Rabu, 22 Januari 2020

Sub bab 7 afiksasi



A.                AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA
1.                  Pembentukan Verba Prefiks Ber-
Bentuk dasar dalam pembentukan verba dengan prefix ber- sebagi berikut :
1)    Morfem dasar terikat : juang   menjadi berjuang, henti menjadi berhenti.
2)   Morfem dasar bebas : kerja menjadibekerja, nyanyi menjadi bernyanyi.
3)   Morfem turunan berafiks : ber + aturan menjadi beraturan, ber + pendapatan menjadi berpendapatan.
4)    Bentuk turuna reduplikasi : ber + lari-larimenjadi berlari-lari, ber + main-main menjadi bermain-main.
5)  Bentuk turunan hasil komposisi : ber +jual belimenjadi berjual beli, ber +temu muka menjadi bertemu muka.
Makna gramatikal verba berprefiks ber- yang dapat dicatat antara lain :
1)                  Mempunyai (dasar) atau ada (dasar)nya : Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+benda), (+umum), (+milik) dan atau (+bagian). Contoh :
a.                   Berkewajiban ‘mempunyai kewajiban’.
b.                  Beristri ‘mempunyai istri’.
c.                   Bermesin ‘ada mesinnya’.
2)                  Memakai atau menggunakan (dasar) : Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+ pakaian), atau (+ perhiasan). Contoh :
a.                   Berjaket kulit ‘memakai jaket kulit’.
b.                  Bertopeng ‘memakai topeng’.
c.                   Berkalung ‘memakai kalung’.
3)                  Mengendarai atau menumpang/naik (dasar) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kendaraan). Contoh :
a.                   Berkuda ‘naik kuda’.
b.                  Bersepeda ‘mengendarai sepeda’.
c.                   Berbemo ‘naik bemo’.
d.                  Berangkot ‘naik angkot’.
Catatan: contoh seperti berbemo, beangkot, berbus secara actual memang belim lazim digunakan orang. Akan tetapi secara gramtika bentuk-bentuk tersebut diterima. Secara actual belum ada yang menggunakan, tetapi secara potensial bisa digunakan.
4)                  Berisi atau mengandung (dasar) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda), (+ dalaman), atau (+ kandungan). Contoh :
a.                   Beracun ‘mengandung racun’.
b.                  Berair ‘berisi air’.
c.                   Berdarah ‘mengandung darah’.
5)                  Mengeluarkan atau menghasilkan (dasar) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ benda), (+ hasil) atau (+ keluar). Contoh :
a.                   Berproduksi ‘menghasilkan produksi’.
b.                  Berdarah ‘mengeluarkan darah’.
6)                  Mengusahakan atau mengerjakan (dasar) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+bidang usaha). Contoh :
a.                   Berternak ‘ mengusahakan terna’.
b.                  Bersawah ‘mengerjakan sawah’.
7)                  Melakukan (dasar) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda), dan (+kegiatan). Contoh :
a.                   Berkreasi ‘melakukan kreasi’.
b.                  Berdiskusi ‘melakukan diskusi’.
c.                   Berdebat ‘melakukan debat’.
8)                  Mengalami atau berada dalam keadaan (dasar) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+perasaan batin). Contoh :
a.                   Berduka cita ‘ dalam keadaan duka cita’.
b.                  Bersenang-senang ‘dalam keadaan senang-senang’.
c.                   Bersedih ‘dalam keadaan sedih’.
9)                  Menyebut atau menyapa (dasar) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kerabat), dan  (+sapaan). Contoh :
a.                   Beradik ‘memanggil adik’.
b.                  Berkakak ‘menyebut kakak’.
10)              Kumpulan atau kelompok (dasar) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+jumlah), atau (+hitungan). Contoh :
a.                   Berlima ‘kumpul dari lima (orang)’.
b.                  Berempat ‘kumpul dari empat (orang)’.
11)              Memberi : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda), dan (+berian). Contoh :
a.                   Berceramah ‘memberi ceramah’.
b.                  Berkhotbah ‘memberi khotbah’.
2.                  Verba Berkonfiks dan Berklofiks Ber-an
Verba berbentuk ber-an seperti pada kata bermunculan dan berpakaian memiliki dua macam proses pembentukan. Pertama, yang berupa konfiks, artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu diimbuhkan secara bersamaan sekaligus pada sebuah bentuk dasar. Kedua, yang berupa klofiks artinya prefiks ber- dan sufiks –an itu tidak diimbuhkan secara bersamaan pada sebuah dasar. Dalam hal ini pada bentuk dasar, mula-mula diimbuhkan sufiks –an baru kemudian diimbuhkan lagi prefiks ber-. Kalau bentuk bermunculan di atas kita ambil sebagai contoh verba berkonfiks dan bentuk berpakaian sebagai contoh verba berklofiks, maka bagan proses pembentukannya adalah sebagai berikut :

ber + muncul +an                             ber + pakai + an

Ber-an sebagai konfiks memiliki satu makna, sedangkan ber-an sebagai klofiks memiliki makna sendiri-sendiri. Jadi, prefiks ber- memiliki makna sendiri. Verba bermunculan pada contoh di atas memiliki makna ′banyak yang muncul dengan tidak teratur′ dan makan gramatikal kata berpakaian adalah ′memakai pakaian′. Makna gramatikal berkonfiks ber-an :
a.                   Banyak serta tidak teratur : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan), (+sasaran) dan (+gerak). Contoh :
1.                  Bermunculan ‘banyak yang muncul dan tidak teratur’.
2.                  Berlompatan ‘banyak yang lompat dan tidak teratur’.
b.                  Saling atau berbalasan : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan), (+sasaran) dan (+gerak). Contoh :
1.                  Bersentuhan ‘ saling bersentuhan’.
2.                  Bermusuhan ‘saling memusuhi’.
c.                   Saling berada di : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda), (+letak) dan (+tempat). Contoh :
1.                  bersebelahan ‘saling berada disebelah’.
2.                  berhadapan ‘saling berada di hadapan’.
3.                  Verba Berklofiks Ber-kan
Verba berklofiks ber-kan dibentuk dengan proses, mula-mula pada bentuk dasar diimbuhkan prefiks ber-, lalu diimbuhkan pula sufiks –kan. Misalnya mula-mula pada kata dasar senjata diimbuhkan prefiks ber- menjadi bersenjata, lalu pada kata bersenjata diimbuhkan pula sufiks –kan sehingga menjadi bersenjatakan. Prefiks ber- dan sufiks –kan pada verba ber-kan memiliki maknanya masing-masing, di mana prefiks ber- memiliki makna gramatikal, ssedangkan sufiks –kan memiliki makna gramatikal ′akan′. Perhatikan beberapa contoh berikut:
1.                  Bersenjatakan ′menggunakan senjata akan (clurit) ′.
2.                  Berisikan ′mempunyai isi akan (air) ′.
3.                  Berdasarkan ′menggunakan dasar akan (pancasila) ′.
Verba berklofiks ber-kan juga tidak banyak. Di antara yang tidak banyak itu adalah verba: bermodalkan, berbantalan, bertatahkan, dll


4.                  Verba Bersufiks –kan
Dalam prosesnya, sufiks –kan, bila diimbuhkan pada dasar yang memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran) akan membentuk verba bitransitif, yaitu verba yang berobjek dua. Bila diimbuhkan pada dasar yang lain, sufiks –kan akan membentuk pangkal (stem) yang menjadi dasar dalam pembentukan verba inflektif. Verba bersufiks –kan digunakan dalam :
1.                   Kalimat imperative.
-                      Lemparkan bola itu ke sini!
-                      Tuliskan namamu di sini!
2.                  Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba, dan subyeknya menjadi sasaran tindakan.
-                      Rumah itu baru kami dirikan.
-                      Jembatan itu akan mereka robohkan.
3.                  Keterangan tambahan pada subyek atau objek yang berpola : yang + (aspek) + pelaku + verba.
-                      Uang yang baru kami terima sudah habis lagi.
-                      Kami melewati daerah yang sudah mereka amankan.
Verba bersufiks –kan memiliki makna gramtikal :
1)                  Jadikan : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan) atau (+ sifat khas). Contoh :
-                      Satukan, ‘jadikan satu’.
-                      Putuskan, ‘jadikan putus’.
2)                  Jadikan berda di : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tempat) atau (+ arah). Contoh :
-                      Tempatkan, ‘jadikan berada di tempat’.
-                      Daratkan, ‘ jadikan berda di darat’.
3)                  Lakukan untuk orang lain : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh :
-                      Bawakan, ‘lakukan bawa untuk (orang lain)’.
-                      Ambikan, ‘lakukan ambil untuk (orang lain)’.
4)                  Lakukan akan : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (*sasaran). Contoh :
-                      Hapuskan, ‘ lakukan hapus akan’.
-                      Kabulkan, ‘lakukan Kabul akan’.
5)                  Bawa masuk ke : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ ruang). Contoh :
-                      Gudangkan, bawa masuk ke gudang’.
-                      Rumakan, bawa masuk ke rumah’.
5.                  Verba Bersufiks –i
Verba bersufiks –i adalah verba transitif, yang berlaku juga sebagai pangkal (stem) dalam pembentukan verba inflektif. Verba sufiks –i digunakan dalam :
1.                  Kalimat imperative.
-                      Lompati saja pagar itu!
-                      Mari kita hampiri anak itu!
2.                  Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba, dan subyeknya menjadi sasaran perbuatan.
-                      Anak-anak yatim itu harus kita santuni.
-                      Gurumu itu mesti kamu hormati dengan baik.
3.                  Keterangan tambahan pada subyek atau objek yang berpola : yang + (aspek) + pelaku + verba
-                      Banjir melanda wilayah yang akan kita datangi.
-                      Orang yang harus kamu surati sudah ada disini.
Verba bersufiks –i memiliki makna gramtikal :
1)                  Berulang kali : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran).
-                      Potongi, ‘pekerjaan potong dilakukan berulang kali’.
-                      Lempari, ‘pekerjaan lempar dilakukan berulang kali’.
2)                  Tempat : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tempat).
-                      Duduki, ‘duduk di…’.
-                      Jalani, ‘lakukan jalan di…’.
3)                  Merasa sesuatu pada : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sikap batin) atau (+emosi).
-                                    Hormati, ‘merasa hormat pada’.
-                                    Senangi, ‘merasa senang pada’.
4)                  Beri atau bubuh pada : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+bahan berian).
-                      Nasehati, ‘beri nasehat pada’.
-                      Danai, ‘beri dana pada’.
5)                  Sebabkan atau jadikan : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan) atau (+sifat).
-                      Jauhi, ‘jadikan jauh’.
-                      Dekati, ‘jadikan dekat’.
6)                  Lakukan pada : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+tempat). Contoh :
-                      Tanggapi, ‘lakukan tanggap pada’.
-                      Siasati, ‘lakukan siasat pada’.
6.                  Verba Berprefiks per-
Verba berprefiks per- adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif. Verba prefiks per- dapat digunakan dalam :
1.                  Kalimat imperative.
-                      Perdalam ilmumu!
-                      Persingkat bicaramu!
2.                  Kalimat pasif yang berpola : (aspek) + pelaku + verba.
-                      Masjid ini akan kami perluas ke arah timur.
-                      Penjagaan akan kami perketat nanti malam.
3.                  Keterangan tambahan pada subyek atau obyek yang berpola : yang + aspek + pelaku + verba.
-                      Mobil yang belum lama kami perbaiki mogok lagi
-                      Gubernur akan meninjau bangunan yang baru kita perluas.

Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal :
1.                  Jadikan lebih : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan) atau (+situasi). Contoh :
-                      Perlambat, ‘jadikan lebih lambat’.
-                      Perluas, ‘jadikan lebih luas’.
2.                  Anggap sebagai : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sifat). Contoh :
-                      Perbudak, ‘anggap sebagai budak’.
-                      Perteman, ‘jadikan teman’.
3.                  Bagi : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+jumlah) atau (+bilangan). Contoh :
-                      Perseratus, ‘bagi seratus’.
-                      Perseribu, ‘bagi seribu’.
7.                  Verba Berkonfiks per-kan
Verba berkonfiks per-kan adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif (berprefiks me-, berprefiks di-, atau berprefiks ter-).
1.                  Kalimat imperative.
-                      Jangan persamakan saya dengan dia!
-                      Persiapkan dulu bahan-bahannya!
2.                  Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba.
-                      Masalah itu akan kami pertanyakan lagi.
-                      Usulmu itu sedang kami pertimbangkan.
3.                  Keterangan tambahan pada subyek atau obyek yang berpola : yang + (aspe) + pelaku.
-                      Tarian yang sudah mereka pertunjukan akan diulang lagi.
-                      Film yang mereka hendak persembahkan perlu disensor lagi.
Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal :
1)                  Jadikan bahan (per-an) : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kegiatan). Contoh :
-                      Perdebatkan, ‘jadikan bahan perdebatan’.
-                      Pertanyakan, ‘jadikan bahan pertanyaan’.
2)                  Lakukan supaya : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan). Contoh :
-                      Perbedakan, ‘lakukan supaya beda’.
-                      Pertegaskan, ‘lakukan supaya tegas’.
3)                  Jadikan me- : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan). Contoh :
-                      Perlihatkan, ‘jadikan (orang lain) melihat.
-                      Pertontonkan, ‘jadikan (orang lain) menonton’.
4)                  Jadikan ber- : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kejadian). Contoh :
-                      Pergunakan, ‘jadikan berguna’.
-                      Pertemukan, ‘jadikan bertemu’.
8.                  Verba Berkonfiks per-i
Verba berkonfiks per-i adalah verba yang dapat menjadi pamgkal dalam pembentukan verba inflektif (berprefiks me- inflektif, di- inflektif, atau ter- inflektif).
1)                  Kalimat imperative.
-                      Perbaiki dulu sepeda ini!
-                      Jangan permalui dia di depan umum!
2)                  Kalimat pasif yang predikatnya berpola : (aspek) + pelaku + verba.
-                      Mobil itu baru kita perbaiki.
-                      Tanah ini masih mereka persengketai.
3)                  Keterangan tambahan pada subyek atau obyek yang berpola : yang + (aspek) + pelaku + verba.
-                      Rumah yang baru kami perbaiki terkena bencana.
-                      Kasihan sekali anak-anak yang mereka perdayai itu.
Verba per-i memiliki makna gramatikal :
1)                  Lakukan supaya jadi : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen maka (+keadaan). Contoh :
-                      Perbaiki, ‘lakukan supaya jadi baik’.
-                      Perbarui, ‘lakukan supaya jadi baik’.
1)                  Lakukan (dasar) pada obyeknya : Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen maka (+tindakan) dan (+lokasi). Contoh :
-                      Persetujui, ‘lakukan setuju pada obyeknya’.
-                      Perlindungi, ‘lakukan lindungi pada obyeknya’.
9.                   Verba Berprefiks me-
Prefiks me- dapat berbentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-. Bentuk atau alomorf me- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem r, l, w, y, m, n, ny, dan ng. contoh dari prefiks me- : merakit, melekat, mewasiatkan, mengerikan, menyanyi, menanti, menyakini, mengerikan, dll.
Bentuk alomorf mem- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem [b,p,f, dan v]. dengan catatan fonem [b,f, dan v]tetap berwujud, sedangkan fonem [p] tidak diwujudkan melaikan disenyawakan dengan bunyi nasal dari prefiks. Contoh prefiks mem- : membina, memfitnah, memotong, memutuskan, membawa, dll.
Bentuk men- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem [d dan t]. Dengan catatan fonem [d] tetap diwujudkan sedangkan [t] tidak diwujudkan melainkan disenyawakan denagan bunyi nasal yang ada pada prefiks. Contoh : menduda, menerobos,menulis, dll.
Bentuk meny- digunakan apabila fonem awal bentuk dasarnya adalah fonem [c, j, dan s]. dengan catatan dalam bahasa tulis bunyi [ny] pada prefiks diganti dengan huruf [n] pada dasar dengan fonem [c dan j], sedangkan fonem [s] diluluhkan. Contoh : mencuri (menycuri), menjual (menyjual), menyikat, mensukseskan dll.
Bentuk meng- digunakan apabila bentuk dasarnya mulai dengan fonem [k, g, h, kh, a, z, u, e, dan o]. dengan catatan fonem [k] tidak diwujudkan melainkan disenyawakan dengan nasal yang ada pada prefiks, sedangkan fonem-fonem yang lain tetap diwujudkan. Contoh : menggali, mengirim, mengusir mengambil, dll.
Ada dua macam prefiks me- yaitu :
1.                  Verba berprefiks me- inflektif
a.                   Melakukan (dasar) : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh :
-                      membeli, artinya ′melakukan beli′.                
-                      menulis, artinya ′melakukan tulis′.               
b.                  Mekakukan kerja dengan alat : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ alat). Contoh :
-                      mengikir, artinya ′melakukan kerja dengan alat kikir′.
-                      memahat, artinya ′melakukan kerja dengan alat pahat′.
c.                   Melakukan kerja dengan bahan : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ bahan). Contoh :
-                      mengapur, artinya ′lakukan kerja dengan bahan kapur′.
-                      mengecat, artinya ′lakukan kerja dengan bahan cat′.
d.                  Membuat (dasar) : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan) dan (+ benda hasil). Contoh :
-                      menyambal, artinya ′membuat sambal′.           
-                      menumis, artinya ′membuat tumis′.
2.                  Verba prefiks me- derivative
Memiliki makna gramatikal :
a.                   Makan, minum , mengisap : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ makanan) atau (+ minuman) atau (+ isapan). Contoh :
-                      merokok, artinya ′menghisap rokok′.  
-                      menyoto, artinya ′makan soto ′.             
b.                  Mengeluarkan : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (bunyi) atau (+ suara). Contoh :
-                      mengeong, artinya ′mengeluarkan bunyi ngeong′.
-                       mengaum, artinya ′mengeluarkan bunyi ngaum′.
c.                   Menjadi : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan, ) atau (+ warna) atau (+ bentuk) atau (+ situasi). Contoh :
-                      menguning, artinya ′menjadi kuning′.             
-                      meninggi, artinya ′menjadi tinggi′.
d.                  Menjadi seperti : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ sifat khas). Contoh:
-                      membatu, artinya ′menjadi seperti batu′.    
-                      membaja, artinya ′menjadi seperti baja′.
e.                   Menuju : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ arah ). Contoh :
-                      mendarat, artinya ′menuju darat′.        
-                      mengudara, artinya ′menuju udara′.
f.                   Memperingati : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ bilangan), (+ hari), (+ bulan). Contoh :
-                      meniga hari, artinya ′memperingati hari ketiga (kematian)′.
-                      menujuh hari, artinya ′memperingati hari ketujuh (kematian) ′.
10.              Verba berprefiks di-
1.                  Verba berprefiks di- inflektif adalah verba pasif. Tindakan dari verba berprefiks me- inflektif, maka makna gramatikalnya adalah kebalikan dari bentuk aktif verba berprefiks me- inflektif.
2.                  Verba berprefiks di- derivatif adalah verba aktif. Contohnya adalah kata dimaksud, yang lain tidak ada.
11.              Verba berprefiks ter-
1.                  Verba berprefiks ter- inflektif : Verba berprefiks ter- inflektif adalah verba pasif keadaan dari verba berprefiks me- inflektif. Makna gramatikal verba berprefiks ter- inflektif, selain sebagai kebalikan pasif keadaan dari verba berprefiks me- inflektif, juga memiliki makna gramatikal.
(1)               dapat / sanggup : apabila bentuk dasarnya memiliki kompenen makna (+ tindakan) dan (+ sasaran). Contoh : terbaca artinya dapat dibaca, terbawa artinya dapat dibawa.
(2)               tidak sengaja : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tidakan) dan (+ sasaran). Contoh : terangkat artinya tidak sengaja diangkat, terlihat artinya tidak sengaja dilihat.           
(3)               sudah terjadi : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tidakan) dan (+ keadaan). Contoh : terputus artinya sudah terjadi (putus), terbakar artinya sudah terjadi (bakar).
(4)               yang di (dasar) : apabila digunakan sebagai istilah bidang hukum. Contoh : terpidana artinya yang dipidana, terhukum artinya yang dihukum.
2.                  Verba berprefiks ter- derivative
Verba berprefiks ter- derivatif memiliki makna gramatikal:
(1)                Paling : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan). Contoh : terbaik artinya paling baik, tertinggi artinya paling tinggi.
(2)                dalam keadaan : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan)  dan (+ kejadian). Contoh : tergeletak artinya dalam keadaan geletak, terpasang artinya dalam keadaan pasang.
(3)                terjadi dengan tiba-tiba : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ kejadian). Contoh : tertegung artinya tiba-tiba tegun, teringat artinya tiba-tiba ingat.  
12.              Verba berprefiks ke-
Verba berprefiks ke- digunakan dalam bahasa ragam tidak baku. Fungsi dan makna gramatikalnya sepadan dengan verba berprefiks ter-. Jadi, bentuknya sebagai berikut:Kebaca (terbaca), Ketipu (tertipu).
13.              Verba berkonfiks ke-an
Verba berkonfiks ke-an termasuk verba pasif, yang tidak dapat dikembalikan ke dalam verba aktif, seperti verba pasif di- dan verba pasif ter-.
Makna gramatikal yang dimilikinya adalah:
1.                  terkena, menderita atau mengalami : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+peristiwa alam) atau (+hal yang tidak enak). contohnya :
·                     kebanjiran artinya ‘terkena banjir’
·                     kebakaran artinya menderita bakar’
2.                  agak bersifat : apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+warna). contohnya :
·                     kemerahan artinya ‘agak merah’
·                     kekuningan artinya ‘agak kuning’

B.                 JENIS PERUBAHAN MORFOFONEMIK
Dalam bahasa Indonesia ada beberapa jenis perubahan fonem berkenaan dengan proses morfologi sebagai berikut :
1.                  Pemunculan fonem, yaitu munculnya fonem (bunyi) dalam proses morfologi yang pada mulanya tidak ada. Misalanya dalam proses imbuhan prefiks me- pada kata dasar baca akan memunculkan bunyi sengau [m] yang semula tidak ada.
Me + baca       menjadi           membaca
2.                  Pelepasan fonem, yaitu hilangnya fonem dalam suatu proses morfologi. Misalnya dalam proses pengimbuhan prefiks ber- pada kata dasar renang, maka bunyi [r] yang ada pada prefiks ber- dilepaskan.
Ber- + renang  menjadi          berenang
3.                  Peluluhan fonem, yaitu luluhnya sebuah fonem serta disenyawakan dengan fonem lain dalam suatu proses morfologi. Peluluhan fonem ini hanya terjadi hanya terjadi pada imbuhan prefiks me- dan pe- pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan [s] lainnya tidak ada. Misalnya :
Me- + sikat      menjadi          menyikat
Pe- + sikat       menjadi          penyikat
4.                  Perubahan fonem, yaitu berubahan sebuah fonem atau sebuah bunyi, sebagai akibat terjadinya proses morfologi. Misalnya dalam pengimbuhan prefiks ber- pada kata dasar ajar terjadi perubahan bunyi, dimana fonem [r] berubah menjadi fonem [l].
Ber- + ajar       menjadi          belajar
5.                  Pergeseran fonem, yaitu berubahnya posisi sebuah fonem dari satu suku kata ke dalam suku kata yang lainnya. Misalnya dalam pengimbuhan sufiks –an pada kata dasar jawab, terjadi pergeseran fonem [b] yang semula berada pada suku kata wab berpindah menjadi berada pada suku kata ban.
Jawab + -an     menjadi          jawaban

C.                 MORFOFONEMIK DALAM PEMBENTUKAN KATA BAHASA INDONESIA
Morfofonemik dalam pembentukan kata bahasa Indonesia terutama terjadi dalam proses afiksasi. Dalam proses reduplikasi dan komposisi hamper tidak ada. Dalam proses afiksasi pun terutama, hanya dalam prefiksasi ber-, prefiks me-, prefiksasi pe-, prefiksasi per-, konfiksasi pe-an, konfiksasi per-an, dan sufiksasi –an.
1.                  Prefiks ber-
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan prefiks ber- berupa :
a.                   Pelepasan fonem /r/ pada prefiks ber- itu terjadi apabila bentuk dasar yang diimbuhi mulai dengan fonem /r/, atau suku pertama bentuk dasarnya berbunyi [er]. Misalnya : ber + renang menjadi berenang.
b.                  Perubahan fonem /r/ pada prefiks ber- menjadi fonem /l/ terjadi bila bentuk dasarnya akar ‘ajar’ dan tidak memiliki contoh lain. Misalnya : ber + ajar menjadi belajar.
c.                   Pengekalan fonem /r/ pada prefiks  ber- tetap /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya bukan pada poin a dan b. misalnya ber + obat menjadi berobat.
2.                  Prefiks me- (termasuk klofiks me-kan dan me-i)
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan prefiks me- dapat berupa:
a.                   Pengekalan fonem di sini artinya tidak ada fonem yang berubah, tidak ada yang dilepaskan dan tidak ada yang ditambahkan. Hal ini terjadi apabila bentuk dasarnya diawali konsonan  r, l, w, y, m, n, ng, dan ny. Misalnya : me + rawat menjadi merawat, me + yakin + kan ,menjadi meyakinkan.
b.                  Penambahan fonem, yakni penambahan fonem nasal m, n, ng, dan nge. Penambahn fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /b/ atau /f/. misalnya : me + baca menjadi membaca, me + fitnah menjadi menfitnah. Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /d/. misalnya me + duga menjadi menduga. Penambahan fonem /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan g, h, kh, a, l, u, e, dan o. misalnya : me + goda menjadi menggoda, me + hina menjadi menghina, me + usir menjadi mengusir dan lain sebagainya. Penambahan fonem nasal /nge/ terjadi apabila bentuk dasarnya hanya terdiri dari suku kata. Misalnya : me + lap menjadi mengelap.
c.                   Peluluhan fonem terjadi apabila prefiks me- diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan bersuara s, k, p, dan t. dalam hal ini konsonan /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/, konsonan /k/ diluluhkan dengan nasal /ng/, konsonan /p/ diluluhkan dengan nasal /m/, dan konsonan /t/ diluluhkan dengan nasal /n/. misalanya me + sikat menjadi menyikat, me + kirim menjadi mengirim, me + pilih menjadi memilih, me + tolong menjadi menolong.
3.                  Prefiks pe- dan konfiks pe-an
Morfologi dalam proses pengimbuhan dengan prefiks pe- dan konfiks pe-an sama dengan mofofonemik yang terjadi dalam proses pengimbuhan dengan me- yaitu :
a.                   Pengekalan fonem adalah tidak ada perubahan fonem, dapat terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan [r, l, y, m, n, ng, dan ny]. Contoh : pe + latih menjadi pelatih, pelatihan.
b.                  Penambahan fonem adalah penambahn fonem nasal [m, n, ng, dan nge] antara prefiks dan bentuk dasar. Penambahan fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /b/. Misalnya : pe + baca menjadi pembaca, pembacaan. Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /d/. Misalnya : pe + dengar menjadi pendengar, pendengaran. . Penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /g, h, kh, a, l, u, e, dan o/. misalnya : pe + gali menjadi penggali, penggalian. Penambahan fonem nasal /nge/ terjadi apabila bentuk dasarnya berupa bentuk dasar satu suku. Misalnya : pe + cat menjadi pengecat, pengecatan.
c.                   Peluluhan fonem, apabila prefiks pe- (atau pe-an) diimbuhkan pada bentuk dasar yang diawali dengan konsonan tak bersuara [s, k, p, dan t]. dalam hal ini konsonan /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/, konsonan /k/ diluluhkan dengan nasal /ng/, konsonan /p/ diluluhkan dengan nasal /m/, dan konsonan /t/ diluluhkan dengan nasal /n/. contoh : pe + siram menjadi penyiram dan penyiraman, pe + kirim menjadi pengirim dan pengiriman, pe + pilih menjadi pemilih dan pemilihan, pe + tulis menjadi penulis dan penulisan.
4.                  Prefiks per- dan konfiks per-an
Morfofonemik dalam pengimbuhan prefiks per- dan konfiks per-an dapat berupa :
a.                   Pelepasan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /r/ atau suku pertamanya /er/. Misalnya : per + ringan menjadi peringan.
b.                  Perubahan fonem /r/ menjadi /l/ terjadi apbila bentuk dasarny berupa kata ajar. Misalnya per + ajar menjadi pelajar.
c.                   Pengekalan fonem /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya bukan yang disebutkan pada poin a dan b diatas. Misalnya : per + kecil menjadi perkecil.
5.                  Sufiksasi –an
Morfofonemik dalam pengimbuhan sufiks –an dapat berupa :
a.                   Pemunculan fonem, ada tiga macam fonem yang dimunculkan dalam pengimbuhan ini, yaitu fonem [w], fonem [y] dan fonem glottal[?]. pemunculan fonem [w] dapat terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan vocal [u]. misalnya : pandu + an menjadi panduwan. Pemunculan fonem [y] dapat terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhiran dengan vocal [i]. misalnya : hari + an menjadi hariyan. Pemunculan fonem glottal [?] dapat terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan vocal [a]. misalnya : (ber) dua + an menjadi berdua?an.
b.                  Pergeseran fonem, terjadi apabila sufiks –an diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan sebuah konsonan. Dalam pergeseran ini, konsonan tersebut bergeser membentuk suku kata baru dengan sufiks –an tersebut. Contoh : jawab + an menjadi ja.wa.ban.
6.                  Prefiksasi ter-
Morfofonemik dalam proses pengimbuhan dengan prefiks ter- dapa berupa :
a.                   Pelepasan, fonem dapat terjadi apabila prefiks ter- diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan [r]. contoh : ter + rasa menjadi terasa.
b.                  Perubahan fonem [r] pada prefiks ter- menjadi fonem [l] terjadi apabila prefiks ter- diimbukan pada bentuk dasar anjur. Misalnya : ter + anjur menjadi terlanjur.
c.                   Pengekalan finem [r] pada prefiks ter- tetap menjadi [r] apabila prefiks ter- diimbuhkan pada bentuk dasar yang bukan disebutkan pada poin a dan b. misalnya : ter + dengar menjadi terdengar.

D.                BENTUK BERNASAL DAN BERNASAL
Hadir dan tidaknya bunyi nasal dalam pembentukan kata bahasa Indonesia sangat erat berkaitan dengan tiga hal, yaitu :
a.                   Kaitan dengan tipe verba
Dalam bahasa Indonesia ada empat tipe verba dalam kaitannya dengan proses nasalisasi. Keempat verba itu adalah a)verba berprefiks me- (termasuk verba me-kan, dan me-i); b)Verba berprefiks me- dengan pangkal per-, per-kan, dan per-l); c) verba berprefiks ber-; dan d) verba dasar (tanpa afiks apa pun).
a)                  verba berprefiks me- (termasuk verba me-kan, dan me-i)
Kaidah penasalan untuk verba berprefiks me- (dengan nomina pe- dan nomina pe-i) yang diturunkannya adalah sebagai berikut.
Afiks
Nasal
Fonem awal bentuk dasar
Me-
Me-kan
Me-i
m
n
ny
ng
l, r, w, y, m, n, ny, ng
b, p, f
d, t
s, c, j
k, g, h, k
h,a,l, u, e, o

nge
eka suku
Dari bagian tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses pengimbuhan afiks me-, me-kan dan me-i akan terjadi.
1.                  Nasal tidak akan muncul bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem [l, r, w, y, m, n, ny, dan ng]. contoh : meloncat, peloncat, peloncatan.
2.                  Akan muncul nasal [m] bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem [b, p, f]. contoh : membina, Pembina, pembinaan.
3.                  Akan muncul nasal [n] bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem [d atau t]. contoh : mendengar, pendengar, pendengaran.
4.                  Akan muncul nasal [ny] bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem [s, c, j]. contoh menyambut, penyambut, penyambutan.
5.                  Akan muncul nasal [ng] bila bentuk dasarnya mulai dengan fonem [k, g, h, kh, a, l, u, e, atau o]. contoh : mengirim, pengirim, pengiriman.
6.                  Akan muncul nasal [nge-] bila bentuk dasarnya berupa kata eka suka. Contoh : mengetik, pengetik, pengetikan.
b)                  Verba berprefiks me- dengan pangkal per-, per-kan, dan per-l);
Kaidah penasalan untuk verba berprefiks me- yang bentuk dasarnya berupa pangkal berafiks per-, per-kan, dan per-l (dengan nomina bentuk pe- dan pe-an yang diturunkannya).
1.                  Fonem [p] sebagai awal pada dasar yang berupa pangkal per-, per-kan, atau per-l tidak diluluhkan dengan nasal [m] bila diimbuhi prefiks me-, karena [p] adalah sebagian dari prefiks pe- yang menjadi dasar pembentukan. Contoh : me + perpendek menjadi memperpendek.
2.                  Nomina pelaku yang diturunkan dari verba mempersifat potensial; dan nomina hal atau protes bersifat actual, menggunakan bentuk per-an. Contoh : memperpendek menjadi perpendekan.
3.                  Nomina pelaku yang diturunkan dari verba memper-kan atau memper-l adalah berbentuk pamer; ada yang actual ada yang masih potensial. Contoh : mempersatukan menjadi mempersatu.
4.                  Nomina hal atau protes yang diturunkan dari verba memper-kan atau memper-l berbentuk pemer-an. Contoh mempertahankan menjadi pemertahanan.
c)                  verba berprefiks ber-
Ada sejumlah akar dalam bahasa Indonesia yang dapat diimbuhi prefiks ber- dan juga prefiks me-, sehingga kita menemukan dua bentuk nomina pelaku yang bernasal (karena diturunkan melalui verba berprefiks me-) dan nomina pelaku yang tidak bernasal. Contoh : bertinju – petinju – pertinjuan, meninju – peninju – peninjuan.
b.                  Kaitan dengan upaya pembentukan istilah
Dalam peristilahan olahraga sudah ada istilah  petinju (yang diturunkan dari verba bertinju) sebagai suatu profesi, yang berbeda dengan bentuk peninju (yang diturunkan dari verba meninju) yang bukan menyatakan profesi. Lalu, berdasarkan bentuk petinju dibutlah istilah-istilah dalam bidang olahraga seperti petembak (bukan penembak), petenis  (bukan penenis), pegolf (bukan penggolf) dan lain sebagainya. Bentuk – bentuk tersebut sebenarnya menurut kaidah penasalan haruslah bernasal. Namun, sebagai istilah yang dibuat secara analogi tidak diberi nasal.
c.                   Kaitan dan upaya semantic
Untuk memberi makna tertentu bentuk yang seharusnya tidak bernasal diberi nasal. Umpamanya, bentuk mengkaji dalam arti ‘meneliti’ dibedakan dengan bentuk mengaji yang berate ‘membaca al-quran’; bentuk pengrajin dalam arti ‘ usaha kegiatan di rumah’, dibedakan dengan perajin dalam arti ‘orang yang rajin’; dari bentuk pengrumahan dalam arti ‘pemecatan dari pekerjaan’, dibedakan dengan bentuk perumahan yang berarti ‘ kompleks atau kelompok rumah. Sementara itu, tanpa perbedaan semantic, pasangan kata dengan peluluhan fonem awal bentuk dasar dan dengan yang tanpa peluluhan lazim digunakan orang secara bersaingan. Contoh mensukseskan (menyukseskan), menstabilkan (menyetabilkan) dan lain sebagainya.




DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta : Rineka Cipta.
Masnur Muslich. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta Timur : PT. Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar