh :
a.
Berternak ‘ mengusahakan terna’.
b.
Bersawah ‘mengerjakan sawah’.
7)
Melakukan (dasar) : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+benda), dan (+kegiatan). Contoh :
a.
Berkreasi ‘melakukan kreasi’.
b.
Berdiskusi ‘melakukan diskusi’.
c.
Berdebat ‘melakukan debat’.
8)
Mengalami atau berada dalam keadaan (dasar) : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+perasaan batin). Contoh :
a.
Berduka cita ‘ dalam
keadaan duka cita’.
b.
Bersenang-senang ‘dalam
keadaan senang-senang’.
c.
Bersedih ‘dalam keadaan
sedih’.
9)
Menyebut atau menyapa (dasar) : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kerabat), dan (+sapaan).
Contoh :
a.
Beradik ‘memanggil adik’.
b.
Berkakak ‘menyebut kakak’.
10)
Kumpulan atau kelompok (dasar) : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+jumlah), atau (+hitungan). Contoh :
a.
Berlima ‘kumpul dari lima
(orang)’.
b.
Berempat ‘kumpul dari empat
(orang)’.
11)
Memberi : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+benda), dan (+berian). Contoh :
a.
Berceramah ‘memberi
ceramah’.
b.
Berkhotbah ‘memberi
khotbah’.
2.
Verba
Berkonfiks dan Berklofiks Ber-an
Verba berbentuk ber-an
seperti pada kata bermunculan dan berpakaian memiliki dua macam proses
pembentukan. Pertama, yang berupa konfiks, artinya prefiks ber- dan sufiks –an
itu diimbuhkan secara bersamaan sekaligus pada sebuah bentuk dasar. Kedua, yang
berupa klofiks artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu tidak diimbuhkan secara
bersamaan pada sebuah dasar. Dalam hal ini pada bentuk dasar, mula-mula
diimbuhkan sufiks –an baru kemudian diimbuhkan lagi prefiks ber-. Kalau bentuk
bermunculan di atas kita ambil sebagai contoh verba berkonfiks dan bentuk
berpakaian sebagai contoh verba berklofiks, maka bagan proses pembentukannya
adalah sebagai berikut :
ber + muncul
+an ber
+ pakai + an
Ber-an sebagai konfiks
memiliki satu makna, sedangkan ber-an sebagai klofiks memiliki makna
sendiri-sendiri. Jadi, prefiks ber- memiliki makna sendiri. Verba bermunculan
pada contoh di atas memiliki makna ′banyak yang muncul dengan tidak teratur′
dan makan gramatikal kata berpakaian adalah ′memakai pakaian′. Makna gramatikal
berkonfiks ber-an :
a.
Banyak serta tidak teratur
: Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan), (+sasaran) dan
(+gerak). Contoh :
1.
Bermunculan ‘banyak yang
muncul dan tidak teratur’.
2.
Berlompatan ‘banyak yang
lompat dan tidak teratur’.
b.
Saling atau berbalasan :
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan), (+sasaran) dan
(+gerak). Contoh :
1.
Bersentuhan ‘ saling
bersentuhan’.
2.
Bermusuhan ‘saling
memusuhi’.
c.
Saling berada di : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda), (+letak) dan (+tempat).
Contoh :
1.
bersebelahan ‘saling berada
disebelah’.
2.
berhadapan ‘saling berada
di hadapan’.
3.
Verba Berklofiks Ber-kan
Verba berklofiks ber-kan
dibentuk dengan proses, mula-mula pada bentuk dasar diimbuhkan prefiks ber-,
lalu diimbuhkan pula sufiks –kan. Misalnya mula-mula pada kata dasar senjata
diimbuhkan prefiks ber- menjadi bersenjata, lalu pada kata bersenjata
diimbuhkan pula sufiks –kan sehingga menjadi bersenjatakan. Prefiks ber- dan
sufiks –kan pada verba ber-kan memiliki maknanya masing-masing, di mana prefiks
ber- memiliki makna gramatikal, ssedangkan sufiks –kan memiliki makna
gramatikal ′akan′. Perhatikan beberapa contoh berikut:
1.
Bersenjatakan ′menggunakan
senjata akan (clurit) ′.
2.
Berisikan ′mempunyai isi
akan (air) ′.
3.
Berdasarkan ′menggunakan
dasar akan (pancasila) ′.
Verba berklofiks ber-kan juga tidak banyak.
Di antara yang tidak banyak itu adalah verba: bermodalkan, berbantalan, bertatahkan, dll
4.
Verba Bersufiks –kan
Dalam prosesnya, sufiks
–kan, bila diimbuhkan pada dasar yang memiliki komponen makna (+ tindakan) dan
(+ sasaran) akan membentuk verba bitransitif, yaitu verba yang berobjek dua.
Bila diimbuhkan pada dasar yang lain, sufiks –kan akan membentuk pangkal (stem)
yang menjadi dasar dalam pembentukan verba inflektif. Verba bersufiks –kan
digunakan dalam :
1.
Kalimat
imperative.
-
Lemparkan bola itu ke sini!
-
Tuliskan namamu di sini!
2.
Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku
+ verba, dan subyeknya menjadi sasaran tindakan.
-
Rumah itu baru kami dirikan.
-
Jembatan itu akan mereka robohkan.
3.
Keterangan tambahan pada subyek atau objek yang berpola :
yang + (aspek) + pelaku + verba.
-
Uang yang baru kami terima sudah habis lagi.
-
Kami melewati daerah yang sudah mereka amankan.
Verba bersufiks –kan memiliki makna gramtikal :
1)
Jadikan : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ keadaan) atau (+ sifat khas). Contoh :
-
Satukan, ‘jadikan satu’.
-
Putuskan, ‘jadikan putus’.
2)
Jadikan berda di : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ tempat) atau (+ arah). Contoh :
-
Tempatkan, ‘jadikan berada
di tempat’.
-
Daratkan, ‘ jadikan berda
di darat’.
3)
Lakukan untuk orang lain : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh :
-
Bawakan, ‘lakukan bawa
untuk (orang lain)’.
-
Ambikan, ‘lakukan ambil untuk
(orang lain)’.
4)
Lakukan akan : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (*sasaran). Contoh :
-
Hapuskan, ‘ lakukan hapus akan’.
-
Kabulkan, ‘lakukan Kabul akan’.
5)
Bawa masuk ke : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ ruang). Contoh :
-
Gudangkan, bawa masuk ke gudang’.
-
Rumakan, bawa masuk ke rumah’.
5.
Verba Bersufiks –i
Verba bersufiks –i adalah
verba transitif, yang berlaku juga sebagai pangkal (stem) dalam pembentukan
verba inflektif. Verba sufiks –i digunakan dalam :
1.
Kalimat imperative.
-
Lompati saja pagar itu!
-
Mari kita hampiri
anak itu!
2.
Kalimat pasif yang
predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba, dan subyeknya menjadi sasaran
perbuatan.
-
Anak-anak yatim itu harus kita santuni.
-
Gurumu itu mesti kamu hormati
dengan baik.
3.
Keterangan tambahan pada
subyek atau objek yang berpola : yang + (aspek) + pelaku + verba
-
Banjir melanda wilayah yang akan kita datangi.
-
Orang yang harus kamu
surati sudah ada disini.
Verba
bersufiks –i memiliki makna gramtikal :
1)
Berulang kali : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran).
-
Potongi, ‘pekerjaan potong dilakukan berulang kali’.
-
Lempari, ‘pekerjaan lempar dilakukan berulang kali’.
2)
Tempat : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ tempat).
-
Duduki, ‘duduk di…’.
-
Jalani, ‘lakukan jalan di…’.
3)
Merasa sesuatu pada : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+sikap batin) atau (+emosi).
-
Hormati, ‘merasa hormat
pada’.
-
Senangi, ‘merasa senang
pada’.
4)
Beri atau bubuh pada : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+bahan berian).
-
Nasehati, ‘beri nasehat
pada’.
-
Danai, ‘beri dana pada’.
5)
Sebabkan atau jadikan : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+keadaan) atau (+sifat).
-
Jauhi, ‘jadikan jauh’.
-
Dekati, ‘jadikan dekat’.
6)
Lakukan pada : Apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+tempat). Contoh :
-
Tanggapi, ‘lakukan tanggap
pada’.
-
Siasati, ‘lakukan siasat
pada’.
6.
Verba Berprefiks per-
Verba berprefiks per-
adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif. Verba
prefiks per- dapat digunakan dalam :
1.
Kalimat imperative.
-
Perdalam ilmumu!
-
Persingkat bicaramu!
2.
Kalimat pasif yang berpola
: (aspek) + pelaku + verba.
-
Masjid ini akan kami
perluas ke arah timur.
-
Penjagaan akan kami
perketat nanti malam.
3.
Keterangan tambahan pada
subyek atau obyek yang berpola : yang + aspek + pelaku + verba.
-
Mobil yang belum lama kami
perbaiki mogok lagi
-
Gubernur akan meninjau
bangunan yang baru kita perluas.
Verba berprefiks per- memiliki makna
gramatikal :
1.
Jadikan lebih : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan) atau (+situasi). Contoh :
-
Perlambat, ‘jadikan lebih
lambat’.
-
Perluas, ‘jadikan lebih
luas’.
2.
Anggap sebagai : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sifat). Contoh :
-
Perbudak, ‘anggap sebagai
budak’.
-
Perteman, ‘jadikan teman’.
3.
Bagi : Apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna (+jumlah) atau (+bilangan). Contoh :
-
Perseratus, ‘bagi seratus’.
-
Perseribu, ‘bagi seribu’.
7.
Verba Berkonfiks per-kan
Verba berkonfiks per-kan
adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif
(berprefiks me-, berprefiks di-, atau berprefiks ter-).
1.
Kalimat imperative.
-
Jangan persamakan saya
dengan dia!
-
Persiapkan dulu
bahan-bahannya!
2.
Kalimat pasif yang
predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba.
-
Masalah itu akan kami
pertanyakan lagi.
-
Usulmu itu sedang kami
pertimbangkan.
3.
Keterangan tambahan pada
subyek atau obyek yang berpola : yang + (aspe) + pelaku.
-
Tarian yang sudah mereka
pertunjukan akan diulang lagi.
-
Film yang mereka hendak
persembahkan perlu disensor lagi.
Verba berkonfiks per-kan memiliki makna
gramatikal :
1)
Jadikan bahan (per-an) :
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kegiatan). Contoh :
-
Perdebatkan, ‘jadikan bahan
perdebatan’.
-
Pertanyakan, ‘jadikan bahan
pertanyaan’.
2)
Lakukan supaya : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan). Contoh :
-
Perbedakan, ‘lakukan supaya
beda’.
-
Pertegaskan, ‘lakukan
supaya tegas’.
3)
Jadikan me- : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan). Contoh :
-
Perlihatkan, ‘jadikan
(orang lain) melihat.
-
Pertontonkan, ‘jadikan
(orang lain) menonton’.
4)
Jadikan ber- : Apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kejadian). Contoh :
-
Pergunakan, ‘jadikan
berguna’.
-
Pertemukan, ‘jadikan
bertemu’.
8.
Verba Berkonfiks per-i
Verba berkonfiks per-i
adalah verba yang dapat menjadi pamgkal dalam pembentukan verba inflektif
(berprefiks me- inflektif, di- inflektif, atau ter- inflektif).
1)
Kalimat imperative.
-
Perbaiki dulu sepeda ini!
-
Jangan permalui dia di
depan umum!
2)
Kalimat pasif yang
predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba.
-
Mobil itu baru kita
perbaiki.
-
Tanah ini masih mereka
persengketai.
3)
Keterangan tambahan pada
subyek atau obyek yang berpola : yang + (aspek) + pelaku + verba.
-
Rumah yang baru kami
perbaiki terkena bencana.
-
Kasihan sekali anak-anak
yang mereka perdayai itu.
Verba per-i memiliki makna gramatikal :
1)
Lakukan supaya jadi :
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen maka (+keadaan). Contoh :
-
Perbaiki, ‘lakukan supaya
jadi baik’.
-
Perbarui, ‘lakukan supaya jadi
baik’.
1)
Lakukan (dasar) pada
obyeknya : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen maka (+tindakan) dan
(+lokasi). Contoh :
-
Persetujui, ‘lakukan setuju
pada obyeknya’.
-
Perlindungi, ‘lakukan
lindungi pada obyeknya’.
9.
Verba Berprefiks me-
Prefiks me- dapat berbentuk
me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-. Bentuk atau alomorf me- digunakan
apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem r, l, w, y, m, n, ny, dan ng.
contoh dari prefiks me- : merakit, melekat, mewasiatkan, mengerikan, menyanyi,
menanti, menyakini, mengerikan, dll.
Bentuk alomorf mem-
digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem [b,p,f, dan v]. dengan
catatan fonem [b,f, dan v]tetap berwujud, sedangkan fonem [p] tidak diwujudkan
melaikan disenyawakan dengan bunyi nasal dari prefiks. Contoh prefiks mem- :
membina, memfitnah, memotong, memutuskan, membawa, dll.
Bentuk men- digunakan
apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem [d dan t]. Dengan catatan fonem
[d] tetap diwujudkan sedangkan [t] tidak diwujudkan melainkan disenyawakan denagan
bunyi nasal yang ada pada prefiks. Contoh : menduda, menerobos,menulis, dll.
Bentuk meny- digunakan
apabila fonem awal bentuk dasarnya adalah fonem [c, j, dan s]. dengan catatan
dalam bahasa tulis bunyi [ny] pada prefiks diganti dengan huruf [n] pada dasar
dengan fonem [c dan j], sedangkan fonem [s] diluluhkan. Contoh : mencuri
(menycuri), menjual (menyjual), menyikat, mensukseskan dll.
Bentuk meng- digunakan
apabila bentuk dasarnya mulai dengan fonem [k, g, h, kh, a, z, u, e, dan o].
dengan catatan fonem [k] tidak diwujudkan melainkan disenyawakan dengan nasal
yang ada pada prefiks, sedangkan fonem-fonem yang lain tetap diwujudkan. Contoh
: menggali, mengirim, mengusir mengambil, dll.
Ada dua macam prefiks me-
yaitu :
1.
Verba berprefiks me-
inflektif
a.
Melakukan (dasar) : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh :
-
membeli, artinya ′melakukan
beli′.
-
menulis, artinya ′melakukan
tulis′.
b.
Mekakukan kerja dengan alat
: apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ tindakan) dan (+ alat). Contoh :
-
mengikir, artinya
′melakukan kerja dengan alat kikir′.
-
memahat, artinya ′melakukan
kerja dengan alat pahat′.
c.
Melakukan kerja dengan
bahan : apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ bahan). Contoh :
-
mengapur, artinya ′lakukan
kerja dengan bahan kapur′.
-
mengecat, artinya ′lakukan
kerja dengan bahan cat′.
d.
Membuat (dasar) : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ tindakan) dan (+ benda hasil). Contoh :
-
menyambal, artinya ′membuat
sambal′.
-
menumis, artinya ′membuat
tumis′.
2.
Verba prefiks me- derivative
Memiliki makna gramatikal :
a.
Makan, minum , mengisap : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ makanan) atau (+ minuman) atau (+ isapan). Contoh :
-
merokok, artinya ′menghisap
rokok′.
-
menyoto, artinya ′makan
soto
′.
b.
Mengeluarkan : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (bunyi) atau (+ suara). Contoh :
-
mengeong, artinya
′mengeluarkan bunyi ngeong′.
-
mengaum, artinya
′mengeluarkan bunyi ngaum′.
c.
Menjadi : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ keadaan, ) atau (+ warna) atau (+ bentuk) atau (+ situasi). Contoh :
-
menguning, artinya ′menjadi
kuning′.
-
meninggi, artinya ′menjadi
tinggi′.
d.
Menjadi seperti : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen
makna (+ sifat khas). Contoh:
-
membatu, artinya ′menjadi
seperti batu′.
-
membaja, artinya ′menjadi
seperti baja′.
e.
Menuju : apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna (+ arah ). Contoh :
-
mendarat, artinya ′menuju
darat′.
-
mengudara, artinya ′menuju
udara′.
f.
Memperingati : apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ bilangan), (+ hari), (+ bulan).
Contoh :
-
meniga hari, artinya
′memperingati hari ketiga (kematian)′.
-
menujuh hari, artinya ′memperingati
hari ketujuh (kematian) ′.
10.
Verba
berprefiks di-
1.
Verba berprefiks di-
inflektif adalah verba pasif. Tindakan dari verba
berprefiks me- inflektif, maka makna gramatikalnya adalah kebalikan dari bentuk
aktif verba berprefiks me- inflektif.
2.
Verba berprefiks di-
derivatif adalah verba aktif. Contohnya adalah kata dimaksud,
yang lain tidak ada.
11.
Verba
berprefiks ter-
1.
Verba berprefiks ter-
inflektif : Verba berprefiks ter- inflektif adalah verba
pasif keadaan dari verba berprefiks me- inflektif. Makna gramatikal verba
berprefiks ter- inflektif, selain sebagai kebalikan pasif keadaan dari verba
berprefiks me- inflektif, juga memiliki makna gramatikal.
(1)
dapat / sanggup : apabila
bentuk dasarnya memiliki kompenen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh :
terbaca artinya dapat dibaca, terbawa artinya dapat dibawa.
(2)
tidak sengaja : apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tidakan) dan (+ sasaran). Contoh : terangkat
artinya tidak sengaja diangkat, terlihat artinya tidak sengaja dilihat.
(3)
sudah terjadi : apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tidakan) dan (+ keadaan). Contoh :
terputus artinya sudah terjadi (putus), terbakar artinya sudah terjadi (bakar).
(4)
yang di (dasar) : apabila
digunakan sebagai istilah bidang hukum. Contoh : terpidana artinya yang
dipidana, terhukum artinya yang dihukum.
2.
Verba berprefiks ter-
derivative
Verba berprefiks ter-
derivatif memiliki makna gramatikal:
(1)
Paling : apabila bentuk dasarnya memiliki
komponen makna (+ keadaan). Contoh : terbaik artinya paling baik, tertinggi
artinya paling tinggi.
(2)
dalam keadaan : apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+ keadaan) dan (+ kejadian). Contoh :
tergeletak artinya dalam keadaan geletak, terpasang artinya dalam keadaan
pasang.
(3)
terjadi dengan tiba-tiba : apabila bentuk
dasarnya memiliki komponen makna (+ kejadian). Contoh : tertegung artinya
tiba-tiba tegun, teringat artinya tiba-tiba ingat.
12.
Verba
berprefiks ke-
Verba berprefiks ke-
digunakan dalam bahasa ragam tidak baku. Fungsi dan makna gramatikalnya sepadan
dengan verba berprefiks ter-. Jadi, bentuknya sebagai berikut:Kebaca (terbaca), Ketipu (tertipu).
13.
Verba
berkonfiks ke-an
Verba berkonfiks ke-an termasuk
verba pasif, yang tidak dapat dikembalikan ke dalam verba aktif, seperti verba
pasif di- dan verba pasif ter-.
Makna gramatikal yang
dimilikinya adalah:
1.
terkena, menderita atau
mengalami : apabila
bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+peristiwa alam) atau (+hal yang tidak
enak). contohnya :
·
kebanjiran artinya ‘terkena
banjir’
·
kebakaran artinya menderita
bakar’
2.
agak bersifat : apabila bentuk dasarnya
memiliki komponen makna (+warna).
contohnya :
·
kemerahan artinya ‘agak
merah’
·
kekuningan artinya ‘agak
kuning’
B.
JENIS PERUBAHAN MORFOFONEMIK
Dalam bahasa Indonesia ada beberapa jenis perubahan fonem
berkenaan dengan proses morfologi sebagai berikut :
1.
Pemunculan fonem, yaitu munculnya fonem (bunyi) dalam
proses morfologi yang pada mulanya tidak ada. Misalanya dalam proses imbuhan
prefiks me- pada kata dasar baca akan
memunculkan bunyi sengau [m] yang semula tidak ada.
Me + baca menjadi
membaca
2.
Pelepasan fonem, yaitu hilangnya fonem dalam suatu proses
morfologi. Misalnya dalam proses pengimbuhan prefiks ber- pada kata dasar renang, maka bunyi [r] yang ada pada
prefiks ber- dilepaskan.
Ber- + renang
menjadi berenang
3.
Peluluhan fonem, yaitu luluhnya sebuah fonem serta
disenyawakan dengan fonem lain dalam suatu proses morfologi. Peluluhan fonem
ini hanya terjadi hanya terjadi pada imbuhan prefiks me- dan pe- pada bentuk
dasar yang dimulai dengan konsonan [s] lainnya tidak ada. Misalnya :
Me- + sikat
menjadi menyikat
Pe- + sikat
menjadi penyikat
4.
Perubahan fonem, yaitu berubahan sebuah fonem atau sebuah
bunyi, sebagai akibat terjadinya proses morfologi. Misalnya dalam pengimbuhan
prefiks ber- pada kata dasar ajar
terjadi perubahan bunyi, dimana fonem [r] berubah menjadi fonem [l].
Ber- + ajar
menjadi belajar
5.
Pergeseran fonem, yaitu berubahnya posisi sebuah fonem
dari satu suku kata ke dalam suku kata yang lainnya. Misalnya dalam pengimbuhan
sufiks –an pada kata dasar jawab,
terjadi pergeseran fonem [b] yang semula berada pada suku kata wab berpindah menjadi berada pada suku
kata ban.
Jawab + -an
menjadi jawaban
C.
MORFOFONEMIK DALAM PEMBENTUKAN KATA BAHASA INDONESIA
Morfofonemik dalam pembentukan kata bahasa Indonesia terutama
terjadi dalam proses afiksasi. Dalam proses reduplikasi dan komposisi hamper
tidak ada. Dalam proses afiksasi pun terutama, hanya dalam prefiksasi ber-,
prefiks me-, prefiksasi pe-, prefiksasi per-, konfiksasi pe-an, konfiksasi
per-an, dan sufiksasi –an.
1.
Prefiks ber-
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan prefiks ber- berupa
:
a.
Pelepasan fonem /r/ pada prefiks ber- itu terjadi apabila
bentuk dasar yang diimbuhi mulai dengan fonem /r/, atau suku pertama bentuk
dasarnya berbunyi [er]. Misalnya : ber + renang menjadi berenang.
b.
Perubahan fonem /r/ pada prefiks ber- menjadi fonem /l/
terjadi bila bentuk dasarnya akar ‘ajar’ dan tidak memiliki contoh lain.
Misalnya : ber + ajar menjadi belajar.
c.
Pengekalan fonem /r/ pada prefiks ber- tetap /r/ terjadi apabila bentuk
dasarnya bukan pada poin a dan b. misalnya ber + obat menjadi berobat.
2.
Prefiks me- (termasuk klofiks me-kan dan me-i)
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me-
dapat berupa:
a.
Pengekalan fonem di sini artinya tidak ada fonem yang berubah,
tidak ada yang dilepaskan dan tidak ada yang ditambahkan. Hal ini terjadi
apabila bentuk dasarnya diawali konsonan
r, l, w, y, m, n, ng, dan ny. Misalnya : me + rawat menjadi merawat, me
+ yakin + kan ,menjadi meyakinkan.
b.
Penambahan fonem, yakni penambahan fonem nasal m, n, ng,
dan nge. Penambahn fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai
dengan konsonan /b/ atau /f/. misalnya : me + baca menjadi membaca, me + fitnah
menjadi menfitnah. Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya
dimulai dengan konsonan /d/. misalnya me + duga menjadi menduga. Penambahan
fonem /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan g, h, kh, a,
l, u, e, dan o. misalnya : me + goda menjadi menggoda, me + hina menjadi
menghina, me + usir menjadi mengusir dan lain sebagainya. Penambahan fonem
nasal /nge/ terjadi apabila bentuk dasarnya hanya terdiri dari suku kata.
Misalnya : me + lap menjadi mengelap.
c.
Peluluhan fonem terjadi apabila prefiks me- diimbuhkan
pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan bersuara s, k, p, dan t. dalam
hal ini konsonan /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/, konsonan /k/ diluluhkan
dengan nasal /ng/, konsonan /p/ diluluhkan dengan nasal /m/, dan konsonan /t/
diluluhkan dengan nasal /n/. misalanya me + sikat menjadi menyikat, me + kirim
menjadi mengirim, me + pilih menjadi memilih, me + tolong menjadi menolong.
3.
Prefiks pe- dan konfiks pe-an
Morfologi dalam proses pengimbuhan dengan prefiks pe- dan
konfiks pe-an sama dengan mofofonemik yang terjadi dalam proses pengimbuhan
dengan me- yaitu :
a.
Pengekalan fonem adalah tidak ada perubahan fonem, dapat
terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan [r, l, y, m, n, ng, dan
ny]. Contoh : pe + latih menjadi pelatih, pelatihan.
b.
Penambahan fonem adalah penambahn fonem nasal [m, n, ng,
dan nge] antara prefiks dan bentuk dasar. Penambahan fonem nasal /m/ terjadi
apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /b/. Misalnya : pe + baca
menjadi pembaca, pembacaan. Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk
dasarnya diawali dengan konsonan /d/. Misalnya : pe + dengar menjadi pendengar,
pendengaran. . Penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya
diawali dengan konsonan /g, h, kh, a, l, u, e, dan o/. misalnya : pe + gali
menjadi penggali, penggalian. Penambahan fonem nasal /nge/ terjadi apabila
bentuk dasarnya berupa bentuk dasar satu suku. Misalnya : pe + cat menjadi
pengecat, pengecatan.
c.
Peluluhan fonem, apabila prefiks pe- (atau pe-an)
diimbuhkan pada bentuk dasar yang diawali dengan konsonan tak bersuara [s, k,
p, dan t]. dalam hal ini konsonan /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/, konsonan
/k/ diluluhkan dengan nasal /ng/, konsonan /p/ diluluhkan dengan nasal /m/, dan
konsonan /t/ diluluhkan dengan nasal /n/. contoh : pe + siram menjadi penyiram
dan penyiraman, pe + kirim menjadi pengirim dan pengiriman, pe + pilih menjadi
pemilih dan pemilihan, pe + tulis menjadi penulis dan penulisan.
4.
Prefiks per- dan konfiks per-an
Morfofonemik dalam pengimbuhan prefiks per- dan konfiks
per-an dapat berupa :
a.
Pelepasan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya
dimulai dengan fonem /r/ atau suku pertamanya /er/. Misalnya : per + ringan
menjadi peringan.
b.
Perubahan fonem /r/ menjadi /l/ terjadi apbila bentuk
dasarny berupa kata ajar. Misalnya per + ajar menjadi pelajar.
c.
Pengekalan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya
bukan yang disebutkan pada poin a dan b diatas. Misalnya : per + kecil menjadi
perkecil.
5.
Sufiksasi –an
Morfofonemik dalam pengimbuhan sufiks –an dapat berupa :
a.
Pemunculan fonem, ada tiga macam fonem yang dimunculkan
dalam pengimbuhan ini, yaitu fonem [w], fonem [y] dan fonem glottal[?].
pemunculan fonem [w] dapat terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan pada bentuk
dasar yang berakhir dengan vocal [u]. misalnya : pandu + an menjadi panduwan.
Pemunculan fonem [y] dapat terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan pada bentuk
dasar yang berakhiran dengan vocal [i]. misalnya : hari + an menjadi hariyan.
Pemunculan fonem glottal [?] dapat terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan pada
bentuk dasar yang berakhir dengan vocal [a]. misalnya : (ber) dua + an menjadi
berdua?an.
b.
Pergeseran fonem, terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan
pada bentuk dasar yang berakhir dengan sebuah konsonan. Dalam pergeseran ini,
konsonan tersebut bergeser membentuk suku kata baru dengan sufiks –an tersebut.
Contoh : jawab + an menjadi ja.wa.ban.
6.
Prefiksasi ter-
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan prefiks ter-
dapa berupa :
a.
Pelepasan, fonem dapat terjadi apabila prefiks ter-
diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan [r]. contoh : ter +
rasa menjadi terasa.
b.
Perubahan fonem [r] pada prefiks ter- menjadi fonem [l]
terjadi apabila prefiks ter- diimbukan pada bentuk dasar anjur. Misalnya : ter + anjur menjadi terlanjur.
c.
Pengekalan finem [r] pada prefiks ter- tetap menjadi [r] apabila
prefiks ter- diimbuhkan pada bentuk dasar yang bukan disebutkan pada poin a dan
b. misalnya : ter + dengar menjadi terdengar.
D.
BENTUK BERNASAL DAN BERNASAL
Hadir dan tidaknya bunyi nasal dalam pembentukan kata
bahasa Indonesia sangat erat berkaitan dengan tiga hal, yaitu :
a.
Kaitan dengan tipe verba
Dalam bahasa Indonesia ada empat tipe verba dalam
kaitannya dengan proses nasalisasi. Keempat verba itu adalah a)verba berprefiks
me- (termasuk verba me-kan, dan me-i); b)Verba berprefiks me- dengan pangkal
per-, per-kan, dan per-l); c) verba berprefiks ber-; dan d) verba dasar (tanpa
afiks apa pun).
a)
verba berprefiks me- (termasuk verba me-kan, dan me-i)
Kaidah penasalan untuk verba berprefiks me- (dengan
nomina pe- dan nomina pe-i) yang diturunkannya adalah sebagai berikut.
|
Afiks
|
Nasal
|
Fonem awal bentuk dasar
|
|
Me-
Me-kan
Me-i
|
ᴓ
m
n
ny
ng
|
l, r, w, y, m, n, ny, ng
b, p, f
d, t
s, c, j
k, g, h, k
h,a,l, u, e, o
|
|
|
nge
|
eka suku
|
Dari bagian tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses
pengimbuhan afiks me-, me-kan dan me-i akan terjadi.
1.
Nasal tidak akan muncul bila bentuk dasarnya mulai dengan
fonem [l, r, w, y, m, n, ny, dan ng]. contoh : meloncat, peloncat, peloncatan.
2.
Akan muncul nasal [m] bila bentuk dasarnya mulai dengan
fonem [b, p, f]. contoh : membina, Pembina, pembinaan.
3.
Akan muncul nasal [n] bila bentuk dasarnya mulai dengan
fonem [d atau t]. contoh : mendengar, pendengar, pendengaran.
4.
Akan muncul nasal [ny] bila bentuk dasarnya mulai dengan
fonem [s, c, j]. contoh menyambut, penyambut, penyambutan.
5.
Akan muncul nasal [ng] bila bentuk dasarnya mulai dengan
fonem [k, g, h, kh, a, l, u, e, atau o]. contoh : mengirim, pengirim,
pengiriman.
6.
Akan muncul nasal [nge-] bila bentuk dasarnya berupa kata
eka suka. Contoh : mengetik, pengetik, pengetikan.
b)
Verba berprefiks me- dengan pangkal per-, per-kan, dan
per-l);
Kaidah penasalan untuk verba berprefiks me- yang bentuk
dasarnya berupa pangkal berafiks per-, per-kan, dan per-l (dengan nomina bentuk
pe- dan pe-an yang diturunkannya).
1.
Fonem [p] sebagai awal pada dasar yang berupa pangkal
per-, per-kan, atau per-l tidak diluluhkan dengan nasal [m] bila diimbuhi
prefiks me-, karena [p] adalah sebagian dari prefiks pe- yang menjadi dasar
pembentukan. Contoh : me + perpendek menjadi memperpendek.
2.
Nomina pelaku yang diturunkan dari verba mempersifat
potensial; dan nomina hal atau protes bersifat actual, menggunakan bentuk
per-an. Contoh : memperpendek menjadi perpendekan.
3.
Nomina pelaku yang diturunkan dari verba memper-kan atau
memper-l adalah berbentuk pamer; ada
yang actual ada yang masih potensial. Contoh : mempersatukan menjadi
mempersatu.
4.
Nomina hal atau protes yang diturunkan dari verba
memper-kan atau memper-l berbentuk pemer-an. Contoh mempertahankan menjadi
pemertahanan.
c)
verba berprefiks ber-
Ada sejumlah akar dalam bahasa Indonesia yang dapat
diimbuhi prefiks ber- dan juga prefiks me-, sehingga kita menemukan dua bentuk
nomina pelaku yang bernasal (karena diturunkan melalui verba berprefiks me-)
dan nomina pelaku yang tidak bernasal. Contoh : bertinju – petinju – pertinjuan,
meninju – peninju – peninjuan.
b.
Kaitan dengan upaya pembentukan istilah
Dalam peristilahan olahraga sudah ada istilah petinju (yang diturunkan dari verba bertinju) sebagai suatu profesi, yang
berbeda dengan bentuk peninju (yang
diturunkan dari verba meninju) yang
bukan menyatakan profesi. Lalu, berdasarkan bentuk petinju dibutlah istilah-istilah dalam bidang olahraga seperti petembak (bukan penembak), petenis (bukan penenis), pegolf (bukan penggolf) dan lain sebagainya. Bentuk – bentuk
tersebut sebenarnya menurut kaidah penasalan haruslah bernasal. Namun, sebagai
istilah yang dibuat secara analogi tidak diberi nasal.
c.
Kaitan dan upaya semantic
Untuk memberi makna tertentu bentuk yang seharusnya tidak
bernasal diberi nasal. Umpamanya, bentuk mengkaji
dalam arti ‘meneliti’ dibedakan dengan bentuk mengaji yang berate ‘membaca al-quran’; bentuk pengrajin dalam arti ‘ usaha kegiatan di rumah’, dibedakan dengan
perajin dalam arti ‘orang yang rajin’; dari bentuk pengrumahan dalam arti ‘pemecatan dari pekerjaan’, dibedakan dengan
bentuk perumahan yang berarti ‘
kompleks atau kelompok rumah. Sementara itu, tanpa perbedaan semantic, pasangan
kata dengan peluluhan fonem awal bentuk dasar dan dengan yang tanpa peluluhan
lazim digunakan orang secara bersaingan. Contoh mensukseskan (menyukseskan),
menstabilkan (menyetabilkan) dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia
(Pendekatan Proses). Jakarta : Rineka Cipta.
Masnur Muslich. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia.
Jakarta Timur : PT. Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar